Pemberdayaan

Pasar Tenda, Kado Natal buat "Mama-mama"

Kompas.com - 21/12/2010, 05:57 WIB

Matahari terik menyengat Kota Jayapura, Papua. Di bawah tenda putih raksasa yang terpasang di halaman Kantor Penerangan, Jalan Percetakan, Jayapura, sekitar 50 perempuan pedagang Papua dengan penuh sukacita menari Yosim Pancar sambil berkeliling dan meliuk-liuk mendendangkan lagu-lagu tradisional Bumi Cenderawasih. Mereka girang karena delapan tahun perjuangan dan pengharapan memiliki lokasi berjualan yang layak akhirnya membuahkan hasil.

Mama-mama, sebutan untuk kaum perempuan yang berdagang itu, mulai Senin (20/12) menempati meja-meja berjualan. Mereka menggelar berbagai dagangan, mulai dari pinang, sayuran, buah, hingga aneka kerajinan tangan. Pemerintah Provinsi Papua akhirnya menyediakan pasar sementara di Jalan Percetakan, tepat di halaman Kantor Penerangan (kini Dinas Komunikasi dan Informatika).

Tenda berwarna putih yang disangga tiang-tiang baja itu mampu menampung lebih dari 100 pedagang. Tenda ini mampu bertahan hingga lima tahun mendatang. Saat itu Pemprov Papua mampu menyediakan pasar permanen bagi mama-mama.

Pedagang yang mengisi pasar sementara sebagian besar penjual sayur dan buah yang setiap petang hingga malam biasanya berjualan dengan duduk berselonjor di halaman parkir Swalayan Gelael dan emperan toko di sekitarnya. Mereka telah bertahun-tahun berjualan di halaman dan emperan beratapkan langit tanpa penerangan.

Sejak 2002, mereka berjuang menuntut pemerintah agar menyediakan pasar bagi mama-mama pedagang asli Papua. Bahkan, tahun 2008 pernah dibentuk Panitia Khusus DPR Papua tentang mama-mama pedagang asli Papua, tetapi tidak membuahkan hasil.

Pemkot Jayapura pernah bersedia membangunkan pasar di daerah Base-G, atau berjarak sekitar 7 kilometer dari Gelael. Karena terlalu jauh dari kota, pasar itu ditolak oleh mama-mama yang didampingi Serikat Keadilan Perdamaian (SKP) Keuskupan Jayapura.

Pada 14 September 2009, sekitar 200 perempuan pedagang yang tergabung dalam Solidaritas Mama-mama Pedagang Asli Papua (Solpap) nekat menggelar demonstrasi di Gedung Negara, tempat biasanya Gubernur Papua Barnabas Suebu berkantor. Saat itu mama-mama dijanjikan dicarikan lokasi dekat Gelael, atau tetap di dalam kota.

Pemprov memilih lokasi bekas kantor bus Damri yang berjarak sekitar 300 meter dari Gelael, masih di Jalan Percetakan. Namun, ternyata areal kantor Damri masih dikelola Kementerian Keuangan.

Akhirnya Pemprov Papua mendirikan pasar sementara di halaman Kantor Penerangan yang berjarak 200 meter dari Gelael. Barnabas Suebu berharap, kurang dari lima tahun ke depan, lokasi kantor bus Damri telah dikembalikan ke pemprov dan bisa segera dibangun pasar permanen bagi mama-mama.

Niat baik

Bruder Rudolf Kambayong, pendamping Solpap dari SKP, mengatakan, pembangunan pasar sementara telah menunjukkan niat baik pemprov memerhatikan nasib mama-mama. Ia menilai berjualan di bawah tenda jauh lebih baik ketimbang berjualan di emperan toko.

Yuli Mambrasar (55), mama yang biasa berjualan pinang di emperan Toko Aneka, dekat Swalayan Gelael, mengaku senang dengan penyediaan pasar sementara. Yuli yang sejak 1990 berjualan dengan menumpang di emperan toko kini memiliki tempat berjualan sendiri.

Saat malam hari ada lampu yang tergantung di bawah tenda. Dengan tempat berjualan yang lebih nyaman dan lokasi pasar berada dalam kota, ia pun sangat yakin pasar sementara ini akan ramai dikunjungi pembeli.

Gubernur Barnabas Suebu mengatakan, pasar sementara dikhususkan bagi mama-mama pedagang asli Papua. ”Untuk saudara-saudara kita pendatang bisa berjualan di tempat lain. Ini merupakan kebijakan affirmative action (pemberdayaan, keberpihakan, dan pendayagunaan bagi orang asli Papua),” ujarnya.

Gubernur menjelaskan, penyediaan pasar sementara akan menjadi contoh dan pendidikan cara berdagang bagi orang asli Papua. Mama-mama pun didorong untuk mengelola koperasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Selain menyediakan lokasi, pemprov juga menyerahkan stimulus berupa bantuan uang tunai Rp 5 juta bagi tiap pedagang, truk pengangkut barang, dan rekomendasi untuk mendapatkan kredit ringan dari Bank Papua.

Gubernur bakal berusaha memperjuangkan pengembalian aset kantor bus Damri supaya dapat digunakan untuk pasar permanen bagi masyarakat. Namun, ia meminta mama-mama untuk sementara tetap berusaha dan berdagang di bawah tenda. Ia mengharapkan pasar sementara menjadi kado Natal yang indah dan berguna bagi mama-mama serta keluarganya.

(Ichwan Susanto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau