”Bukan hanya Indonesia, perekonomian negara-negara lain juga menghadapi ancaman inflasi yang dipicu kenaikan harga komoditas energi dan pangan akibat permintaan dan spekulasi,” ujar ekonom dan pengamat pasar modal, Mirza Adityaswara, di Jakarta, Minggu (2/1).
Inflasi merupakan perhitungan laju kenaikan harga barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Inflasi berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi inflasi yang kurang terkendali juga dapat menekan daya beli masyarakat.
Pemerintah dan DPR telah menyepakati asumsi inflasi dalam APBN 2011 sebesar 5,3 persen, sama dengan asumsi tahun 2010. Demikian juga harga minyak mentah Indonesia yang dipatok 80 dollar AS per barrel, sama dengan tahun lalu.
Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan memperkirakan inflasi pada Desember masih berlanjut. Dengan demikian, inflasi tahun 2011 diperkirakan dapat melampaui 6,5 persen. Itu berarti angka inflasi setahun lalu jauh melampaui target asumsi APBN sebesar 5,3 persen.
Tingginya angka total inflasi 2010 itu terutama karena tingginya inflasi bahan pangan (volatile food) yang mencapai 15 persen, lebih tinggi dari asumsi pemerintah sebelumnya sekitar 8 persen.
Menurut Mirza, penyebab kenaikan harga komoditas belakangan ini karena permintaan memang menggeliat, seiring ekspektasi perbaikan ekonomi di Amerika Serikat dan negara-negara Asia yang memang terus menguat pertumbuhan ekonominya.
Pelaku pasar juga melakukan lindung nilai aset finansial akibat pelemahan dollar AS.
Bagi Indonesia, ujar Mirza, manajemen stok harus kuat agar tidak tertekan kenaikan harga. Khusus minyak, pilihannya hanya dua, yaitu menaikkan harga yang berarti rakyat yang menanggung atau beban itu ditanggung fiskal alias APBN berupa subsidi.
Terhadap gejolak harga komoditas pangan, Mirza menyatakan, harus ada stok yang cukup dengan menggenjot produksi walaupun tidak mudah karena faktor cuaca yang tidak menentu.
Minyak mentah di pasar internasional sempat menyentuh level 94 dollar AS per barrel, angka tertinggi sejak tahun 2008. Berbagai kalangan menilai harga minyak mentah bakal terus meningkat, terkait cuaca dingin di Eropa dan Amerika serta naiknya permintaan.
Harga minyak mentah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan komoditas pada 11 Juli 2008 seharga 147,27 dollar AS per barrel.
Lonjakan harga minyak mentah sampai 100 dollar AS, seperti diprediksi berbagai kalangan, bisa tercapai tahun ini. Apalagi negara-negara eksportir belum mau menambah produksi dan pasokan ke pasar internasional walaupun harga sudah di atas 90 dollar AS per barrel.
Ketika harga minyak mentah di pasar internasional baru berkisar 83 dollar AS per barrel, harga Pertamax di SPBU, misalnya, sudah naik menjadi Rp 7.050 per liter.
Ketika harga minyak mentah di pasar internasional masih bertengger di posisi sekitar 90 dollar AS, pekan lalu, Pertamina kembali menaikkan harga Pertamax senilai Rp 450 per liter menjadi Rp 7.500, seperti yang berlaku saat ini.
Dalam perkembangan lain, harga komoditas pangan, seperti beras, jagung, kedelai, gula, dan minyak sawit mentah (CPO), di pasar internasional terus meningkat signifikan.
Selain untuk pangan manusia, jagung dan kedelai juga untuk bahan pakan ternak. Kenaikan harga itu berimplikasi ke sektor peternakan, khususnya peternakan rakyat.
Gula di pasar internasional, misalnya, pekan lalu mencatat rekor tertinggi dalam 30 tahun, yakni 34,77 sen dollar AS per pon. Lonjakan itu dipicu kuatnya permintaan gula dari Asia di tengah pasokan global yang melemah.
Sementara itu harga CPO di pasar derivatif Malaysia per 30 Desember 2010 mencapai 1.220,69 dollar AS per ton, mendekati rekor harga tertinggi tahun 2008. Lonjakan harga CPO ini berimplikasi pada harga minyak goreng.