Pemerintah Sengaja Matikan Kereta Api

Kompas.com - 11/01/2011, 03:24 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah dinilai berniat mematikan PT Kereta Api Indonesia dengan membatalkan kenaikan tarif kereta ekonomi, tetapi tidak menambah dana subsidi. Hal ini menunjukkan ketidakmatangan pemerintah dalam merencanakan pembangunan transportasi massal.

Demikian dikatakan peneliti perkeretaapian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Hidayat, Senin (10/1), saat dihubungi di Balai Yasa Lahat, Sumatera Selatan.

Kalau ada rencana matang, kata Taufik, seharusnya ketika diumumkan penundaan tarif, maka secara bersamaan diumumkan kenaikan dana subsidi atau public service obligation (PSO).

”Andaikata ada penundaan kenaikan tarif dalam empat bulan, ya berikan dana subsidi tambahan selama empat bulan itu,” kata Taufik.

Jika ada tambahan dana subsidi, dana itu pun hanya sekadar mempertahankan kondisi buruk kereta ekonomi. ”Sulit ada perbaikan karena dana yang dibutuhkan besar,” ujar Taufik. Dana PSO dari Kementerian Perhubungan hanya Rp 639 miliar, sementara dana yang diusulkan PT KAI Rp 775 miliar.

Sementara itu, PT Pelni yang hanya membawa 4,1 juta penumpang per tahun mendapat PSO senilai Rp 900 miliar. Padahal, PT KAI dengan PSO sebesar Rp 639 miliar setiap tahun harus mengangkut 144,89 juta penumpang KRL ekonomi, 43,96 juta penumpang kereta lokal, dan 19,35 juta penumpang kereta ekonomi jarak jauh.

Taufik memang bersikeras supaya kenaikan tarif ditunda selama standar pelayanan minimum belum diberlakukan. ”Tetapi, tanpa tambahan dana subsidi, jangan pernah menuntut pelayanan yang optimal,” ujar Taufik.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignasius Jonan mengatakan, tanpa kenaikan tarif kereta atau tambahan dana subsidi, maka nyaris mustahil menyempurnakan pelayanan kereta ekonomi bisa dilakukan.

”Dari tahun 2002 sampai 2011, tarif tak pernah naik. Bahkan, tahun 2009 pemerintah menurunkan tarif karena turunnya harga minyak dunia,” ujarnya.

Sejak 2002, nilai inflasi juga merangkak naik. ”Saya pikir, inflasi dari 2002 hingga sekarang lebih dari 50 persen. Kalau tarif tidak naik, ya bagaimana?” ujarnya. Berdasarkan hitungan kasar, tingkat inflasi dari tahun 2002 hingga 2010 sekitar 72 persen.

Sementara itu, tarif listrik pada 2003 sebesar Rp 460 per kWh dan naik menjadi Rp 631,43 kWh pada 2009. Sedangkan harga solar naik dari Rp 900 per liter menjadi Rp 4.500 per liter.

”Itu pun jatah solar bersubsidi dibatasi pemerintah sehingga ada kalanya untuk menjalankan kereta ekonomi kami harus menggunakan bahan bakar minyak solar industri,” ujar Jonan.

Lebih lanjut Jonan menegaskan, roda kereta pun masih harus diimpor, demikian pula dengan suku cadang lokomotif hingga berbagai komponen elektronik. ”Semua itu membutuhkan dana supaya kondisi keretanya menjadi lebih baik,” ujar Jonan.

(RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau