SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan akan membalas lewat serangan udara yang mematikan seandainya Korea Utara melancarkan serangan militer lagi.
"Kita pasti menggunakan angkatan udara untuk melancarkan serangan balasan," kata Menteri Pertahanan baru Kim Kwan-Jin, menjawab satu pertanyaan dalam dengar pendapat di parlemen tentang apa tanggapan Korsel jika terjadi serangan lagi, Jumat (3/12/2010).
Serangan balasan militer Korsel dengan menembakkan artielri setelah Korut pada 23 November menembaki sebuah pulau perbatasan Korsel yang menewaskan dua warga sipil dan dua marinir.
Korsel mengatakan pada saat itu kita tidak menggunakan kekuatan udara terhadap posisi-posisi artileri Korut karena khawatir situasi akan semakin tegang.
Tanggapan itu dianggapi sebagian besar pihak sebagai lemah dan menteri pertahanan sebelumnya mengundurkan diri untuk memikul tanggung jawab.
Kim mengatakan, Korsel akan menggunakan haknya untuk mempertahankan diri dan menghukum penyerang lewat serangan mematikan.
Namun, ia membantah adanya peluang perang berskala besar. Kekuatan militer Korsel dan pasukan AS sekutunya hanya akan mengamati provokasi yang dilakukan Korut.
"Melalui pasukan gabungan AS-Korsel, kami mengamati dengan seksama semua tanda-tanda kemungkinan provokasi oleh Korut," katanya.
"Karena apabila kita menanggapi dengan keras terhadap satu tindakan provokatif Korut, perang dalam skala besar pun belum mungkin terjadi."
Kim mengutip kesulitan-kesulitan ekonomi dan ketidak pastian menyangkut suksesi kekuasaan dari Kim Jong-Il kepada Kim Jong-Un, sebagai faktor yang menghambat Korut ke perang berskala penuh.
AS menggelar 28.500 tentara di Korsel, yang secara teknis bagian dari satu Komando PBB.
Pekan lalu pejabat Korsel berencana mengubah perjanjian dan berkonsultasi dengan Komando PBB, sebelum menggunakan jet-jet Korsel untuk perang.
Baek Seung-Joo, pengamat di Institute Korea for Defence Analyses, Jumat pemimpin Korut diduga memiliki kekawatiran, apabila Korsel melakukan serangan dalam skala penuh.
Ia menyerukan Korsel menggelar rudal-rudal di pulau Yeonpyeong dan pulau-pulau garis depan lainnya, yang dapat menghantam pos-pos komando Korut, jika terjadi provokasi bersenjata lagi.
Serangan artileri dan roket Korut terhadap pulau Yeeonpyeong adalah serangan pertama terhadap satu daerah sipil sejak Perang Korea 1950-1953.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang