JAKARTA, KOMPAS.com — Keruwetan pelaksanaan jalur bus transjakarta koridor IX berdampak pada kian padatnya arus kendaraan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Kemacetan panjang juga terjadi di jalan tol dalam kota yang sejajar dengan jalan itu.
Kondisi ini membuat sejumlah pengguna jalan nonbus transjakarta mengeluh. Lilis, warga Kalibata, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengatakan, kemacetan terjadi lebih awal dan lebih panjang.
"Biasanya jalan tol atau reguler baru padat menjelang jam pulang kantor, sekitar pukul 16.00. Beberapa hari setelah koridor IX dibuka, macet mulai sekitar pukul 13.00 di jalan reguler, di jalan tol juga sama," katanya, Kamis (6/1/2011).
Sebelum koridor IX dibuka, ungkapnya, dia biasa naik bus P6 Grogol-Kampung Rambutan dari Slipi menuju Cawang Atas. Bus baru masuk tol depan Gedung DPR. "Kalau sore baru macet, tapi sejak siang hari jalanan sudah macet sampai Cawang," ujarnya.
Situasi sama terjadi dari arah Cawang ke Semanggi. Bahkan arus bus transjakarta tersendat menjelang Gerbang Tol Semanggi II dan Kuningan. Hal itu akibat banyaknya pengendara mobil pribadi yang antre masuk tol.
"Enggak kebayang deh, sekarang ini macetnya luar biasa. Bisa-bisa sejak pagi sampai malam macet terus," kata Laksmi, warga Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Wanita yang kerap mengendarai mobil pribadi untuk aktivitasnya sebagai penyelenggara acara (event organizer) itu juga mengungkapkan, Jalan Gatot Subroto hanya lancar antara pukul 10.00 dan pukul 11.00.
Pengendara sepeda motor juga mengeluhkan kondisi itu. "Ini (macet) sudah terjadi sejak tiga hari lalu. Meskipun bisa nyelip-nyelip, tetap saja bikin pegel kalau jalanan macet begini. Macetnya malah mulai dari Slipi," kara Suryo yang bekerja sebagai kurir sebuah perusahaan pengiriman barang.
Penutupan tol
Menanggapi hal itu, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman mengatakan, usul untuk menutup pintu gerbang tol yang menyilang rute transjakarta, khususnya koridor IX, bukan solusi tepat. "Itu (penutupan pintu tol) kewenangan dari Jasa Marga. Kalau memang bersedia, ya mungkin saja bagus," kata Sutarman kepada wartawan, Kamis siang.
Namun, kata mantan Kepala Polda Jawa Barat ini, ide penutupan pintu tol itu justru akan menuai protes dari masyarakat lain. Menurut dia, akan lebih baik jika dibangun jembatan layang (flyover) atau jalan terowongan bawah tanah (underpass) khusus untuk jalur transjakarta yang bersinggungan dengan gerbang masuk dan keluar pintu tol.
Berbagai upaya dilakukan Polda Metro Jaya membantu memperlancar arus lalu lintas transjakarta, terutama untuk koridor IX dan koridor X (Cilitan-Tanjung Priok). Salah satunya adalah sterilisasi kendaraan umum dan kendaraan pribadi yang masuk jalur transjakarta oleh Ditlantas Polda Metro Jaya, Kamis.
Sementara itu, harga bahan bakar das (BBG) antara stasiun pengisian bahan bakar das (SPBG) milik PT Pertamina dan Perusahaan Gas Negara (PGN) berbeda. Pertamina masih menjual BBG Rp 3.100 per liter setara premium (LSP), sedangkan PGN menjual Rp 2.562 per LSP. Hal itu membuat transjakarta antre di empat SPBG milik Pertamina.
"Tarif gas seragam belum dilaksanakan karena Pertamina masih menjual BBG dengan harga lama (Rp 2.652 per LSP)," kata Gubernur Fauzi Bowo di Balaikota DKI Jakarta, Kamis.
Menurut Fauzi, penyeragaman harga BBG sangat mendesak karena pengisian BBG di SPBG Pertamina mengakibatkan jarak antarbus transjakarta (headway) terganggu dan mengalami keterlambatan. Pertamina diharapkan segera menambah jumlah SPBG-nya. Selama ini baru empat SPBG yang menjual BBG. (ded/moe)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang