MAWAR KUSUMA
Sebelum dinobatkan dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Paku Alam (PA) IX pada usia 61 tahun, pria yang terlahir dengan nama Kanjeng Pangeran Haryo Ambarkusumo ini lebih banyak tinggal di luar Istana Kadipaten Pakualaman. Sejak berusia 20-an, ia hidup dan bekerja seperti pemuda pada umumnya dengan melakoni beragam pekerjaan kasar.
Ketika diterima di perusahaan besar bidang perkapalan di negeri ini, misalnya, PA IX tak hanya duduk di belakang meja. Dia memilih menjadi pekerja kasar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Ia pernah menjadi pesuruh dan petugas kebersihan.
Mas Ambar, panggilannya, sempat menjadi karyawan di biro perjalanan. Jauh dari kehidupan gemerlap dan kemewahan istana, ia tak melupakan ajaran keutamaan hidup piwulang (ajaran) dan paweling (amanat) yang diteladaninya dari leluhur.
Dari pengalaman bekerja di kapal, ia selalu memberikan wejangan dengan mengibaratkan hidup itu seperti perahu pengangkut. ”Kemampuan nakhoda bisa dilihat dari cara menanggulangi ombak yang menghadang, apakah sang nakhoda menerjang atau menghindari ombak,” katanya.
Jika bisa melayani, dia sebisa mungkin tak bersedia dilayani. Ketika menjalankan tugas sebagai Wakil Gubernur DI Yogyakarta, misalnya, dia lebih banyak menyetir mobil sendiri. Hobi menyetir ini sempat membuat repot keluarganya. ”Meski sudah dilarang, beliau nekat nyopir seorang diri hingga ke pelosok desa,” ujar putra keduanya, BPH Haryo Seno.
Matikan ponsel
Beberapa waktu lalu, PA IX yang juga kakek dari dua cucu ini menyetir mobil pribadinya, Suzuki Karimun, seorang diri hingga ke Wonogiri, Jawa Tengah. Sulitnya lagi, ia punya kebiasaan mematikan telepon seluler (ponsel). Ponsel baru dioperasikan ketika dia hendak menelepon.
Menurut dia, menyetir mobil itu bagian dari olahraga untuk penyehatan tubuh, sedangkan ponsel tak boleh mengganggu privasinya.
Meski sempat dua minggu harus istirahat total karena otot melemah dan terpaksa memakai tongkat selama beberapa waktu, begitu terbebas dari tongkat, dia kembali melakukan semua kegiatannya seorang diri.
Di mata anak-anaknya, PA IX tergolong sosok serius, mandiri, dan terbuka. ”Jika bercerita, lebih banyak wejangan diungkapkan,” tutur putra pertamanya, BPH Suryo
Kehidupan menjauhi duniawi yang dilakoni PA IX diteladaninya secara turun-temurun dari leluhur Keraton Mataram, seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pangeran Mangkubumi, dan Pangeran Sambernyawa. Selain sederhana dan merakyat, dia juga antifeodalisme.
Ia sering mengunjungi warga dari satu desa ke desa lain. Dia bisa berjam-jam berbicara dengan petani di pinggir sawah, memperbincangkan tanaman atau ternak. Dia jengkel setiap kali mendengar pernyataan yang menyiratkan rasa rendah diri.
Anak-anak PA IX mengibaratkan cara didik ayahnya itu menyerupai pendahulunya, Paku Alam V, yang menjadi pendobrak di bidang pendidikan dengan mengharuskan putra dan putrinya belajar di sekolah formal. Pendidikan di Belanda mulai dikenalkan PA V di lingkungan Pakualaman sejak 1891. Jika tak belajar ke luar negeri, PA IX meminta anak-anaknya bergaul seluas-luasnya.
Kesehariannya tak jauh berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Dia bangun tidur pukul 05.00, pergi ke kantornya di Kepatihan pukul 07.30, dan menjalankan rutinitas pekerjaan sebagai wakil gubernur hingga sore hari. Baginya, pekerjaan harus selesai di kantor. Ia tak bersedia diganggu pekerjaan kantor jika sudah berkumpul bersama keluarga.
Waktu senggang pada sore hari biasanya dihabiskan dengan mendengarkan musik atau berkendara seorang diri.
Kaus putih dan celana pendek menjadi busana favoritnya saat bersantai. Ia juga hobi mengendarai sepeda motor bebek. Sepeda kayuh listrik turut menjadi andalannya ketika berkeliling kota.
Merasa lebih nikmat bergaul dengan rakyat, Paku Alam IX menjauhkan diri dari popularitas. Di kalangan wartawan, ia dijuluki ”Mr No Comment”. Ketika diwawancarai wartawan, ia hanya menjawab dengan senyuman sambil mengatupkan kedua tangan di dada sebagai tanda penolakan.
”Gangsir adalah binatang sejenis jangkrik, jika bersuara pada malam hari terdengar sampai jauh. Seseorang tak perlu menampakkan diri dengan kemegahannya, tetapi dengan satu-dua kata akan terdengar dan terasa getarannya,” ujarnya.
Berkebalikan dengan sikapnya yang tertutup pada pemberitaan media, PA IX membuka Puro Pakualaman seluas-luasnya bagi seniman, budayawan, dan akademisi untuk menggali dan menemukan ajaran luhur budaya Jawa yang tersimpan dalam tradisi dan naskah kuno. Puro memiliki 250 naskah mitologi, babad, ajaran, primbon, agama, dan pemikiran serta perasaan manusia Jawa.
Dengan konsep Puro Pakualaman untuk rakyat, Puro dibuka untuk kompetisi ilmiah, kajian strategi kependidikan, pembuatan karya tulis tentang filsafat, dan kependidikan bangsa.
Di bidang pendidikan, seni, dan budaya, ia membentuk pusat studi pendidikan kearifan lokal Suwardi Suryaningrat. Juga memfasilitasi Puro Pakualaman sebagai ajang pengembangan intelektual dan kebudayaan. Sekali sepekan, Puro Pakualaman membuka diri untuk diskusi budaya.
KGPAA Paku Alam IX memimpin Kadipaten Pakualaman sejak 26 Mei 1999. Wilayah ”kekuasaannya” meliputi Kecamatan Pakualaman di Kota Yogyakarta dan Karang Kemuning atau Adikarto di Kabupaten Kulon Progo bagian selatan, dengan pengikut sekitar 300 abdi dalem.
Puro Pakualaman sebagai pusat Kadipaten Pakualaman dibangun menghadap selatan sebagai penghormatan dan pengakuan kepada Keraton Yogyakarta yang lebih tua.