YULIA SAPTHIANI & LUSIANA INDRIASARI
JAKARTA, KOMPAS.com — Pernah mengalami macet ketika berjalan kaki di trotoar? Barangkali pengalaman itu hanya terjadi di Jakarta.
Macet biasanya berasosiasi dengan kendaraan bermotor di jalan raya. Namun, di Jakarta kemacetan bisa merambah hingga ke trotoar jalan. Bedanya di jalan raya kemacetan disebabkan oleh padatnya kendaraan. Sementara macet di trotoar disebabkan para pejalan kaki menemui banyak halangan di sepanjang trotoar.
Kamis (16/12) sore, Jalan Gelora di belakang Gedung MPR/DPR ramai dilalui pejalan kaki yang hendak menonton sepak bola di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Mereka berjalan beriringan di trotoar jalan yang lebarnya kurang dari 1 meter.
Tiba-tiba iring-iringan terhenti karena ada pejalan kaki dari arah lain di trotoar yang sama. Pejalan kaki dari dua arah yang berbeda ini harus bergantian melewati trotoar karena di depan mereka ada lubang menganga sepanjang 3 meter. Lubang itu hanya menyisakan celah sempit yang hanya bisa dilewati satu per satu. Sebagian pejalan kaki terpaksa bergantian melewati badan jalan. Lubang di trotoar ini ada beberapa titik di sepanjang Jalan Gelora yang tak jauh dari gedung wakil rakyat itu.
”Fasilitas dekat gedung wakil rakyat kok seperti ini,” ujar seorang ibu yang sore itu melintas di Jalan Gelora. Ibu ini bahkan lebih sering memilih berjalan di badan jalan meski sudah diperingatkan putranya untuk naik ke trotoar.
Meski tak termasuk jalan protokol, Jalan Gelora termasuk jalan yang ramai dilalui pejalan kaki, terutama pada Minggu pagi. Jalan ini menjadi pilihan warga dari Palmerah dan sekitarnya berjalan kaki menuju Senayan untuk berolahraga.
Kemacetan lain terjadi di depan Mal Ciputra, Jakarta Barat. Trotoar yang dipagari oleh pengelola mal agar tidak diokupasi pedagang kaki lima ini di setiap lajurnya hanya bisa dilalui 1-2 orang karena sempit. Kalau ada pejalan kaki yang ingin santai-santai jalan di trotoar itu, sudah pasti membuat pejalan kaki lainnya jengkel karena macet.
Rintangan yang menghalangi pejalan kaki di trotoar ini bermacam bentuknya. Selain pedagang kaki lima, mobil/motor parkir di trotoar, ada lagi tumpukan sampah atau tanah bekas galian, serta pot bunga besar diletakkan di trotoar. Belum lagi pengendara motor yang ikut melaju di atas trotoar.
Kondisinya makin mengenaskan justru di wilayah yang banyak dilalui pejalan kaki, seperti di Grogol, Blok M, Jalan Mayjen Sutoyo di depan Universitas Kristen Indonesia (UKI), Salemba Raya di sekitar Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Palmerah hingga Rawa Belong, serta Asia Afrika dari persimpangan Jalan Pintu Satu hingga Mal Senayan City.
Di Jalan Melawai Raya, pedagang dan kendaraan parkir di trotoar meski di tembok luar beberapa bangunan terpasang lembaran kertas peringatan bahwa ada Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang keamanan dan ketertiban yang melarang parkir dan berjualan di trotoar.
Namun, kenyataannya, pedagang bisa tetap membuka ”lapak” kecil di situ, yaitu berupa lemari kecil yang diberi roda agar mudah dipindahkan bila ada penertiban. Menurut seorang pedagang, mereka tetap diizinkan berdagang. Hanya saja, bila sedang ada kegiatan Adipura, yaitu lomba kebersihan dan keindahan kota, mereka diminta libur selama satu bulan. ”Imbauan itu datang dari kecamatan,” kata pedagang tadi.
Nyaman
Kondisi di tempat-tempat padat tersebut kontras dengan beberapa wilayah yang frekuensi pejalan kakinya rendah, seperti di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat. Trotoar di kedua sisi Jalan Imam Bonjol hingga Diponegoro yang cukup nyaman, apalagi teduh karena banyak pepohonan, sepi dari pejalan kaki. Beberapa mobil mewah tampak parkir di sebagian trotoar ini.
Kawasan lain yang trotoarnya cukup nyaman tentunya adalah sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Lebar trotoar di jalan ini mencapai lebih dari 5 meter dan kondisinya pun terawat.
Di bagian tertentu, seperti di dekat halte bus transjakarta Dukuh Atas, trotoarnya juga berkanopi untuk melindungi pejalan kaki dari hujan. Usaha menghindarkan pedagang menguasai trotoar juga dilakukan dengan memasang tali meski ada beberapa titik yang sudah menjadi tempat jualan tetap para pedagang, seperti di daerah Benhil, Ratu Plaza, dan Mal FX.
Berjalan kaki di trotoar yang nyaman juga bisa dilakukan di daerah Kali Malang, Pasar Rumput, atau tepatnya di sepanjang Jalur Hijau Tepian Air, Banjir Kanal Barat. Kita bisa berjalan santai dari depan Waduk Setia Budi Barat ke arah Pasar Rumput, sampai terminal bus Manggarai. Pohon-pohon flamboyan menaungi bahu jalan, sementara pot-pot bunga yang catnya sudah kusam menjadi pemanis trotoar. Zamira (50), yang tinggal di Jalan Guntur, sedikitnya sekali dalam sepekan mengajak anjingnya berjalan-jalan di sepanjang Banjir Kanal Barat.
Pembangunan trotoar yang nyaman di Jakarta, menurut pengamat perkotaan yang berprofesi sebagai arsitek lanskap kota, Nirwono Joga, bukan tidak mungkin dilakukan. Hanya saja, butuh upaya ekstrakeras untuk mewujudkannya.
Ia mengambil contoh pelaksanaan proyek pedestrianisasi Sudirman-Thamrin yang sempat ditentang pemilik gedung di sepanjang jalan tersebut. Mereka khawatir karena pemerintah mengambil sebagian lahan untuk memperluas trotoar sekaligus melarang adanya pagar yang membatasi gedung dengan trotoar.
Pemilik gedung khawatir areal mereka akan diokupasi pedagang kaki lima dan berbagai kepentingan lainnya. ”Masyarakat kecil tidak bisa melihat lahan luas. Begitu ada lahan luas pasti akan dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan ekonominya,” kata Joga.
Dari situlah ia menilai masih ada gegar budaya pada masyarakat Kota Jakarta. ”Sebagai kota besar, Jakarta ingin menyamai standar perkotaan dunia. Namun, keinginan itu belum nyambung dengan budaya masyarakat kita yang belum melihat begitu pentingnya fungsi trotoar.” kata Joga. (MYR/SF)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang