Mahitala Capai Puncak Aconcagua

Kompas.com - 11/01/2011, 02:34 WIB

Plaza Argentina, Kompas - Tim ekspedisi pendakian gunung, Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Universitas Parahyangan, Bandung, mencapai puncak Aconcagua di ketinggian 6.962 meter di atas permukaan laut, Minggu (9/1) pukul 11.35 waktu setempat atau 21.35 WIB.

Informasi keberhasilan tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) mencapai puncak Gunung Aconcagua disampaikan Janatan Ginting, yang berada di Plaza Argentina, melalui surat elektronik, Senin (10/1). Janatan mendapat kabar dari pemandu Acomara, Mauriso, kepada Daniel Lopez serta Janatan yang bersiaga di Posko Guardaparque, Plaza Argentina (4.200 mdpl), melalui radio.

Tim ISSEMU ternyata dapat menyelesaikan pendakian mencapai puncak sekitar 7,5 jam perjalanan, lebih cepat 2,5 jam dari target waktu sebelumnya. Akhirnya, bendera Merah Putih berhasil mereka kibarkan dengan rasa haru dan bangga di puncak Aconcagua, 9 Januari 2011 pukul 11.35 waktu setempat.

Tim ISSEMU terdiri dari mahasiswa Unpar, yakni Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew, Janatan Ginting, dan Agung Max Pribadi (alumnus Unpar) yang juga wartawan Warta Kota. Mereka memulai pendakian puncak Aconcagua melalui Plaza Argentina pada 4 Januari 2011. Janatan Ginting sendiri tidak mendapatkan izin melanjutkan perjalanan menuju kamp selanjutnya dari dokter di Plaza Argentina karena alasan medis.

Aconcagua adalah puncak kelima dari rangkaian tujuh puncak (seven summits) yang berhasil digapai Tim ISSEMU. Kelima puncak yang telah dicapai adalah Carstensz Pyramid (4.884 mdpl); Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, Afrika; Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Eropa; Vinson Massif (4.897 mdpl), Antartika; dan Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Amerika Selatan. Selanjutnya puncak yang akan dicapai adalah Everest (8.848 mdpl) di Nepal, Asia; dan Denali (6.194 mdpl) di Alaska, Amerika Utara.

Berita dari Posko Guardaparque menyatakan, cuaca baik mendukung pendakian Tim ISSEMU. Mereka dapat terus bergerak menambah ketinggian hingga Camp Colera (5.970 mdpl) dan bermalam di sini.

Tim ISSEMU menggelar summit attack pada 9 Januari pukul 04.00 (waktu setempat), meninggalkan Camp Colera guna menyelesaikan target pendakian di Aconcagua. Disertai cuaca yang sedikit berkabut, tim secara perlahan menambah ketinggian untuk menggapai puncak Aconcagua.

Tiba di Jakarta

Sementara itu, Tim Ekspedisi Seven Summits dari Wanadri, yang baru saja mencapai puncak Aconcagua, tiba kembali di Tanah Air, Senin malam. Pesawat yang mereka tumpangi mendarat sekitar pukul 22.00 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Tim disambut Ketua Umum Seven Summits Wanadri Endriartono Sutarto dan para keluarga tim ekspedisi. Tampak juga mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas yang juga anggota Wanadri. Mereka berada di bandara sejak sore hari, menunggu kedatangan putra bangsa yang telah mengibarkan Merah Putih di sejumlah puncak gunung itu.

Tim Wanadri yang bisa menggapai puncak Aconcagua adalah Ardhesir Yaftebbi, Fajri Al Luthfi, dan Martin Rimbawan pada Senin (27/12). Sedangkan Nurhuda, Iwan Irawan, dan Popo Nurahman mencapai puncak pada pendakian kedua, Senin (3/1).

Setelah Tim Wanadri mencapai puncak Aconcagua, Endriartono berharap mereka bisa mendaki Denali di Alaska, Amerika Utara, dan Vinson Massif di Antartika pada 2011 dan terakhir Mount Everest pada 2012.

(*/che/bdm)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau