Ketika Sambal Tidak Lagi Pedas

Kompas.com - 10/01/2011, 10:52 WIB

Oleh Sumarwoto

KOMPAS.com — Kenaikan harga cabai yang sangat tinggi tidak hanya dikeluhkan konsumen, tetapi juga petani komoditas tersebut, yang tersebar di sejumlah wilayah di eks Keresidenan Banyumas, Jawa Tengah.

Bagi para penggila sambal dan makanan pedas, kenaikan harga cabai sangat mereka rasakan karena sambal dan makanan tersebut tidak lagi terasa pedas.

Seorang ibu rumah tangga di Perumahan Karangpucung Permai, Purwokerto, Dina (27), mengaku sangat doyan makan dengan sambal.

Akan tetapi, sejak harga cabai melonjak sangat tinggi, dia mengurangi pembelian bahan baku sambal yang menjadi kesukaannya ini sehingga sambalnya berasa tidak lagi pedas.

"Saya tetap makan dengan sambal meskipun tidak lagi terasa pedas karena cabainya dikurangi. Tetapi, yang penting saya tetap bisa makan dengan sambal," katanya.

Ibu rumah tangga di Perumahan Teluk, Purwokerto, Wuryani (50), mengungkapkan, warung di sekitar rumahnya saat ini tidak lagi melayani pembelian cabai eceran seharga Rp 1.000.

Menurut dia, warung hanya melayani pembelian cabai sebanyak 0,5 ons, baik cabai rawit maupun campuran.

"Kemarin saya beli 0,5 ons cabai campuran dengan harga Rp 5.000, sekarang sudah mencapai Rp 7.000," katanya.

Sementara itu, kalangan pedagang dan pemasok cabai di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Banyumas juga mengeluhkan tingginya harga cabai.

Bagi mereka, tingginya harga cabai justru merusak pendapatan karena keuntungan penjualan merosot tajam akibat penurunan daya beli masyarakat.

"Kalau disuruh memilih, saya jelas pilih harga cabai normal karena tingkat penjualannya banyak dan keuntungan cukup lumayan," kata Mijah (36), pemasok cabai di Pasar Wage, Purwokerto.

Menurut dia, kenaikan harga cabai, khususnya cabai rawit merah, berakibat pada penurunan daya beli masyarakat.

Dalam kondisi normal atau saat harganya masih Rp 40.000 per kilogram, dia mengaku bisa memasok cabai rawit merah hingga 1 kuintal per hari. "Namun, saat ini saya mengurangi pasokan karena penyerapannya turun drastis, 60-70 persen," katanya.

Ia menyebutkan saat ini hanya mampu menjual 30-40 kg cabai rawit merah per hari karena harganya Rp 95.000-Rp100.000 per kg.

Dengan demikian, kata dia, keuntungan yang didapat hanya Rp 60.000-Rp 80.000 per hari atau Rp 2.000 per kg cabai rawit yang dipasok 30-40 kg per hari.

"Dulu sewaktu harganya masih Rp 40.000 per kg, keuntungan yang saya peroleh bisa mencapai Rp 300.000 per hari dari pasokan sebanyak 1 kuintal. Waktu itu saya mengambil untung Rp 3.000 per kg," katanya.

Oleh karena itu, dia berharap harga cabai segera kembali normal sehingga dapat memengaruhi jumlah penjualannya.

Demikian pula dengan pedagang cabai di Pasar Wage, Umiyati (56), dia mengaku mengurangi pasokan cabai yang akan dijualnya hingga 50 persen.

"Biasanya saya memasok 10 kg per hari, tetapi sekarang hanya 5 kg karena tak memiliki modal untuk memasok lebih banyak," katanya.

Selain itu, kata dia, konsumen belum tentu membeli semua cabai yang dijualnya sehingga dikhawatirkan akan membusuk.

Kenaikan harga cabai yang begitu tinggi, katanya, disebabkan minimnya pasokan dari petani akibat pengaruh cuaca yang tidak menentu.

"Tingginya curah hujan mengakibatkan banyaknya tanaman cabai yang rusak sehingga kualitas cabainya buruk. Akibatnya, pasokan pun menjadi berkurang," katanya.

Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Banyumas Purwadi Santosa. Ia memastikan kenaikan harga cabai bukan karena ulah spekulan.

"Naiknya harga cabai disebabkan minimnya panen petani. Apalagi, kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini sangat berdampak pada produksi cabai dari para petani. Jadi, bukan karena permainan spekulan," katanya.

Petani cabai di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Tarwin (38), mengatakan, saat ini banyak petani yang tidak bisa panen lantaran tanaman cabai mereka terserang hama pathek yang mengakibatkan batang tanaman dan buahnya mengering.

Kendati demikian, dia mengatakan, 3.000 tanaman cabai miliknya tidak terserang hama sehingga masih bisa dipanen.

"Setiap hari saya bisa memanen cabai merah keriting sebanyak 70 kg dengan harga di tingkat petani Rp 40.000-Rp 50.000 per kg, sedangkan di pasaran sudah mencapai Rp 60.000 per kg," katanya.

Selain cabai merah keriting yang berkualitas bagus, dia juga bisa menjual cabai apkiran hingga 10 kg dengan harga Rp 10.000-Rp 15.000 per kg. "Dalam kondisi normal, harga cabai apkiran hanya Rp 2.000 per kg," katanya.

Sementara itu, petani di Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Sikasno (50), menuturkan, sedikitnya 5 hektar tanaman cabai merah keriting di wilayah ini gagal panen akibat serangan hama.

"Kalau masih bisa diselamatkan, kami bisa menjualnya dengan harga pasaran. Namun, jika tidak bisa diselamatkan, terpaksa kami obral dengan harga maksimal Rp 20.000 per kg," ungkapnya.

Lain halnya dengan petani cabai di Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Mereka masih bisa menikmati keuntungan saat harga cabai melonjak tinggi.

Ketua Kelompok Hani Harapan Maju, Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, Sarno mengatakan, kenaikan harga cabai disebabkan keterbatasan suplai dari petani akibat serangan penyakit sehingga produktivitasnya menurun.

"Ada yang kena penyakit kuning, terutama di lahan-lahan yang terbuka. Serangga yang menularkan penyakit itu suka di dataran terbuka," katanya.

Sementara tanaman cabai pada lahan yang terlindung pepohonan hutan, ujarnya, relatif aman dari serangan penyakit tersebut.

"Kalau tidak diserang penyakit, produksinya bisa mencapai 1 ton per hari. Tapi, kalau terkena penyakit, hanya 2 kuintal per hari," katanya.

Ia mengatakan, kenaikan harga cabai yang sangat tinggi masih memberikan keuntungan karena biaya produksi yang harus dikeluarkan hanya Rp 4.000 per batang dan setiap tanaman mampu menghasilkan 1 kg cabai.

Petugas penyuluh lapangan Kecamatan Wanareja, Surur Hidayat, mengatakan, petani cabai saat ini bisa meraup untung berlipat karena mereka mengalami impas (BEP) saat harga komoditas ini mencapai Rp 5.000 per kg.

Kendati demikian, dia mengakui adanya serangan pathek atau layu pada tanaman cabai akibat curah hujan yang sangat tinggi sehingga produtivitas tanaman ini menurun.

Menurut dia, penyakit layu ini menyerang sekitar 25 persen atau 7 hektar lahan tanaman cabai di Kecamatan Wanareja.

Tingginya harga cabai di pasaran mengakibatkan petani di sentra tanaman sayur Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, meningkatkan penjagaan terhadap tanaman mereka.

"Petani yang masih berspekulasi menanam cabai selalu menjaga kebun mereka dengan ketat pada siang maupun malam hari sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya pencurian. Tahun lalu banyak pencuri yang berkeliaran mengambil cabai di saat petani panen," katanya.

Ia menambahkan, saat ini banyak petani di Desa Serang yang menunda menanam cabai kembali sembari menunggu kondisi cuaca membaik.

"Daripada merugi, petani menunda tanam cabai karena saat ini curah hujan masih tinggi," katanya. (*)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau