Jalan Rusak Bertambah

Kompas.com - 09/12/2010, 04:19 WIB

Jakarta, Kompas - Kerusakan jalan di Jakarta bertambah parah. Selain 53 titik kerusakan yang telah terdata, lubang baru juga ditemukan di jalan di kawasan Buncit, Jalan Gatot Subroto, dan Pancoran, Jakarta Selatan. Di Kelapa Gading, Jakarta Utara, proyek perbaikan jalan justru terbengkalai.

Lubang-lubang berdiameter 20-30 sentimeter dengan kedalaman 10-20 sentimeter mungkin terlihat cukup kecil. Namun, setiap kali roda sepeda motor terperangkap di dalamnya, kendaraan ini pun tersentak dan oleng. Kondisi seperti ini sering terlihat di sejumlah tempat di Jakarta Selatan, seperti di Jalan Deplu Raya, Rabu (8/12).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya sudah berupaya memperbaiki jalan rusak. Di jalan layang yang menghubungkan Kebayoran Lama, Permata Hijau, dan Simprug, misalnya, terlihat lubang jalan telah tertambal rapi. Namun, lubang-lubang baru terus bermunculan dan merepotkan pengguna jalan, seperti di ruas Gatot Subroto antara Cawang dan Grogol.

Sebelumnya, Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Putu Indiana mengatakan, badan jalan mudah berlubang saat tergenang air atau bekas digali untuk pemasangan jaringan kabel dan pipa. Jumlah lokasi jalan yang berlubang pun diakui mencapai ratusan, lebih banyak daripada data Polda Metro Jaya yang hanya 53 lokasi.

Menurut Putu, pemprov berupaya agar gangguan jalan itu cepat teratasi. ”Kami memiliki anggaran tahun jamak untuk menambal jalan, kapan pun diperlukan,” katanya.

Terbengkalai

Warga di Jalan Hijau Daun RT 10 dan RT 11 RW 10, Gading Barat, Kelapa Gading, mengeluhkan peningkatan jalan yang tidak kunjung selesai dalam dua bulan ini.

Menurut Triyono (46), salah seorang warga RT 10 RW 10, peningkatan jalan yang mangkrak tersebut telah menyulitkan penghuni. ”Mobil tidak bisa masuk, terpaksa diparkir di jalan raya. Di jalan raya, ternyata banyak yang mengalami pencurian spion dan aksesori mobil. Ada juga mobil warga yang kaca depannya dipecah,” katanya.

Berhentinya peningkatan jalan tersebut juga menyusahkan para pekerja proyek.

”Lebih banyak bengongnya daripada kerjanya. Padahal, kami dibayar borongan, jadi kami susah banget,” kata Nadin (48), salah seorang buruh.

Menurut Nadin dan Badri (27), mereka menganggur karena materialnya tidak dikirim oleh kontraktor. Mereka sudah minta berulang kali, tetapi kontraktor hanya berjanji saja. Sementara mandor juga tidak ada karena sudah kabur sejak lama.

”Semula kami dibayar harian. Namun setelah mandor tidak ada, kami dibayar borongan. Kemarin kami bertujuh dibayar Rp 3,9 juta untuk 1,5 bulan, tetapi langsung habis karena untuk membayar utang di warteg,” kata Nadin.

Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jalan Jakarta Utara Maman Suparman menjelaskan, anggaran proyek peningkatan jalan itu sekitar Rp 265 juta. ”Kontraktornya bermasalah. Kami sudah melayangkan surat teguran tiga kali,” kata Maman.

Dinas Pekerjaan Umum memberi waktu hingga 12 Desember karena pada 15 Desember seluruh proyek pemerintah harus tutup buku.

Pekerjaan perbaikan saluran air di Jalan Matraman I di lingkungan RW 5, Kebon Manggis, Jakarta Timur, juga terbengkalai. Akibatnya, jalan berkurang satu jalur. Jalur lain tertutup tumpukan tanah setinggi 1 meter. Saat hujan, tumpukan tanah merah itu membuat jalan menjadi licin. Saluran selebar 1 meter dibiarkan menganga sepanjang 750 meter. (ARN/NEL/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau