MADIUN, KOMPAS.com — Sebanyak empat warga Desa Serut Sewu, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, hanyut di anak Sungai Bengawan Madiun setelah jembatan yang mereka gunakan untuk melihat banjir roboh, Selasa (7/12/2010).
Dari empat warga yang hanyut tersebut, tiga orang dapat diselamatkan meski dalam keadaan lemas. Sementara seorang lagi masih dalam pencarian tim SAR Satuan Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Madiun dan warga desa setempat.
"Diduga jembatan sudah tidak kuat akibat gerusan air sungai yang deras. Akibatnya, jembatan desa tersebut akhirnya ambrol dan menghanyutkan empat orang yang berada di atasnya," ujar salah seorang warga desa setempat, Suparni.
Menurut dia, kejadian ini bermula saat jembatan yang sudah setengah ambrol sebelumnya akibat hujan deras yang mengguyur sejak Senin (6/12/2010) malam, digunakan oleh warga sekitar untuk melihat kondisi air sungai.
Namun, kelihatannya jembatan tidak kuat lagi dan keempatnya tercebur ke dalam sungai dan hanyut oleh arus sungai yang deras.
Warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut langsung melakukan pencarian. Tim SAR dari Satuan Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Madiun juga diturunkan untuk menolong korban.
Warga yang melakukan pencarian dengan peralatan seadanya dan dibantu tim SAR akhirnya menemukan tiga korban berusia dewasa. Mereka ditemukan dalam keadaan masih hidup meski sudah lemas akibat terlalu banyak menelan air sungai. Namun, satu korban lagi hingga berita ini ditulis masih belum ditemukan.
Korban hanyut yang hingga saat ini belum ditemukan adalah balita Muhamad Risqi, anak dari Nurul Hidayah. Balita tersebut diduga sudah tewas karena arus air sungai yang cukup deras, selain juga tidak bisa berenang.
Selama pencarian ibu korban terus saja menangis dan berteriak memanggil nama anaknya. Bahkan ibu korban juga sempat jatuh pingsan karena memikirkan nasib buah hatinya tersebut.
Hingga Selasa siang jumlah warga yang ikut membantu mencari korban semakin banyak. Ambrolnya jembatan di Desa Serut Sewu ini juga memutuskan jalur alternatif ke Kabupaten Magetan dan antardesa di Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun.
Akibatnya, warga terpaksa harus memutar untuk menuju Kota Madiun atau Kabupaten Magetan, dengan jarak tempuh 5 kilometer lebih jauh dari jarak semula.