Cara Malaysia Rayu Pekerja Terampil

Kompas.com - 06/12/2010, 16:37 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Malaysia, Senin (6/12), meluncurkan Talent Corporation dengan sejumlah insentif untuk merayu buruh terampil bekerja di negara itu. Langkah itu merupakan upaya terbaru Malaysia untuk membendung sebuah brain drain (larinya para sarjana ke luar negeri) yang sudah mengkhawatirkan.

Saat ini, sebanyak 700.000 orang Malaysia bekerja di luar negeri, sebuah kelompok angkatan kerja yang sangat berharga, yang diharapkan pemerintah dapat dimanfaatkan untuk mendorong programnya dalam mentransformasi bangsa berpenduduk 28 juta orang itu menjadi negara dengan ekonomi berpenghasilan tinggi pada tahun 2020.

"Ini hanyal awal. Dengan pembentukan Talent Corporation, kami akan mampu meningkatkan upaya kami dalam memperkuat bakat-bakat Malaysia yang diperlukan dalam rangka transformasi ekonomi kami," kata Perdana Menteri Najib Razak. "Isu-isu talenta sangat luas dan kompleks, sehingga tujuan-tujuan ini tidak dapat dicapai oleh lembaga tunggal," katanya saat peluncuran Corporation Talent yang akan mulai beroperasi pada Januari tahun depan.

Para analis setuju bahwa tidak akan mudah untuk membalik kecendrungan brain drain, yang disebabkan oleh berbagai faktor ekonomi, politik dan sosial, termasuk kebijakan khusus untuk Muslim Melayu. Banyak dari para profesional meninggalkan Malaysia berasal dari etnis minoritas China dan India-Malaysia.

Najib mengatakan, pemerintah akan memperkenalkan "kartu penduduk" yang baru yang akan memberi pekerja terampil asing dan Malaysia yang telah melepaskan kewarganegaraan mereka, hak tinggal dan bekerja dalam jangka waktu panjang di negara itu. Kartu itu, diperbaharui setiap 10 tahun dan diterapkan April mendatang, akan memungkinkan pemegangnya untuk tetap di negara itu tanpa terikat dengan seorang majikan.

Pemerintah juga akan menghapus peraturan saat ini yang menuntut siswa yang menerima beasiswa dari pemerintah untuk kembali dan bekerja sebagai pengawai negeri. Penghapusan aturan itu akan memungkinkan mereka untuk bekerja di sektor swasta. Najib mengatakan, pemerintah tidak hanya menargetkan kembalinya warga Malaysia yang bekerja di luar negeri, terutama di Singapura dan Hong Kong, tetapi juga akan fokus pada mempertahankan bakat yang ada di negeri.

Ia menolak untuk menetapkan target terkait berapa banyak pemerintah Malaysia berharap bisa menarik kembali warganya yang telah 'lari' ke luar negeri dengan adanya program baru itu. Perdana menteri sendiri akan mengepalai dewan pengawas yang akan mengawasi perusahaan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau