Urgensi Pendidikan Bencana Geologi

Kompas.com - 08/12/2010, 09:37 WIB

 Oleh DEWI INAYATI

Perkembangan letusan Gunung Merapi kian memprihatinkan. Sampai artikel ini ditulis, tidak kurang dari 200 orang tewas, ratusan lainnya luka-luka, dan lebih dari 100.000 orang berada di kantong-kantong pengungsian yang tersebar di Kota Yogyakarta, Sleman, Boyolali, Magelang, dan daerah-daerah penyangga lain di radius lebih dari 20 kilometer. Sementara itu, prediksi ahli vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana seperti yang dikatakan oleh Dr Surono, erupsi dan ledakan Gunung Merapi bisa saja terjadi dalam jumlah yang lebih besar lagi meskipun kapan waktunya belum dapat ditentukan secara cepat.

Dalam perspektif geografi yang lebih luas lagi, hampir 90 persen wilayah di Indonesia merupakan daerah rawan bencana, baik berupa gempa, tsunami, banjir, longsor, erupsi gunung berapi, dan lain-lain. Wilayah di pesisir selatan dan berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia merupakan daerah ”fluktuatif” yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan patahan geologi yang aktif.

Dari kejadian di atas, juga fakta-fakta sejarah masa lalu, seharusnya kita sadar bahwa kita hidup di daerah bencana. Namun sayang sekali, kesiapan kita masih lemah. Hal ini dapat kita baca dari setiap bencana alam yang terjadi, selalu saja timbul korban jiwa dan kerugian yang sangat besar. Disesalkan lagi, pemerintah dan dinas yang terkait tidak pernah belajar dari kasus-kasus sebelumnya.

Salah satu yang penting adalah perihal pendidikan bencana geologi. Dalam konteks ini, pendidikan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang bagaimana mengenali ciri-ciri awal bencana alam, bagaimana melakukan penyelamatan diri, keluarga, dan lingkungan, dan ketiga bagaimana melakukan pencegahan dan rehabilitasi berbasis diri dan lingkungan.

Bentuk perwujudan pendi- dikan bencana geologi dapat dilakukan melalui dua cara, pertama pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal berarti memasukkan materi pendidikan bencana geologi dalam kurikulum resmi di sekolah, setingkat SD, SMP, hingga SMA. Pada saat ini, materi tentang kebencanaan memang sudah terserap dalam materi pelajaran Geografi, misalnya informasi tentang jumlah gunung berapi di Indonesia, mengenal ciri-ciri gunung berapi, ciri-ciri longsor dan banjir, bahaya yang ditimbulkan oleh bencana, dan materi-materi lain-lain yang terkait.

Namun, ada fakta lain yang cukup ironis. Berdasarkan penelitian dari Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), persentase serapan materi geologi tersebut kurang dari 60 persen. Artinya, sekitar 40 persen lagi tidak dapat dipahami secara baik oleh siswa. Hal ini disebabkan oleh kualitas materi yang monoton dan proses penyampaian yang tidak menarik atau kurang variatif. Semestinya hal seperti ini tidak boleh terjadi.

Pada tahun 2006, ketika masih menjadi mahasiswa geografi di UGM, penulis bersama dengan mahasiswa geografi lainnya membuat proyek ”Mitigasi Bencana Kreatif” yang salah satu programnya adalah membuat komik tentang mitigasi bencana. Komik sederhana ini berisi pendidikan tentang gempa bumi, tsunami dan gunung berapi, khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada akhir program, setelah dilakukan evaluasi, ternyata dari 100 responden siswa (rata-rata kelas I-IV) memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kebencanaan.

Pun demikian, di pasaran umum dapat kita jumpai buku-buku pendidikan kebencanaan yang dikemas dalam bentuk komik seperti buku ”Komik Pendidikan” dalam bentuk variannya seperti komik pendidikan: bencana alam gunung api, komik pendidikan: bencana alam gempa bumi, komik pendidikan: bencana alam badai topan, dan lain-lain (ke semuanya terbitan Elexmedia Komputindo).

Oleh karena itu, perlu terobosan-terobosan baru dalam mencari alat edukasi tentang bencana geologi. Tidak hanya berupa buku, tetapi juga audio-visual seperti lewat rekaman CD, VCD, pertunjukan langsung, dongeng, dan bentuk-bentuk lainnya. Kurikulum geografi harus dievaluasi secara total dengan memerhatikan perkembangan kondisi geologi Indonesia terbaru, termasuk di dalamnya pembaharuan istilah-istilah yang tidak lagi relevan dengan kondisi kekinian.

Model pembelajaran di lapangan perlu mendapatkan porsi yang cukup. Misalnya, menga- jak siswa melakukan kunju- ngan ke museum bencana, terjun langsung ke sungai/kali untuk mempelajari proses sedimentasi dan abrasi, membuat simulasi bencana gunung api, banjir, dan juga tanah longsor. Dengan demikian, siswa mendapatkan pengetahuan langsung dan materi yang disampaikan akan lebih mengena.

Untuk siswa sekolah dasar, sisipan materi berupa nyanyian merupakan inovasi yang cukup baik, seperti dalam lagu ”Kalau ada gempa, lindungi kepala…. Kalau ada gempa, berlindung bawah meja….” Bait lagu ini sederhana, namun memberikan pengetahuan praktis kepada anak-anak.

Media informal

Di samping pendidikan formal lewat kurikulum sekolah, pendidikan bencana geologi dapat dilakukan lewat media informal, antara lain dengan memberdayakan sarana media massa, seperti koran, surat kabar, majalah, radio, televisi, dan internet. Surat kabar dan majalah, misalnya, dapat menyediakan rubrik khusus yang mengulas tentang kebencanaan. Mengulas di sini tidak terbatas hanya memberitakan, tetapi juga menyajikan tulisan-tulisan yang sifatnya memberikan informasi tentang kondisi terkini, bagaimana cara melindungi diri, informasi mitigasi, dan lain-lain.

Termasuk dalam media informal ini adalah pendidikan bencana geologi berbasis masyarakat. Dalam kaitan ini, ujung tombaknya ialah PKK, karang taruna, pengurus RT dan RW, kelurahan, hingga kecamatan. Di tiap-tiap daerah rawan bencana sudah semestinya dibentuk semacam kelompok warga peduli bencana, yang salah satu tugasnya adalah menyosialisasikan dan memberikan edukasi yang benar tentang kebencanaan.

DEWI INAYATI Alumnus Fakultas Geografi Universitas Gadjah MadaYogyakarta

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau