Senin lalu, banjir menyapu sejumlah tempat di Bantul. Satu anak tewas, lima jembatan putus, dan talut sepanjang 70 meter ambrol diterjang lahar dingin Kali Code. Sebelumnya, lebih dari sembilan hektar sawah produktif tertimbun pasir dan lumpur, yang secara langsung mengancam produktivitas pangan warga. Semua itu pun masih akan terus terjadi.
Sebanyak 363 rumah juga terendam, yang tersebar di Kecamatan Sewon, Ba-
Mereka meninggalkan rumah dan menetap sementara di rumah tetangga yang lokasinya lebih aman. Warga baru kembali ke rumah sekitar lima jam setelah hujan mereda.
”Banjir Senin lalu adalah yang terparah sepanjang tahun ini. Salah satu penyebabnya banyaknya muatan vulkanik yang terbawa arus sungai. Kerugian material akibat peristiwa tersebut ditaksir mencapai Rp 2,1 miliar,” kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Bantul Eddy Susanto, Senin lalu.
Bukan kali itu saja bahaya nyata mengancam warga di kanan-kiri sungai. Letusan Merapi menjadi babak baru risiko bencana warga. Ancaman bencana belum berakhir, justru baru awal.
Sebagai daerah hilir, seluruh air dari daerah utara, yakni lereng Merapi, mengalir ke Bantul. Air tersebut mengalir melalui Kali Code (7 kilometer), Winongo (18,75 km), Opak (19 km), Bedog (9,5 km), Oyo (35,75 km), dan Kali Progo (24 km). Sungai-sungai tersebut bermuara ke laut selatan.
Banjir kali ini tak cukup air saja. Tak hanya mengancam warga, bencana itu juga mengganggu sektor pertanian dalam jangka panjang, seperti Senin itu.
Murtijo, warga Dusun Ngoto, Bangunharjo, Sewon, mengatakan, lahan padinya seluas 600 meter ikut terendam lumpur. Meski kerugian tanaman berkisar Rp 200.000, ia terpaksa kehilangan satu kali masa tanam karena lahan tidak bisa langsung ditanami.
Menurut data Kecamatan Sewon, banjir lumpur juga membuat 40 ekor sapi dan 15 ekor kambing terpaksa diungsikan karena kandangnya rusak. Empat kolam ikan juga tertutup lumpur. Pemkab Bantul berjanji segera mendatangkan alat berat untuk mengeruk lumpur tersebut.
Seperti halnya warga di bantaran Kali Code di Kota Yogyakarta, warga Bantul di kawasan hilir patut waspada. Bahkan, cemas.
Bagaimana tidak? Di bagian hulu Kali Code saja material vulkanik hasil letusan Merapi diperkirakan puluhan juta meter kubik. Perkiraan umum, total material vulkanik di lereng Merapi sekitar 140 juta meter kubik.
Tak ada yang bisa dilakukan pemerintah daerah dan warga selain mengeruk dan mengeruk. Persoalannya, kecepatan mengeruk material vulkanik jauh lebih lambat dibandingkan dengan aliran dari hulu. Pengerukan hanya menggunakan alat manual dan alat berat (backhoe) yang terbatas jumlahnya.
Bagi Bantul, ancaman nyata tak hanya banjir, namun juga rawan pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan terbawa bersama aliran sungai jauh sebelum letusan Merapi. Dampaknya adalah sektor perikanan dan peternakan.
Di sektor perikanan, limbah yang mengalir melalui air sungai masuk ke kolam-kolam. Bila peternak tidak membuat sistem
Limbah cair juga mengancam sektor peternakan. Sebagai daerah hilir, ternak di Bantul cenderung rawan terjangkit cacing hati. Sebab air yang mengalir dari arah hulu bisa membawa telur-telur cacing, yang kemudian masuk ke tubuh ternak melalui pakan dan minuman.
Temuan cacing hati pada daging ternak hampir setiap tahun, tiap mendekati perayaan Idul Adha. Tahun 2009, dari 2.242 ekor sapi, ada 108 ekor yang terjangkit cacing hati.
Cacing hati juga ditemukan pada 11 ekor kambing kurban dari 3.649 ekor serta 6 ekor domba dari total 4.421 ekor. ”Tahun ini, jumlahnya juga mencapai ratusan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto.
Tak diragukan, sebagian besar tanah pertanian Bantul terkenal subur. Meskipun di kawasan hilir, bila mengacu aliran sungai, suplai air cukup untuk berbagai tanaman pertanian.
Apa yang terjadi saat ini, ancaman lahar dingin dan cacing hati terkait dengan persoalan lingkungan. Dan tanpa kerja sama lintas kabupaten/kota untuk mengatasi persoalan, ancaman itu akan terus menjadi bencana.
Kalau sudah begitu maka yang rugi adalah seluruh warga. Warga Daerah Istimewa Yogyakarta.