Oleh DEWI INAYATI
Dalam perspektif geografi yang lebih luas lagi, hampir 90 persen wilayah di Indonesia merupakan daerah rawan bencana, baik berupa gempa, tsunami, banjir, longsor, erupsi gunung berapi, dan lain-lain. Wilayah di pesisir selatan dan berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia merupakan daerah ”fluktuatif” yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan patahan geologi yang aktif.
Dari kejadian di atas, juga fakta-fakta sejarah masa lalu, seharusnya kita sadar bahwa kita hidup di daerah bencana. Namun sayang sekali, kesiapan kita masih lemah. Hal ini dapat kita baca dari setiap bencana alam yang terjadi, selalu saja timbul korban jiwa dan kerugian yang sangat besar. Disesalkan lagi, pemerintah dan dinas yang terkait tidak pernah belajar dari kasus-kasus sebelumnya.
Salah satu yang penting adalah perihal pendidikan bencana geologi. Dalam konteks ini, pendidikan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang bagaimana mengenali ciri-ciri awal bencana alam, bagaimana melakukan penyelamatan diri, keluarga, dan lingkungan, dan ketiga bagaimana melakukan pencegahan dan rehabilitasi berbasis diri dan lingkungan.
Bentuk perwujudan pendi-
Namun, ada fakta lain yang cukup ironis. Berdasarkan penelitian dari Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), persentase serapan materi geologi tersebut kurang dari 60 persen. Artinya, sekitar 40 persen lagi tidak dapat dipahami secara baik oleh siswa. Hal ini disebabkan oleh kualitas materi yang monoton dan proses penyampaian yang tidak menarik atau kurang variatif. Semestinya hal seperti ini tidak boleh terjadi.
Pada tahun 2006, ketika masih menjadi mahasiswa geografi di UGM, penulis bersama dengan mahasiswa geografi lainnya membuat proyek ”Mitigasi Bencana Kreatif” yang salah satu programnya adalah membuat komik tentang mitigasi bencana. Komik sederhana ini berisi pendidikan tentang gempa bumi, tsunami dan gunung berapi, khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada akhir program, setelah dilakukan evaluasi, ternyata dari 100 responden siswa (rata-rata kelas I-IV) memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kebencanaan.
Pun demikian, di pasaran umum dapat kita jumpai buku-buku pendidikan kebencanaan yang dikemas dalam bentuk komik seperti buku ”Komik Pendidikan” dalam bentuk variannya seperti komik pendidikan: bencana alam gunung api, komik pendidikan: bencana alam gempa bumi, komik pendidikan: bencana alam badai topan, dan lain-lain (ke semuanya terbitan Elexmedia Komputindo).
Oleh karena itu, perlu
Model pembelajaran di lapangan perlu mendapatkan porsi yang cukup. Misalnya, menga-
Untuk siswa sekolah dasar, sisipan materi berupa nyanyian merupakan inovasi yang cukup baik, seperti dalam lagu ”Kalau ada gempa, lindungi kepala…. Kalau ada gempa, berlindung bawah meja….” Bait lagu ini sederhana, namun memberikan pengetahuan praktis kepada anak-anak.
Di samping pendidikan formal lewat kurikulum sekolah, pendidikan bencana geologi dapat dilakukan lewat media informal, antara lain dengan memberdayakan sarana media massa, seperti koran, surat kabar, majalah, radio, televisi, dan internet. Surat kabar dan majalah, misalnya, dapat menyediakan rubrik khusus yang mengulas tentang kebencanaan. Mengulas di sini tidak terbatas hanya memberitakan, tetapi juga menyajikan
Termasuk dalam media informal ini adalah pendidikan bencana geologi berbasis masyarakat. Dalam kaitan ini, ujung tombaknya ialah PKK, karang taruna, pengurus RT dan RW, kelurahan, hingga kecamatan. Di tiap-tiap daerah rawan bencana sudah semestinya dibentuk semacam kelompok warga peduli bencana, yang salah satu tugasnya adalah menyosialisasikan dan memberikan edukasi yang benar tentang kebencanaan.
DEWI INAYATI Alumnus Fakultas Geografi Universitas Gadjah MadaYogyakarta