China danKorut Kian Mesra

Kompas.com - 10/12/2010, 04:06 WIB

Seoul, Kamis - China dan Korea Utara terus mempererat persahabatan mereka. Contoh terbaru tentang mesranya kekariban itu ditunjukkan lewat pertemuan antara penasihat kebijakan luar negeri paling senior China, Dai Bingguo, dan Pemimpin Korut Kim Jong Il di Pyongyang, Kamis (9/12).

Pertemuan terjadi kala Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya menekan Beijing agar mengendalikan sekutunya, Korut, menyusul insiden di Pulau Yeonpyeong, 23 November lalu. Saat itu Korut menghujani pulau tersebut dengan peluru meriam artileri sehingga dua marinir dan dua warga sipil Korsel tewas, 18 cedera, dan 29 bangunan hancur.

China justru dengan tegas menolak tekanan AS untuk mengintervensi Korut yang miskin. Kedatangan Bingguo ke Pyongyang dan pertemuannya dengan pemimpin tertinggi Korut Presiden Kim Jong Il adalah salah satu bentuk nyata dari sikap penolakan terhadap tekanan AS.

Kantor berita China, Xinhua, menyebutkan, pertemuan Bingguo dengan Jong Il berlangsung mesra dan jujur. ”Kedua pihak mencapai konsensus mengenai hubungan bilateral dan situasi Korea setelah melakukan serangkaian pembicaraan intensif, jujur, dan mendalam,” ungkap Xinhua dari Pyongyang.

Pertemuan itu sekaligus menepis anggapan publik belakangan ini bahwa hubungan Beijing-Pyongyang kurang mesra. Kantor berita resmi Korut, KCNA, menyatakan, pertemuan Bingguo dan Jong Il membahas ”masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama” dan upaya lanjutan untuk meningkatkan hubungan persahabatan mereka.

Lawatan Bingguo ke Pyongyang adalah peristiwa diplomatik yang menggambarkan kedekatan emosional Beijing dengan sekutunya itu. Ini untuk pertama kalinya Jong Il bertemu dengan seorang pejabat senior luar negeri sejak militernya menghujani Yeonpyeong dengan meriam artileri lebih dari dua pekan silam.

China adalah satu-satunya sekutu utama Korut, pemasok berbagai bantuan pangan dan bahan bakar.

Park Young-ho dari Institut Unifikasi Nasional Korea di Seoul mengatakan, publik tidak perlu menaruh harapan berlebihan dari konsensus itu. Kemungkinan hanya berisi kesepakatan-kesepakatan umum tentang upaya mengatasi ketegangan setelah insiden Yeonpyeong.

Kerja sama tiga pihak

Di Tokyo, perwira tinggi militer AS menuduh China telah membantu dan bersekongkol dengan ”perilaku sembrono” rezim garis keras Kim Jong Il. Ia mengatakan, Korsel dan Jepang segera membangun front pertahanan bersama melawan Korut.

”Asia Timur Laut dewasa ini semakin kurang stabil dibandingkan yang pernah dicapai selama lebih dari 50 tahun terakhir,” kata Laksamana Mike Mullen, Kepala Staf Gabungan AS. ”Ketidakstabilan paling banyak diakibatkan perilaku sembrono rezim Korut yang digerakkan oleh sekutu-sekutunya di China,” ujarnya.

Mullen mengatakan, dia merasakan adanya suatu ”desakan nyata” membangun kerja sama militer tiga pihak antara AS, Korsel, dan Jepang demi menghambat gerakan Korut. Sebelumnya, saat berada di Seoul, Mullen mengatakan ia memiliki harapan tinggi kepada partisipasi Jepang di kawasan Pasifik terkait latihan militer AS-Korsel untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan regional setelah terjadi serangan Korut ke Yeonpyeong.

”Semenanjung Korea lebih baik ditangani bersama-sama, dengan menunjukkan kekuatan dan mendapatkan satu titik di mana kita dapat menghambat perilaku Korut,” kata Mullen.

Deputi Menteri Luar Negeri AS James Steinberg juga akan memimpin satu delegasi tingkat tinggi ke Beijing pekan depan untuk berkonsultasi tentang perkembangan di Korea.

Utusan Beijing menolak seruan-seruan AS dan sekutu-sekutunya agar China mengendalikan Korut yang bandel. Duta Besar China di Tokyo Cheng Yonghua berbicara setelah AS, Korsel, dan Jepang mendesak China agar menekan Korut yang telah menyerang Yeonpyeong.

Chen mengatakan kepada harian Jepang, Asahi, bahwa China menolak upaya untuk ”mencoba menempatkan tanggung jawab kepada China ketika sesuatu terjadi di Korut”. ”Ini tidak masuk akal,” kata Cheng Yonhua.

Cheng juga mengatakan bahwa China memiliki hubungan tradisional yang baik dengan Korut. Ini adalah interpretasi tidak adil untuk mengatakan bahwa Beijing memiliki kekuatan untuk memengaruhinya.

”China tidak ikut campur dalam urusan internal negara-negara lain,” katanya. (AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau