JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengatakan, tidak ada permohonan paspor atas nama Sony Laksono di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Patrialis mengatakan, data yang terdapat pada paspor Sony Laksono, yang diketahui digunakan terdakwa kasus korupsi pajak Gayus HP Tambunan ke luar negeri, palsu.
"Ditemukan banyak sekali kejanggalan sehingga sudah dapat dipastikan bahwa paspor itu tidak diproses di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Paspornya asli, tetapi prosesnya tidak di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Kita punya beberapa kode-kode yang tidak bisa dicontoh oleh pihak lain," kata Patrialis kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (6/1/2011).
Tim yang dibentuk Kementerian Hukum dan HAM juga dikatakan telah bertemu dengan keluarga Margareta. Margareta adalah pemohon paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Namun, permohonan paspor tidak dilanjutkan. Selanjutnya, paspor yang sudah memiliki nomor tersebut digunakan oknum untuk Sony.
Patrialis mengatakan, tim sudah mendapatkan kejelasan mengapa Margareta tidak melanjutkan permohonan paspor. "Ada surat pernyataan bahwa memang paspor Margareta pada saat itu tidak dilanjutkan. Margareta sudah sampai tahap wawancara dan pengambilan pas foto. Orangtua Margareta saat itu ada kesibukan lain sehingga permohonan paspor tidak jadi dilanjutkan," kata Patrialis.
Saat ini, lanjut Patrialis, tim tengah fokus pada Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta. "Saya ingin minta diungkap kenapa di Bandara Soekarno-Hatta, paspor seperti itu bisa lolos. Semestinya tidak bisa lolos. Sekarang tim sedang di Bandara Soekarno-Hatta. Tim akan memeriksa petugasnya waktu itu. Data sudah lengkap," katanya.
Patrialis, yang juga politisi Partai Amanat Nasional, berjanji, penyelidikan yang dilakukan Kementerian Hukum dan HAM akan dilakukan secara transparan. Siapa pun yang terbukti bersalah akan ditindak tegas.
"Semua pasti ada yang menerima sanksi karena tidak akan mungkin orang menggunakan paspor seperti itu bisa lolos dengan begitu saja kalau tidak bekerja sama," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang