Cuaca buruk

Waspadai Perairan Selatan NTT

Kompas.com - 07/01/2011, 03:46 WIB

Kupang, Kompas - Masyarakat diimbau mewaspadai perairan selatan Nusa Tenggara Timur. Sampai tiga hari ke depan tinggi gelombang di wilayah itu 1-2,5 meter, disertai hujan dan angin badai.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Stasiun El Tari Kupang Syaeful Hadi, Kamis (6/1), mengatakan, tekanan rendah di perairan NTT bagian selatan menyebabkan curah hujan relatif tinggi. Hujan sering disertai badai sehingga menyulitkan pelayaran. Hal itu terjadi di perairan Rote Ndao, Sabu Raijua, selatan Pulau Timor, Laut Sawu, dan Laut Flores.

Menurut Kepala Bidang Perhubungan Laut Dinas Perhubungan NTT Simon Nitbani di Kupang, pemerintah provinsi mengeluarkan surat imbauan kepada para bupati dan kepala dinas perhubungan agar pelayaran mewaspadai cuaca buruk selama Januari-Februari 2011.

Pelayaran harus mendapat izin tertulis dari administrator pelabuhan (Adpel), termasuk pelayaran rakyat (Pelra). Masyarakat jangan memaksa berlayar jika tidak aman. Kecelakaan di laut yang menewaskan puluhan penumpang, sebagian besar dialami Pelra yang tidak memerhatikan kondisi cuaca.

Ketua DPD Pelra NTT Hj Achmar Rosmin mengatakan, pemda tidak pernah membina pengusaha armada angkutan laut.

Markus Taduhere, pemilik perahu berkapasitas 20 penumpang dari Namosaien, Kupang, menuju Pulau Semau, menyatakan, hampir semua armada Pelra berlayar berdasarkan pengetahuan tradisional mengenai cuaca laut. Jika berpedoman pada larangan Adpel, mereka dan calon penumpang merasa rugi.

Akibat cuaca buruk, sekitar 3.000 jiwa keluarga nelayan di sentra produksi ikan di pantai selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, terancam masuk kategori rumah tangga miskin baru, setelah tujuh bulan tidak melaut.

Aprilyanto, Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang, Kamis, menyatakan mengirim tim assessment untuk mengetahui kebutuhan bantuan bagi warga Pantai Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Malang.

”Nelayan sementara ini mengerjakan pekerjaan di kota, menjual atau menggadaikan barang berharga, seperti barang elektronik, perhiasan, dan kendaraan untuk belanja hidup sehari-hari,” katanya. Bantuan yang disiapkan PMI adalah obat-obatan dan bahan pangan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Endang Retnowati menyatakan, tahun 2010 total produksi ikan dan hasil laut hanya sekitar 75 persen dari perkiraan produksi. Hanya 9.000 ton dari perkiraan 12.000 ton.

Tergerus

Gempuran gelombang laut sepekan terakhir menyebabkan penggerusan (abrasi) di pantai- pantai Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Sejumlah warung dan fasilitas umum terancam tergerus.

Di Pantai Drini, Gunung Kidul, nelayan sulit membawa kapal ke laut karena pantai yang sebelumnya landai menjadi curam. Laut menjorok tiga meter ke darat, dan kecuraman pantai menjadi setinggi setengah meter.

Abrasi Pantai Drini mulai mengancam bangunan tempat pelelangan ikan yang tak lagi berjarak dengan air laut ketika pasang naik. ”Abrasi ini tergolong paling parah,” kata Ketua TPI Pantai Drini, Mandung, Kamis.

Pedagang di Pantai Sundak, Gunung Kidul, juga mulai waswas. Sebagian warung di tepi pantai mulai tergerus air laut.

Akibat cuaca buruk, pendapatan pemerintah daerah dari retribusi di tempat pendaratan ikan turun drastis. Sepanjang tahun 2010, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul hanya memungut retribusi Rp 199,153 juta (56,9 persen) dari target.

Nelayan di Pantai Drini dengan 30 kapal hanya menyumbang retribusi Rp 14,6 juta sepanjang tahun 2010. Retribusi Pantai Drini hanya Rp 100.000.

Nelayan di Gunung Kidul beralih profesi menjadi petani atau buruh bangunan. Paceklik ikan sudah berlangsung lebih dari enam bulan terakhir.

Seharusnya saat ini nelayan panen beragam jenis ikan laut, seperti tuna, bawal, layur, dan lobster, yang akan diekspor.

Ketiadaan hasil tangkapan ikan laut menyebabkan melambungnya harga ikan laut. Pedagang ikan di kawasan pantai Gunung Kidul memilih mendatangkan stok ikan dari daerah lain, seperti Jawa Timur.

Petambak udang di Cirebon, Jawa Barat, mengeluhkan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Banyak udang mati karena kedinginan dan terserang virus.

Menurut Kamsudi, pembudidaya sekaligus pengepul udang di Desa Bungko, Kapetakan, Kabupaten Cirebon, produksi udang tahun ini turun sampai 60 persen. Keluhan serupa disampaikan Sahudi (49), petambak di Desa Bungko Lor. Tambaknya seluas 200 meter persegi yang biasa menghasilkan 1,5 kuintal sekali panen, kini hanya panen 20 kg. (KOR/ODY/WKM/THT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau