Jakarta, Kompas
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan hal itu di Jakarta, Selasa. Lion Air adalah maskapai penerbangan nasional dengan 300 penerbangan domestik dan internasional per hari.
”Memang tadi di Bali dan NTT (Nusa Tenggara Timur) cuaca buruk. Langit gelap, angin kencang, dan hujan deras sekali. Makanya penerbangan terpaksa kami tunda,” ujarnya.
Edward menjelaskan, mereka juga harus menurunkan barang untuk menambah bahan bakar pesawat. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan pesawat harus kembali ke bandar udara asal atau mendarat di bandar udara alternatif apabila cuaca buruk mengganggu pendaratan di bandar udara tujuan.
Menurut Edward, penumpang kerap tidak mengerti penyebab penundaan akibat cuaca. Penumpang selalu melihat cuaca di bandar udara asal tanpa mengetahui kondisi iklim di bandar udara tujuan.
Namun, maskapai Garuda Indonesia justru tidak mengalami gangguan jadwal akibat cuaca. Manajer Senior Hubungan Masyarakat PT Garuda Indonesia M Ikhsan mengatakan, penerbangan Garuda berjalan lancar sepanjang Selasa.
Akan tetapi, Ikhsan mengakui, cuaca buruk kali ini bakal semakin mengganggu jadwal penerbangan akhir tahun 2010.
Pengecekan lebih teliti kondisi cuaca pun harus dilakukan demi keselamatan penerbangan. Manajer Senior Komunikasi Perusahaan Ruth Hanna Simatupang menjelaskan, mereka mengecek data cuaca setiap 15 menit.
Daerah yang berpotensi mengalami gangguan jarak pandang atau turbulensi penerbangan di antaranya Bangka Belitung, Lampung, Makassar, Nusa Tenggara Barat, Ambon, Bali, dan NTT.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, angin berkecepatan 15-20 knot (28-37 kilometer per jam), gelombang laut 2 meter-3,5 meter, dan hujan lebat melanda Indonesia selama empat hari mendatang.
Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG Mulyono Prabowo menjelaskan, hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi akan terjadi merata di seluruh Indonesia di bagian selatan khatulistiwa. Potensi gelombang tinggi terjadi di perairan wilayah Jawa dan Selat Karimata.
Angin bertiup di atas kecepatan normal 5-10 knot (9-19 kilometer). Hal ini berpotensi memicu awan yang mampu membuat hujan dengan curah 50-100 milimeter per hari.
Saat dikonfirmasi, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Sunaryo mengakui, gelombang laut masih terpantau tinggi. Ia meminta operator jasa angkutan laut untuk berhati-hati dan tidak memaksakan diri berlayar saat cuaca buruk. Penumpang juga diimbau bersabar dan tidak memaksa berangkat.