Gayus Berlagak Santa

Kompas.com - 19/12/2010, 03:58 WIB

Pelataran di depan Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, terlihat berbeda dua pekan ini. Di salah satu sudut lantainya ada lubang berukuran sekitar 7 x 4 meter yang menganga. Dari lubang itu, muncul kepala Gayus HP Tambunan—sosok terdakwa korupsi terkait mafia pajak dan mafia hukum di negeri ini.

Hanya saja, berbeda dengan foto terkenalnya di Bali yang mengenakan rambut palsu dan kacamata, kali ini Gayus menyamar bak seorang Santa. Kepalanya dibalut topi merah dengan hiasan bulu putih. Di punggungnya, ada sekarung kotak-kotak hadiah berhiaskan pita warna-warni.

Tangan lelaki itu memegang pinggiran lubang di lantai itu. Sepertinya dia memang hendak keluar. Mungkin saja, sebagaimana seorang Sinterklas yang senang bagi-bagi hadiah untuk anak-anak pada hari-hari Natal, Gayus juga bersiap memberi kejutan dengan kado-kadonya.

Gambaran tadi adalah sebuah lukisan di atas lantai. Ini hasil garapan sekelompok seniman dari Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yaitu Totok Muhammad Setiawan, Toni Siswoyo, dan Guntur Wibowo. Judulnya ”Berlagak Santa”.

Lukisan ini menjadi salah satu karya yang menonjol dalam pameran ”Breakin The Wall” yang digelar Dewan Kesenian Jakarta serta Dinas Wisata dan Budaya DKI, 8-18 Desember. Selain tiga seniman itu, ikut serta pula kelompok Atap Alis (Jakarta), Xserut (Tangerang), Lintas Melawai (Jakarta), Popo dan Kampungsegart (Jakarta), serta Amel N friend (Bandung). Karya mereka dipajang sebagai seni publik di area terbuka di sekitar Teater Jakarta.

Kenapa karya ”Berlagak Santa” itu menarik? Tentu saja, pertama-tama karena karya ini mengulik persoalan aktual di negeri ini. Gayus, mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak, adalah terdakwa korupsi terkait mafia pajak dan mafia hukum. Sosok kontroversial itu menggemaskan sekaligus mengejutkan.

Dia begitu lihai mengutak-atik urusan perpajakan sambil mengutip keuntungan miliaran rupiah. Saat bersamaan, dia juga menyeret orang-orang penting, bahkan jaksa dan kepolisian sebagai aparat penegak hukum. Kisah panjangnya itu memperkuat dugaan adanya mafia hukum di negeri ini.

Sepak terjang terakhirnya sangat menghebohkan. Dia melenggang keluar dari Rumah Tahanan Negara Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, dan menonton pertandingan tenis di Bali, beberapa waktu lalu. Diduga, dia bisa leluasa begitu setelah bagi-bagi uang kepada pengelola tahanan. Mungkin saja kisahnya masih berlanjut.

Lukisan tadi menyodorkan sentilan soal Gayus. Sebagai Santa, dia membawa banyak hadiah. Padahal, hadiah-hadiah itu sebenarnya adalah modus untuk menyulam jaringan korupsi. Kita bisa menafsir lebih jauh.

Ilusi

”Berlagak Santa” juga menarik dari pendekatan estetiknya. Tak mengandalkan kanvas yang biasa ditempel pada dinding sebagaimana lukisan konvensional, karya itu justru menjadikan lantai di ruang terbuka sebagai kanvasnya. Teknik penggambarannya pun memanfaatkan sudut pandang orang-orang yang lewat.

Dari sisi kiri atau kanan, lukisan itu tampak gepeng. Tetapi, jika dicermati dari sisi depan, berjarak sekitar 3 meter, lukisan itu menjadi begitu hidup dan nyata. Sosok Gayus seperti benar-benar menyembul dari lubang yang menjorok ke dalam.

Teknik yang dikenal sebagai ilusi tiga dimensi (3D) ini memang bisa menghasilkan karya memikat, terutama di ruang publik. Diperlukan strategi penggambaran yang pas untuk bisa menipu mata penonton. Totok Muhammad Setiawan, Toni Siswoyo, dan Guntur Wibowo mengerjakan proyek ini selama dua hari.

”Kami buat sketsa awal, lalu kami cari sudut kemiringan visual yang pas. Dari situ, kami buat perspektif gambar dengan pedoman benda yang jauh tampak kian mengecil,” kata Totok.

Ada dua kelompok lain yang juga membuat lukisan ilusi tiga dimensi semacam ini. Komunitas Xserut dari Tangerang membuat lukisan gedung bawah tanah di bawah struktur bangunan Teater Jakarta, sementara komunitas Lintas Melawai menggambar Mbah Maridjan tiduran di atas sungai lahar. Sayangnya, ilusi optis kedua lukisan itu masih belum sekuat lukisan Gayus tadi.

Lukisan ilusi tiga dimensi sudah lama menggejala di kota-kota besar dunia, katakanlah seperti New York, Amsterdam, atau London. Pendekatan ini diminati karena dianggap efektif untuk menggoda lalu lalang orang di ruang publik, terutama jalanan. Dengan tipuan ilusi tiga dimensi, orang bisa masuk dalam dunia rekaan lukisan.

Kurator pameran, Bambang Asrini Widjanarko, menengarai karya-karya semacam ini sebagai perpanjangan dari gejala street art atau seni jalanan. ”Ini bisa menjadi alternatif untuk mencari kemungkinan-kemungkinan praktik seni rupa baru yang tumbuh bebas di jalanan,” katanya. (Ilham Khoiri)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau