BANDUNG, KOMPAS.com — Sebagian warga Kabupaten Bandung enggan dan ragu meminum obat antifilariasis atau pencegah penyakit kaki gajah yang diberikan cuma-cuma bagi masyarakat di daerah itu.
"Sudah tiga hari obat itu ada di laci, ragu karena tahun lalu banyak berita yang menakutkan kami. Jadi sekarang ragu memakannya," kata Ny Lina, salah seorang warga di Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Sabtu (18/12/2010).
Dia mengaku mendapatkan empat pasang obat antifilariasis dari kader kesehatan di RT tempat tinggalnya. Namun, belum satu pun anggota keluarganya yang berani meminum obat itu.
Padahal, setahun lalu dia dan keluarganya meminum obat yang terdiri dari tiga jenis obat itu dengan takaran yang lebih dari pemberian obat-obat biasanya.
"Dulu sih minum obat itu, enggak apa-apa memang kecuali ngantuk berat. Namun, sekarang saya belum berani entah besok atau lusa memakannya," katanya.
Tak hanya Ny Lina, keluarga lain di Kabupaten Bandung juga memilih tidak meminum obat itu dengan alasan khawatir dampaknya terhadap kesehatan mereka.
Pasalnya, pada pemberian obat tahap pertama, muncul sejumlah kasus kematian yang di media massa dihubung-hubungkan dengan pemberian obat itu.
"Sosialisasi untuk pemberian obat tahap kedua pun tidak maksimal sehingga masyarakat tetap masih ada yang takut. Meski sebagian besar memang meminum obat itu," kata salah seorang kader posyandu di Pakutandang Kecamatan Ciparay.
Di pihak lain, setelah pemberian obat itu pun tidak ada tindak lanjut dari pejabat kesehatan untuk memastikan obat tersebut diminum oleh warga di daerah itu.
"Kami hanya disuruh meminumnya, itu saja," kata Ny Yati, yang mengaku menjadi satu-satunya orang di keluarganya yang memakan obat itu.
Sebagian besar orangtua yang memiliki risiko kesehatan seperti hipertensi dan jantung juga banyak yang tidak meminum obat itu. Seperti Ny Euis (55), warga Ciparay lainnya yang tidak meminum obat itu karena punya hipertensi dan gejala jantung.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung mengimbau warga yang telah mendapat bagian obat antifilariasis itu agar meminumnya untuk mengantisipasi terjangkit penyakit yang mengakibatkan orang menjadi tidak produktif itu.
Pemberian obat antifilariasis khusus dilakukan di wilayah Kabupaten Bandung karena di daerah itu teridentifikasi beberapa kecamatan rentan penyakit kaki gajah, antara lain, kasusnya di wilayah Bandung Selatan.
Penyakit yang ditandai dengan pembengkakan otot pada bagian bawah itu penyebarannya atau vektornya melalui gigitan nyamuk.
Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pada 2009 memutuskan untuk melakukan pencegahan melalui pemberian obat antifiliariasis bagi masyarakat di Kabupaten Bandung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang