Lahar dingin

Lahar Dingin Hancurkan Rumah dan Mushala

Kompas.com - 10/12/2010, 21:36 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com - Banjir lahar dingin yang melanda Sungai Putih, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyebabkan enam rumah dan dua mushala di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, rusak parah dan ambruk ke sungai.

Kepala Desa Blongkeng Yulianto di Magelang, Jumat (10/12/2010) mengatakan, mushala di Dusun Karangasem sudah ambruk ke sungai dan tinggal menyisakan bagian teras, sedangkan mushala di Dusun Basiran dinding bangunannya sudah retak-retak.

Enam rumah yang rusak, yakni milik Muh Sukri, Mukidin, dan Ali Mardani warga Dusun Basiran, Nur Ahmad Yuni dan Suharti warga Karangasem, dan Muhasin warga Dusun Karangrejo.

Puluhan rumah lainnya juga terancam ambruk ke sungai karena lahar dingin menerjang tebing sungai sehingga longsor.

Saat ini belum ada penangangan dari aparat terkait, bahkan kecamatan juga belum meninjau lokasi bencana.

Menurut Yulianto pihaknya sudah melaporkan kejadian itu ke Camat Ngluwar baik lisan maupun tertulis. Namun, dia tidak tahu kapan laporan tersebut akan ditindaklanjuti.

Seorang pemilik rumah yang rusak Mukidin mengatakan rumahnya, rumah orang tua, dan kakaknya rusak parah serta terancam ambruk ke sungai.

"Kami tidak berani masuk ke dalam rumah lagi. Kami setiap malam tinggal di masjid. Sejauh ini belum ada bantuan yang kami terima," katanya.

Tokoh masyarakat Desa Blongkeng, Miftahul Huda, meminta pemerintah lebih tanggap terhadap permasalahan warganya.

Menurut dia tebing sungai mulai ambrol sudah beberapa minggu lalu. Kondisinya semakin parah setelah banjir lahar besar pada Minggu (5/12) dan Rabu (8/12) sore.

Seharusnya ada sosialisasi dan penjelasan tentang penanganan tanggap bencana lahar dingin.

Masyarakat harus diberi pengertian bagaimana mengantisipasi banjir lahar dingin Gunung Merapi agar tidak ada korban jiwa.

Di wilayah Desa Blongkeng, dasar Sungai Putih tergerus hingga lima meter.

Akibatnya, sungai yang awalnya hanya sedalam sekitar 15 meter kini menjadi 20 meter.

Lebar sungai juga bertambah karena tebing di kanan kiri sungai ambrol dan hanyut terbawa lahar.

Saat ini lebar Sungai Putih mencapai sekitar 70 meter, padahal lebar sungai yang berhulu di Gunung Merapi tersebut awalnya hanya sekitar 25 meter.

Kebanyakan lahan yang ambrol ke sungai merupakan tanah pekarangan dan sawah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau