Inflasi Tekan Perekonomian

Kompas.com - 03/01/2011, 04:04 WIB

Jakarta, Kompas - Perdagangan sejumlah komoditas pada akhir tahun 2010 ditutup dengan beberapa catatan rekor. Kondisi itu membuat perekonomian global terancam inflasi. Bagi Indonesia, selain harga minyak mentah yang terus naik, inflasi juga dipicu harga komoditas pangan.

”Bukan hanya Indonesia, perekonomian negara-negara lain juga menghadapi ancaman inflasi yang dipicu kenaikan harga komoditas energi dan pangan akibat permintaan dan spekulasi,” ujar ekonom dan pengamat pasar modal, Mirza Adityaswara, di Jakarta, Minggu (2/1).

Inflasi merupakan perhitungan laju kenaikan harga barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Inflasi berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi inflasi yang kurang terkendali juga dapat menekan daya beli masyarakat.

Pemerintah dan DPR telah menyepakati asumsi inflasi dalam APBN 2011 sebesar 5,3 persen, sama dengan asumsi tahun 2010. Demikian juga harga minyak mentah Indonesia yang dipatok 80 dollar AS per barrel, sama dengan tahun lalu.

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan memperkirakan inflasi pada Desember masih berlanjut. Dengan demikian, inflasi tahun 2011 diperkirakan dapat melampaui 6,5 persen. Itu berarti angka inflasi setahun lalu jauh melampaui target asumsi APBN sebesar 5,3 persen.

Tingginya angka total inflasi 2010 itu terutama karena tingginya inflasi bahan pangan (volatile food) yang mencapai 15 persen, lebih tinggi dari asumsi pemerintah sebelumnya sekitar 8 persen.

Permintaan dan spekulasi

Menurut Mirza, penyebab kenaikan harga komoditas belakangan ini karena permintaan memang menggeliat, seiring ekspektasi perbaikan ekonomi di Amerika Serikat dan negara-negara Asia yang memang terus menguat pertumbuhan ekonominya.

Pelaku pasar juga melakukan lindung nilai aset finansial akibat pelemahan dollar AS.

Bagi Indonesia, ujar Mirza, manajemen stok harus kuat agar tidak tertekan kenaikan harga. Khusus minyak, pilihannya hanya dua, yaitu menaikkan harga yang berarti rakyat yang menanggung atau beban itu ditanggung fiskal alias APBN berupa subsidi.

Terhadap gejolak harga komoditas pangan, Mirza menyatakan, harus ada stok yang cukup dengan menggenjot produksi walaupun tidak mudah karena faktor cuaca yang tidak menentu.

Minyak mentah di pasar internasional sempat menyentuh level 94 dollar AS per barrel, angka tertinggi sejak tahun 2008. Berbagai kalangan menilai harga minyak mentah bakal terus meningkat, terkait cuaca dingin di Eropa dan Amerika serta naiknya permintaan.

Harga minyak mentah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan komoditas pada 11 Juli 2008 seharga 147,27 dollar AS per barrel.

Lonjakan harga minyak mentah sampai 100 dollar AS, seperti diprediksi berbagai kalangan, bisa tercapai tahun ini. Apalagi negara-negara eksportir belum mau menambah produksi dan pasokan ke pasar internasional walaupun harga sudah di atas 90 dollar AS per barrel.

Ketika harga minyak mentah di pasar internasional baru berkisar 83 dollar AS per barrel, harga Pertamax di SPBU, misalnya, sudah naik menjadi Rp 7.050 per liter.

Ketika harga minyak mentah di pasar internasional masih bertengger di posisi sekitar 90 dollar AS, pekan lalu, Pertamina kembali menaikkan harga Pertamax senilai Rp 450 per liter menjadi Rp 7.500, seperti yang berlaku saat ini.

Dalam perkembangan lain, harga komoditas pangan, seperti beras, jagung, kedelai, gula, dan minyak sawit mentah (CPO), di pasar internasional terus meningkat signifikan.

Selain untuk pangan manusia, jagung dan kedelai juga untuk bahan pakan ternak. Kenaikan harga itu berimplikasi ke sektor peternakan, khususnya peternakan rakyat.

Gula di pasar internasional, misalnya, pekan lalu mencatat rekor tertinggi dalam 30 tahun, yakni 34,77 sen dollar AS per pon. Lonjakan itu dipicu kuatnya permintaan gula dari Asia di tengah pasokan global yang melemah.

Sementara itu harga CPO di pasar derivatif Malaysia per 30 Desember 2010 mencapai 1.220,69 dollar AS per ton, mendekati rekor harga tertinggi tahun 2008. Lonjakan harga CPO ini berimplikasi pada harga minyak goreng. (Reuters/ham/dis)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau