Lahar Dingin hingga Cacing Hati di Bantul

Kompas.com - 11/12/2010, 14:01 WIB

Senin lalu, banjir menyapu sejumlah tempat di Bantul. Satu anak tewas, lima jembatan putus, dan talut sepanjang 70 meter ambrol diterjang lahar dingin Kali Code. Sebelumnya, lebih dari sembilan hektar sawah produktif tertimbun pasir dan lumpur, yang secara langsung mengancam produktivitas pangan warga. Semua itu pun masih akan terus terjadi.

Sebanyak 363 rumah juga terendam, yang tersebar di Kecamatan Sewon, Ba- nguntapan, dan Pleret. Tinggi rendaman air mencapai 50 sentimeter. Banjir sempat membuat 875 warga mengungsi sementara.

Mereka meninggalkan rumah dan menetap sementara di rumah tetangga yang lokasinya lebih aman. Warga baru kembali ke rumah sekitar lima jam setelah hujan mereda.

”Banjir Senin lalu adalah yang terparah sepanjang tahun ini. Salah satu penyebabnya banyaknya muatan vulkanik yang terbawa arus sungai. Kerugian material akibat peristiwa tersebut ditaksir mencapai Rp 2,1 miliar,” kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Bantul Eddy Susanto, Senin lalu.

Bukan kali itu saja bahaya nyata mengancam warga di kanan-kiri sungai. Letusan Merapi menjadi babak baru risiko bencana warga. Ancaman bencana belum berakhir, justru baru awal.

Sebagai daerah hilir, seluruh air dari daerah utara, yakni lereng Merapi, mengalir ke Bantul. Air tersebut mengalir melalui Kali Code (7 kilometer), Winongo (18,75 km), Opak (19 km), Bedog (9,5 km), Oyo (35,75 km), dan Kali Progo (24 km). Sungai-sungai tersebut bermuara ke laut selatan.

Banjir kali ini tak cukup air saja. Tak hanya mengancam warga, bencana itu juga mengganggu sektor pertanian dalam jangka panjang, seperti Senin itu.

Murtijo, warga Dusun Ngoto, Bangunharjo, Sewon, mengatakan, lahan padinya seluas 600 meter ikut terendam lumpur. Meski kerugian tanaman berkisar Rp 200.000, ia terpaksa kehilangan satu kali masa tanam karena lahan tidak bisa langsung ditanami.

Menurut data Kecamatan Sewon, banjir lumpur juga membuat 40 ekor sapi dan 15 ekor kambing terpaksa diungsikan karena kandangnya rusak. Empat kolam ikan juga tertutup lumpur. Pemkab Bantul berjanji segera mendatangkan alat berat untuk mengeruk lumpur tersebut.

Seperti halnya warga di bantaran Kali Code di Kota Yogyakarta, warga Bantul di kawasan hilir patut waspada. Bahkan, cemas.

Bagaimana tidak? Di bagian hulu Kali Code saja material vulkanik hasil letusan Merapi diperkirakan puluhan juta meter kubik. Perkiraan umum, total material vulkanik di lereng Merapi sekitar 140 juta meter kubik.

Tak ada yang bisa dilakukan pemerintah daerah dan warga selain mengeruk dan mengeruk. Persoalannya, kecepatan mengeruk material vulkanik jauh lebih lambat dibandingkan dengan aliran dari hulu. Pengerukan hanya menggunakan alat manual dan alat berat (backhoe) yang terbatas jumlahnya.

Ancaman lain

Bagi Bantul, ancaman nyata tak hanya banjir, namun juga rawan pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan terbawa bersama aliran sungai jauh sebelum letusan Merapi. Dampaknya adalah sektor perikanan dan peternakan.

Di sektor perikanan, limbah yang mengalir melalui air sungai masuk ke kolam-kolam. Bila peternak tidak membuat sistem sirkulasi air yang memadai, air bermuatan limbah rumah tangga, pertanian, dan industri itu dengan cepat membunuh ikan-ikan.

Limbah cair juga mengancam sektor peternakan. Sebagai daerah hilir, ternak di Bantul cenderung rawan terjangkit cacing hati. Sebab air yang mengalir dari arah hulu bisa membawa telur-telur cacing, yang kemudian masuk ke tubuh ternak melalui pakan dan minuman.

Temuan cacing hati pada daging ternak hampir setiap tahun, tiap mendekati perayaan Idul Adha. Tahun 2009, dari 2.242 ekor sapi, ada 108 ekor yang terjangkit cacing hati.

Cacing hati juga ditemukan pada 11 ekor kambing kurban dari 3.649 ekor serta 6 ekor domba dari total 4.421 ekor. ”Tahun ini, jumlahnya juga mencapai ratusan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto.

Tak diragukan, sebagian besar tanah pertanian Bantul terkenal subur. Meskipun di kawasan hilir, bila mengacu aliran sungai, suplai air cukup untuk berbagai tanaman pertanian.

Apa yang terjadi saat ini, ancaman lahar dingin dan cacing hati terkait dengan persoalan lingkungan. Dan tanpa kerja sama lintas kabupaten/kota untuk mengatasi persoalan, ancaman itu akan terus menjadi bencana.

Kalau sudah begitu maka yang rugi adalah seluruh warga. Warga Daerah Istimewa Yogyakarta.

(ENY PRIHTIYANI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau