Danau limboto

Pupusnya Sejarah Gorontalo

Kompas.com - 16/12/2010, 03:33 WIB

Eksistensi Provinsi Gorontalo tak lepas dari keindahan Danau Limboto. Danau seluas 3.000 hektar dan dialiri 23 anak sungai ini adalah bagian peradaban masyarakat Gorontalo. Danau itu menjadi ikon karena berada di tengah dua daratan Kabupaten Gorontalo (Limboto) dan Kota Gorontalo.

Apabila kemudian danau ini kering dan menjadi daratan, maka pupuslah sejarah Gorontalo. Konon, kehidupan damai masyarakat Gorontalo diawali dari Danau Limboto ketika abad XVII, saat Raja Limboto Popa dan Raja Gorontalo Eyato mengakhiri perang dengan melepas cincin di danau tersebut.

Manifesto perdamaian dua raja menjadi tanda tanya setelah eksistensi Danau Limboto tergerus beratus tahun. Danau Limboto kini mengalami kerusakan luar biasa, dan tercatat sebagai 10 danau rusak di Tanah Air. Di samping terus mendangkal, Danau Limboto masih dihadang setumpuk persoalan.

Rahman Dako dan Verianto Madjowa, warga dan pemerhati lingkungan di Gorontalo, mempertanyakan sikap dua pemerintah daerah, yakni Pemerintah Kabupaten dan Kota Gorontalo yang dinilai kurang peduli terhadap keberadaan danau tersebut.

“Kami tak pernah melihat dan mendengar pemerintah kabupaten dan kota melakukan aksi penyelamatan,” katanya.

Wakil Gubernur Provinsi Gorontalo Tonny Uloli mengatakan, penanganan Danau Limboto telah diambil alih oleh pemerintah provinsi. ”Kami menyadari kemampuan keuangan kabupaten dan kota tak mampu untuk menyelamatkan Danau Limboto,” katanya.

Kedalaman Danau Limboto kini tinggal 3 meter dari 14 meter tahun 1970-an. Luas Danau Limboto telah menyempit menjadi 2.500 hektar dari 3.000 hektar, membuat daya tampung danau menjadi kecil saat musim hujan.

Lahan daratan Danau Limboto akibat pendangkalan malah dikuasai oleh para pejabat dari kabupaten dan kota, serta masyarakat yang kemudian ramai-ramai mengapling lahan daratan danau sebagai miliknya.

Menurut pantauan Kompas beberapa waktu lalu, lahan daratan Danau Limboto dari kawasan Batudaa memutar hingga ke kawasan Limboto sejauh 15 kilometer telah dipatok sebagai milik pribadi-pribadi pihak tertentu. Kondisi ini membuat hati warga menjadi miris. ”Semestinya kita menyelamatkan danau ini, bukan merampas lahan daratan,” kata Verianto.

Menurut dia, beberapa pihak luar yang berencana melakukan revitalisasi Danau Limboto terpaksa mundur karena enggan berhadapan dan terlibat konflik lahan daratan yang kini dikuasai warga tertentu.

Wagub Tonny Uloli mengatakan, pemerintah provinsi telah mengiventarisasi persoalan Danau Limboto, termasuk program revitalisasi. Untuk itu dibutuhkan dana Rp 60 miliar setiap tahun selama enam tahun berturut-turut.

”Dana ini kami usahakan dari bantuan asing dan pemerintah pusat,” katanya. Mengenai kepemilikan lahan di daratan danau, Uloli menyatakan akan bertindak tegas apabila program revitalisasi ini jalan. ”Bagaimana mau bertindak kalau tidak ada dana. Kita perlu uang untuk merelokasi masyarakat di sekitar danau,” katanya.

Budianto Napu dari Universitas Negeri Gorontalo mengatakan, semestinya pemerintah provinsi mengambil alih penanganan Danau Limboto. Rehabilitasi danau harus dilakukan secara lintas sektoral, melibatkan semua pihak, sampai masyarakat kecil. Danau Limboto adalah bagian dari sejarah Gorontalo. ”Apa kita mau hapus sejarah ini dengan keserakahan,” katanya.

Tahun 2008, DPRD Provinsi Gorontalo telah menerbitkan peraturan daerah yang melarang warga menguasai lahan daratan Danau Limboto. Akan tetapi, perda itu tidak efektif karena tidak ada tindakan tegas dari pemerintah.

(Jean Rizal Layuck)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau