Ketua RT 02 RW 06 Kelurahan Cideng Suratno mengatakan, ambrolnya talut terjadi dalam waktu sekitar tiga jam. Panjang talut yang ambrol sekitar 20 meter dan belum diketahui secara pasti penyebab talut ambrol.
”Pukul 00.00, talut mengalami penurunan sekitar setengah meter. Mobil yang diparkir di pinggir talut terlihat miring. Sebelum terlambat, pemilik dan warga segera memindahkan mobil. Sekitar pukul 02.00, talut turun lagi menjadi 1 meter dari permukaan tanah. Pukul 03.30, talut ambrol dan tembok talut tenggelam ke sungai. Setiap kali talut turun, terbentuk gelembung air di sungai,” ucap Suratno.
Ambrolnya talut sungai juga membuat separuh jalan di Petojo VIJ I ikut ambrol.
Sebelum talut ambrol, retakan di sepanjang jalan itu sudah terlihat. Setelah kejadian, retakan juga masih terlihat di badan Jalan Petojo VIJ I. Retakan jalan juga terlihat di Jalan Siantar yang terletak berhadapan dengan Jalan Petojo VIJ I.
Suratno mengatakan, pihaknya sudah melaporkan kondisi ini ke kelurahan, kecamatan, hingga Wali Kota Jakarta Pusat. Namun, hingga kemarin siang belum ada tanggapan.
Kondisi ini membuat cemas warga, terutama mereka yang tinggal di pinggir sungai. Kerusakan talut dan jalan juga berimbas pada retaknya dinding rumah dan pagar warga.
Yanriko, warga RT 02, menunjukkan retakan yang terjadi di beberapa titik di dinding rumahnya, seperti retakan di atas kamar mandi, pinggir tangga, dan ruang tengah. Retakan itu terbentuk beberapa hari sebelum talut ambrol. Setiap hari, retakan bertambah lebar.
”Setelah talut ambrol, kami sangat khawatir retakan di dalam rumah akan bertambah parah. Apalagi sekarang air bisa makin leluasa meresap ke retakan yang sudah ada sehingga membuat lubang semakin melebar,” tutur Yanriko.
Keretakan dinding tidak hanya melanda rumah yang terletak di tepi sungai. Rumah yang berada di jarak sekitar 20 meter dari sungai juga mengalami retak dinding. Sebelum ambrol, talut itu ditanami pepohonan dan termasuk area penghijauan. ”Sekarang semua pohon sudah habis ditebangi,” kata Yanriko.
Sementara itu, ruas Jalan Petojo VIJ I ditutup untuk kendaraan. Warga juga terus-menerus mengamati keretakan jalan untuk mencegah kemungkinan korban jiwa.
Secara terpisah, Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Pusat Agus Priyono mengatakan, pihaknya masih mengecek ambrolnya talut itu. ”Kami juga mengecek apakah ambrolnya talut itu bagian dari pengerukan Kali Siantar atau karena saluran mikro,” kata Agus.
Di sepanjang Kali Siantar, menurut dia, kini tengah dilakukan pengerukan oleh Dinas PU DKI.
Selain dikeruk, petugas juga memasang dinding beton pancang (sheet pile) untuk mencegah longsor di dinding tebing. Di lapangan, satu tiang penyangga dinding beton pancang sudah tampak renggang.