Bus transjakarta

Duh, Koridor IX Membingungkan

Kompas.com - 03/01/2011, 15:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bingung. Satu kata yang menjejali pikiran para penumpang busway koridor IX rute Pinang Ranti - Pluit pada hari pertama kerja Senin (3/1/2011 ), setelah libur panjang hari raya Natal dan Tahun Baru.

Kebingungan para penumpang dimulai dengan pemotongan rute. "Rute Pinang Ranti - Pluit terlalu panjang. Kata atasan saya pagi ini saat apel pagi, rute ini dipotong menjadi tiga poros. Katanya karena rute terlalu panjang menyebabkan BBG (Bahan Bakar Gas) menjadi boros," kata seorang petugas pintu (onboard) yang enggan menyebutkan namanya ketika ditemui Kompas.com di shelter Cawang UKI.

Masih kata petugas tersebut, pemotongan rute bus koridor IX ini, juga rawan kemacetan. "Pada hari-hari biasa saja daerah ini macetnya bukan main, dengan memotong rute menjadi tiga poros bisa terhindar dari kemacetan," ujarnya.

Menurut keterangan para petugas TransJakarta, rute Pinang Ranti - Pluit yang ditempuh dengan satu kali armada bus, dipotong menjadi tiga poros yaitu Pluit - GroGol, Grogol - Cawang UKI, dan Cawang UKI - Pinang Ranti.

Pemotongan rute ini, sontak menimbulkan rasa kesal para penumpang bus TransJakarta. "Katanya ini jurusan Pinang Ranti - Pluit, kenapa kami mesti turun disini," kata Abdul yang kebingungan saat di shelter Grogol 2.

Kebingungan lain yang dialami penumpang mengenai petunjuk arah dan kejelasan pintu koridor bus. Setiap penumpang mengandalkan petugas TransJakarta untuk menjelaskan bus mana yang akan mereka tuju. "Pak, kalau mau ke PGC naik yang mana, turun dimana?" kata seorang ibu paruh baya.

Tak hanya ibu paruh baya ini yang kebingungan, banyak penumpang TransJakarta yang kebingungan. "Katanya saya disuruh kemari kalau mau ke Pinang Ranti, ternyata di shelter koridor VIII ada penumpang yang dinaikkan pula. Tahu begitu saya enggak jalan kemari jauh-jauh," kata Paul yang bersama anaknya menuju Tegal Parang.

Selain penumpang yang kebingungan, rupanya tak sedikit petugas TransJakarta yang juga tak paham dengan perubahan rute Pinang Ranti - Pluit. "Saya seharian ini kena omelan penumpang. Saya baru tahu pergantian rute ini juga baru tadi pagi," kata salah seorang petugas.

Menurut informasi, petugas yang beroperasi di koridor IX hari ini adalah tenaga baru dan perbantuan. Kebanyakan yang bertugas di Koridor IX adalah orang baru, baik Pramudi (Pengemudi) maupun on board (petugas pintu). Mereka tidak mengerti jalur-jalur di koridor ini.

Sepanjang pengoperasian koridor IX hari ini, yang membuat penumpang TransJakarta kesal adalah lamanya mereka menunggu armada bus. "Bayangkan saya harus menunggu disini selama hampir satu jam. Bus yang lewat enggak ke tujuan yang saya tuju. Kalau mengerti bakalan begini, lebih baik tadi naik angkutan umum" kata Miranda yang ditemui di shelter Grogol 2.

Salah seorang penumpang lain, Beni kesal dengan lamanya armada bus, ia mengatakan seperti yang dijanjikan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sebanyak 69 armada bus. "Banyak penumpang tapi armadanya lama. Harusnya tiap lima menit busnya datang dan mengangkut penumpang. Kalau begini enggak profesional namanya," paparnya.

Semrawut dan kisruh, gambaran yang tampak di shelter transit Cawang UKI. Penumpang kebingungan karena harus transit dan berganti armada, sementara tidak ada papan penujuk tujuan yang jelas, dan informasi petugas yang tepat.

Tampak penumpang mondar mandir dari satu pintu ke pintu yang lain. Ketika ada armada bus mendekat ke shelter, seorang petugas wanita TransJakarta berteriak, "Yang ke Pinang Ranti ke pintu kanan, silakan naik!" kata wanita tersebut.

Mendengar seruan petugas, penumpang dengan tujuan Pinang Ranti yang tadinya mengantre di pintu lain segera berlarian menuju pintu yang dimaksud. "Wah bagaimana sih ini, tadi katanya disini. Setelah antre berubah lagi tempat nunggu busnya. Ribut seperti pasar ya," canda seorang pria berkacamata.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau