Kecelakaan

Polisi Selidiki Kasus Meluncurnya KA Gajayana

Kompas.com - 06/01/2011, 04:26 WIB

MALANG, KOMPAS - Kepolisian Resor Kota Malang pada hari Rabu (5/1) memeriksa tujuh orang terkait meluncurnya empat gerbong rangkaian kereta api Gajayana yang menyebabkan tewasnya satu anak berumur di bawah lima tahun penghuni bantaran lintasan rel KA Stasiun Kota Lama, Malang, Jawa Timur, dan seorang lain patah tulang. Polisi juga berkoordinasi dengan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi.

Kepala Kepolisian Resor Kota Malang Ajun Komisaris Besar Polisi Agus Salim, di Malang, menjelaskan bahwa petugas belum menemukan penyebab terlepasnya rem pada empat gerbong kereta yang sedang menjalani perawatan di Stasiun Kota Baru. Akibatnya, rangkaian empat gerbong kereta berjalan sendiri di jalan yang menurun menuju Stasiun Kota Lama.

”Sejauh ini kami telah meminta keterangan lima petugas PT KAI dan dua warga. Statusnya masih tahap penyelidikan sehingga belum mendapat kesimpulan penyebab kejadian. Kejadian itu, menurut keterangan, bukan pertama kali terjadi,” kata Agus.

Perlu pendapat ahli

Agus berpendapat, koordinasi dengan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) penting dilakukan agar petugas polisi memahami mekanisme kerja gerbong kereta api.

”Ini jenis peristiwa yang memerlukan kehadiran saksi ahli. Jadi, kami meminta KNKT memberi keterangan yang berhubungan dengan keahlian mengenai prosedur dan tata kerja kereta api,” katanya.

Kepolisian juga meminta keterangan dua saksi mata warga di sekitar lokasi terhentinya KA. ”Jika menurut penjelasan petugas KA, semua prosedur pengereman sudah ditempuh, tetapi saat gerbong ditinggalkan tanpa petugas, entah bagaimana gerbong berjalan sendiri,” katanya.

Sejauh ini belum ada penetapan adanya tersangka. Para saksi masih akan dipanggil dan dimintai keterangan.

Kepala Stasiun Kota Lama Malang Gatot Joko mengatakan, sebuah tim gabungan sudah dibentuk oleh PT Kereta Api Daerah Operasional VIII di Surabaya dan bersama petugas KNKT sedang menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut.

Meluncur sendiri

Peristiwa bermula saat gerbong kereta api kelas eksekutif Gajayana jurusan Malang-Jakarta dalam keadaan terlepas dari lokomotif tiba-tiba meluncur sendiri, Selasa (4/1) siang.

Petugas KA Stasiun Kota Baru, lokasi awal dari gerbong tersebut, segera mengontak Stasiun KA Kota Lama yang kemudian mencegah kereta meluncur ke arah jalan raya yang padat di persilangan sebidang, sekitar 2,5 kilometer dari lokasi Stasiun Kota Baru.

Rangkaian gerbong itu terhenti di lokasi jalur buntu yang dibuat untuk menghentikan paksa KA. Namun, di belakang tembok jalur buntu tersebut ada permukiman warga.

Rangkaian gerbong kereta tersebut setelah menabrak tembok penahan masih terus berjalan menabrak permukiman warga di Jalan Ciptomulyo, RT 11 RW 3 Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun. Sebanyak tiga rumah dilaporkan hancur.

(ODY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau