MEDAN, KOMPAS.com - Asnita (50) warga Kecamatan Medan Maimon, hampir selama lebih kurang 31 tahun menderita kaki gajah yang disebabkan cacing filariasis tersebut.
"Saya setiap hari, hanya dapat menahan sakit karena penyakit kaki gajah yang dideritannya itu tidak juga sembuh. Selama ini saya hanya bisa terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa," katanya di Medan, Senin (27/12/2010).
Menurut Asnita, penyakitnya itu berawal sejak 1979, saat ia sedang mencuci pakaian di sungai di belakang rumahnya.
Ketika itu ia merasakan ada sesuatu benda menyentuh kaki sebelah kanan yang akhirnya menyebabkan gatal-gatal dan merah.
Ia hanya mengobati kakinya itu dengan balsem, namun bukannya sembuh, beberapa hari kemudian malah merasakan sakit di bagian pangkal pahanya.
"Ada kelenjar sebesar telur cicak di pangkal paha saya dan itu rasanya sakit sekali," katanya.
Meski tidak setiap hari, namun jika sakit di kakinya kambuh, merasa sangat kesakitan. Bahkan, rasa sakit itu hingga sampai kepala.
"Kalau sudah sakit, saya sampai membenturkan kepala ke dinding. Tidak tahan dan sakit sekali," katanya.
Kian hari pembengkakan dikakinya terus membesar dan hingga tahun 1985 ia sudah tidak dapat melakukan aktivitas lagi dan hanya mampu terbaring lemah di tempat tidur.
"Karena tidak memiliki biaya, saya hanya memeriksakan kaki saya yang bengkak ini ke sinshe dan memasuki akhir tahun 1995 ternyata kaki yang bengkak ini sudah mulai mengecil dan bisa beraktivitas lagi," katanya.
Ia juga bercerita pada tahun 1996, ia mencoba mencari nafkah sebagai TKI ke Malaysia.
Namun karena di Malaysia ia sakit-sakitan, majikannya akhirnya memulangkanya ke tanah air.
"Saya satu tahun dua bulan di Malaysia. Tapi sudah tiga kali masuk rumah sakit, makanya dipulangkan. Waktu di Malaysia, saya diopname dan menghabiskan 15 botol infuse. Tapi tujuh orang dokter di sana mengaku tidak tahu penyakit apa yang saya derita," ujarnya.
Selain itu, ia juga pernah berobat ke salah satu rumah sakit di Medan, tapi disitu pun dokternya tidak tahu, diinfus sampai 11 botol.
Meski saat ini sakit yang dideritanya mulai berkurang, namun ia tetap tidak mau berobat ke dokter dan mengaku sudah pasrah dengan penyakitnya tersebut.
"Kalau sakitnya kambuh, saya ke puskesmas saja dan minum obat dari Malaysia yang dibeli di apotik. Sekarang sudah lumayan, tapi kalau musim dingin kaki saya bengkak, kalau musim panas airnya keluar dan kempis lagi," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang