Imigran Gelap Kabur

Kompas.com - 06/12/2010, 04:51 WIB

Cirebon, Kompas - Sebanyak 45 imigran gelap asal Iran dan Irak yang ditampung sementara di Kantor Imigrasi Kelas II Cirebon, Jawa Barat, kabur. Hingga Minggu (5/12) sore hanya 19 orang yang berhasil ditemukan. Rencananya, mereka akan dibawa ke rumah detensi imigrasi di Jakarta.

Kaburnya imigran gelap dari Kantor Imigrasi Cirebon itu terjadi pada Sabtu pukul 07.00. Menurut Nyoman, petugas imigrasi setempat, mereka melarikan diri dengan melompati pagar yang tertutup rapat. ”Mereka berpencar, ada yang menuju ke Kedawung, Terminal Harjamukti, dan Plered, dengan berjalan kaki,” paparnya.

Sempat terjadi kejar-kejaran antara imigran, petugas imigrasi, dan polisi. Namun, polisi tidak berani bertindak lebih jauh karena tidak ada perintah penangkapan yang resmi. Akibatnya, polisi hanya mengikuti beberapa imigran yang kabur ke arah Kedawung. ”Ada imigran laki-laki yang mengancam akan memukul jika mereka dilarang pergi,” kata Nyoman.

Kepala Kantor Imigrasi Cirebon LK Irademor Greg secara terpisah mengatakan, setelah dikejar polisi, hanya 19 orang yang berhasil ditemukan. ”Polisi sudah mencari ke sejumlah titik, tetapi belum ada hasilnya,” katanya mengenai 26 imigran lainnya yang belum tertangkap kembali.

Sekitar pukul 11.00, sebanyak 19 imigran yang ditangkap itu lalu dibawa petugas imigrasi dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) ke rumah detensi imigrasi, yakni tempat penampungan imigrasi di Jakarta.

Menurut Greg, melalui pesan yang ditunjukkan kepada pers, para imigran gelap itu berharap lembaga di PBB yang mengurusi pengungsi (UNHCR) bisa menyelamatkan mereka. ”Tetapi, hal itu sulit terealisasi sebab status mereka bukanlah pengungsi, melainkan imigran ilegal yang pergi dari negaranya dengan alasan terhindar dari konflik politik di dalam negerinya. Bahkan, dari 45 imigran, terbukti hanya 14 orang yang dilengkapi paspor dan visa,” kata Greg.

Ke-45 imigran gelap asal Iran dan Irak tersebut ditangkap di pesisir Indramayu oleh aparat Kepolisian Resor Indramayu. Mereka ditangkap saat hendak naik ke kapal yang akan mengangkut mereka menuju Australia. Para imigran yang terdiri atas 30 laki-laki dewasa, 6 perempuan dewasa, 6 bocah perempuan, dan 3 bocah laki-laki itu berharap kehidupan mereka di Australia menjadi lebih baik.

Kepala Polres Indramayu Ajun Komisaris Besar Rudi Setiawan mengatakan, para imigran itu ditangkap Sabtu dini hari setelah sebelumnya dibuntuti polisi sejak mereka dari Jakarta. Mereka masuk ke Indonesia melalui jalur udara, berangkat dari Malaysia. Setiba di Jakarta, mereka melanjutkan perjalanan lewat jalur darat dengan menyewa empat kendaraan mini bus dan akan melanjutkan lewat jalur laut.

Indramayu dipilih sebagai jalan masuk jalur laut, kata Rudi, kemungkinan karena dianggap lebih aman dibandingkan dengan Surabaya dan Semarang, yang penjagaannya relatif lebih ketat. Selain ke-45 imigran, polres juga menangkap tiga awak kapal dan empat sopir mini bus yang ditumpangi mereka.

Asal Afganistan

Dari Pekanbaru, Riau, dilaporkan, 29 imigran gelap asal Afganistan yang ditahan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru juga melarikan diri pada Sabtu tengah malam lalu setelah menjebol dinding pagar tahanan. Dari ke-29 tahanan itu, hanya seorang, yakni Mohammad Jalilei (34), yang berhasil ditangkap kembali. Ia ditangkap tidak jauh dari lokasi tahanan, sekitar tiga jam setelah kejadian.

”Mereka sudah kami fasilitasi dengan baik. Kami rutin memberi makan, bahkan mengajak mereka mengikuti olahraga voli. Tetapi, mereka tidak sabar dan kabur juga,” ujar Yanizur, Kepala Rudenim Pekanbaru, kemarin.

Para imigran yang kabur itu semuanya laki-laki dan berumur rata-rata 30-an tahun. Mereka diduga sudah mempersiapkan diri untuk kabur. Hal itu setidaknya terlihat dari pembuatan lubang dari dalam ruang tahanan menuju gudang yang berada di sebelahnya. Gudang itu belum berfungsi dan dindingnya terbuat dari kayu.

Pembuatan lubang diduga dilakukan secara bergantian dengan menggunakan paku ukuran panjang 12 sentimeter. Paku-paku itu diperkirakan merupakan sisa-sisa proyek pembangunan gudang yang ditemukan berceceran di halaman rudenim.

Lubang awal berada dalam sel tahanan berdiameter sekitar 50 sentimeter atau pas-pasan untuk satu orang. Mulut lubang itu persis berada di atas tempat tidur yang terbuat dari beton, terletak di bagian pinggir dinding yang langsung berbatasan dengan gudang. (SAH/THT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau