Talut dan Jalan VIJ I Ambrol

Kompas.com - 14/12/2010, 04:14 WIB

Jakarta, Kompas - Talut yang membatasi Kali Siantar di Kelurahan Cideng, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, ambrol, Senin (13/12) dini hari. Akibatnya, sebagian Jalan Petojo VIJ I ikut ambrol. Selain itu, dinding sejumlah rumah warga di sepanjang sungai juga retak.

Ketua RT 02 RW 06 Kelurahan Cideng Suratno mengatakan, ambrolnya talut terjadi dalam waktu sekitar tiga jam. Panjang talut yang ambrol sekitar 20 meter dan belum diketahui secara pasti penyebab talut ambrol.

”Pukul 00.00, talut mengalami penurunan sekitar setengah meter. Mobil yang diparkir di pinggir talut terlihat miring. Sebelum terlambat, pemilik dan warga segera memindahkan mobil. Sekitar pukul 02.00, talut turun lagi menjadi 1 meter dari permukaan tanah. Pukul 03.30, talut ambrol dan tembok talut tenggelam ke sungai. Setiap kali talut turun, terbentuk gelembung air di sungai,” ucap Suratno.

Ambrolnya talut sungai juga membuat separuh jalan di Petojo VIJ I ikut ambrol.

Sebelum talut ambrol, retakan di sepanjang jalan itu sudah terlihat. Setelah kejadian, retakan juga masih terlihat di badan Jalan Petojo VIJ I. Retakan jalan juga terlihat di Jalan Siantar yang terletak berhadapan dengan Jalan Petojo VIJ I.

Suratno mengatakan, pihaknya sudah melaporkan kondisi ini ke kelurahan, kecamatan, hingga Wali Kota Jakarta Pusat. Namun, hingga kemarin siang belum ada tanggapan.

Kondisi ini membuat cemas warga, terutama mereka yang tinggal di pinggir sungai. Kerusakan talut dan jalan juga berimbas pada retaknya dinding rumah dan pagar warga.

Yanriko, warga RT 02, menunjukkan retakan yang terjadi di beberapa titik di dinding rumahnya, seperti retakan di atas kamar mandi, pinggir tangga, dan ruang tengah. Retakan itu terbentuk beberapa hari sebelum talut ambrol. Setiap hari, retakan bertambah lebar.

”Setelah talut ambrol, kami sangat khawatir retakan di dalam rumah akan bertambah parah. Apalagi sekarang air bisa makin leluasa meresap ke retakan yang sudah ada sehingga membuat lubang semakin melebar,” tutur Yanriko.

Keretakan dinding tidak hanya melanda rumah yang terletak di tepi sungai. Rumah yang berada di jarak sekitar 20 meter dari sungai juga mengalami retak dinding. Sebelum ambrol, talut itu ditanami pepohonan dan termasuk area penghijauan. ”Sekarang semua pohon sudah habis ditebangi,” kata Yanriko.

Sementara itu, ruas Jalan Petojo VIJ I ditutup untuk kendaraan. Warga juga terus-menerus mengamati keretakan jalan untuk mencegah kemungkinan korban jiwa.

Cek talut

Secara terpisah, Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Pusat Agus Priyono mengatakan, pihaknya masih mengecek ambrolnya talut itu. ”Kami juga mengecek apakah ambrolnya talut itu bagian dari pengerukan Kali Siantar atau karena saluran mikro,” kata Agus.

Di sepanjang Kali Siantar, menurut dia, kini tengah dilakukan pengerukan oleh Dinas PU DKI.

Selain dikeruk, petugas juga memasang dinding beton pancang (sheet pile) untuk mencegah longsor di dinding tebing. Di lapangan, satu tiang penyangga dinding beton pancang sudah tampak renggang. (art)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau