Kupang, Kompas
Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Stasiun El Tari Kupang Syaeful Hadi, Kamis (6/1), mengatakan, tekanan rendah di perairan NTT bagian selatan menyebabkan curah hujan relatif tinggi. Hujan sering disertai badai sehingga menyulitkan pelayaran. Hal itu terjadi di perairan Rote Ndao, Sabu Raijua, selatan Pulau Timor, Laut Sawu, dan Laut Flores.
Menurut Kepala Bidang Perhubungan Laut Dinas Perhubungan NTT Simon Nitbani di Kupang, pemerintah provinsi mengeluarkan surat imbauan kepada para bupati dan kepala dinas perhubungan agar pelayaran mewaspadai cuaca buruk selama Januari-Februari 2011.
Pelayaran harus mendapat izin tertulis dari administrator pelabuhan (Adpel), termasuk pelayaran rakyat (Pelra). Masyarakat jangan memaksa berlayar jika tidak aman. Kecelakaan di laut yang menewaskan puluhan penumpang, sebagian besar dialami Pelra yang tidak memerhatikan kondisi cuaca.
Ketua DPD Pelra NTT Hj Achmar Rosmin mengatakan, pemda tidak pernah membina pengusaha armada angkutan laut.
Markus Taduhere, pemilik perahu berkapasitas 20 penumpang dari Namosaien, Kupang, menuju Pulau Semau, menyatakan, hampir semua armada Pelra berlayar berdasarkan pengetahuan tradisional mengenai cuaca laut. Jika berpedoman pada larangan Adpel, mereka dan calon penumpang merasa rugi.
Akibat cuaca buruk, sekitar 3.000 jiwa keluarga nelayan di sentra produksi ikan di pantai selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, terancam masuk kategori rumah tangga miskin baru, setelah tujuh bulan tidak melaut.
Aprilyanto, Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang, Kamis, menyatakan mengirim tim
”Nelayan sementara ini mengerjakan pekerjaan di kota, menjual atau menggadaikan barang berharga, seperti barang elektronik, perhiasan, dan kendaraan untuk belanja hidup sehari-hari,” katanya. Bantuan yang disiapkan PMI adalah obat-obatan dan bahan pangan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Endang Retnowati menyatakan, tahun 2010 total produksi ikan dan hasil laut hanya sekitar 75 persen dari perkiraan produksi. Hanya 9.000 ton dari perkiraan 12.000 ton.
Gempuran gelombang laut sepekan terakhir menyebabkan penggerusan (abrasi) di pantai- pantai Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Sejumlah warung dan fasilitas umum terancam tergerus.
Di Pantai Drini, Gunung Kidul, nelayan sulit membawa kapal ke laut karena pantai yang sebelumnya landai menjadi curam. Laut menjorok tiga meter ke darat, dan kecuraman pantai menjadi setinggi setengah meter.
Abrasi Pantai Drini mulai mengancam bangunan tempat pelelangan ikan yang tak lagi berjarak dengan air laut ketika pasang naik. ”Abrasi ini tergolong paling parah,” kata Ketua TPI Pantai Drini, Mandung, Kamis.
Pedagang di Pantai Sundak, Gunung Kidul, juga mulai waswas. Sebagian warung di tepi pantai mulai tergerus air laut.
Akibat cuaca buruk, pendapatan pemerintah daerah dari retribusi di tempat pendaratan ikan turun drastis. Sepanjang tahun 2010, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul hanya memungut retribusi Rp 199,153 juta (56,9 persen) dari target.
Nelayan di Pantai Drini dengan 30 kapal hanya menyumbang retribusi Rp 14,6 juta sepanjang tahun 2010. Retribusi Pantai Drini hanya Rp 100.000.
Nelayan di Gunung Kidul beralih profesi menjadi petani atau buruh bangunan. Paceklik ikan sudah berlangsung lebih dari enam bulan terakhir.
Seharusnya saat ini nelayan panen beragam jenis ikan laut, seperti tuna, bawal, layur, dan lobster, yang akan diekspor.
Ketiadaan hasil tangkapan ikan laut menyebabkan melambungnya harga ikan laut. Pedagang ikan di kawasan pantai Gunung Kidul memilih mendatangkan stok ikan dari daerah lain, seperti Jawa Timur.
Petambak udang di Cirebon, Jawa Barat, mengeluhkan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Banyak udang mati karena kedinginan dan terserang virus.
Menurut Kamsudi, pembudidaya sekaligus pengepul udang di Desa Bungko, Kapetakan, Kabupaten Cirebon, produksi udang tahun ini turun sampai 60 persen. Keluhan serupa disampaikan Sahudi (49), petambak di Desa Bungko Lor. Tambaknya seluas 200 meter persegi yang biasa menghasilkan 1,5 kuintal sekali panen, kini hanya panen 20 kg.