Penyakit kaki gajah

Inilah Alasan Warga Ragu Minum Obat

Kompas.com - 18/12/2010, 09:39 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Sebagian warga Kabupaten Bandung enggan dan ragu meminum obat antifilariasis atau pencegah penyakit kaki gajah yang diberikan cuma-cuma bagi masyarakat di daerah itu.

"Sudah tiga hari obat itu ada di laci, ragu karena tahun lalu banyak berita yang menakutkan kami. Jadi sekarang ragu memakannya," kata Ny Lina, salah seorang warga di Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Sabtu (18/12/2010).

Dia mengaku mendapatkan empat pasang obat antifilariasis dari kader kesehatan di RT tempat tinggalnya. Namun, belum satu pun anggota keluarganya yang berani meminum obat itu.

Padahal, setahun lalu dia dan keluarganya meminum obat yang terdiri dari tiga jenis obat itu dengan takaran yang lebih dari pemberian obat-obat biasanya.

"Dulu sih minum obat itu, enggak apa-apa memang kecuali ngantuk berat. Namun, sekarang saya belum berani entah besok atau lusa memakannya," katanya.

Tak hanya Ny Lina, keluarga lain di Kabupaten Bandung juga memilih tidak meminum obat itu dengan alasan khawatir dampaknya terhadap kesehatan mereka.

Pasalnya, pada pemberian obat tahap pertama, muncul sejumlah kasus kematian yang di media massa dihubung-hubungkan dengan pemberian obat itu.

"Sosialisasi untuk pemberian obat tahap kedua pun tidak maksimal sehingga masyarakat tetap masih ada yang takut. Meski sebagian besar memang meminum obat itu," kata salah seorang kader posyandu di Pakutandang Kecamatan Ciparay.

Di pihak lain, setelah pemberian obat itu pun tidak ada tindak lanjut dari pejabat kesehatan untuk memastikan obat tersebut diminum oleh warga di daerah itu.

"Kami hanya disuruh meminumnya, itu saja," kata Ny Yati, yang mengaku menjadi satu-satunya orang di keluarganya yang memakan obat itu.

Sebagian besar orangtua yang memiliki risiko kesehatan seperti hipertensi dan jantung juga banyak yang tidak meminum obat itu. Seperti Ny Euis (55), warga Ciparay lainnya yang tidak meminum obat itu karena punya hipertensi dan gejala jantung.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung mengimbau warga yang telah mendapat bagian obat antifilariasis itu agar meminumnya untuk mengantisipasi terjangkit penyakit yang mengakibatkan orang menjadi tidak produktif itu.

Pemberian obat antifilariasis khusus dilakukan di wilayah Kabupaten Bandung karena di daerah itu teridentifikasi beberapa kecamatan rentan penyakit kaki gajah, antara lain, kasusnya di wilayah Bandung Selatan.

Penyakit yang ditandai dengan pembengkakan otot pada bagian bawah itu penyebarannya atau vektornya melalui gigitan nyamuk.

Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pada 2009 memutuskan untuk melakukan pencegahan melalui pemberian obat antifiliariasis bagi masyarakat di Kabupaten Bandung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau