Data yang diolah dari data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, realisasi ekspor mebel dan produk kerajinan 2010 meningkat 20 persen dibanding 2009. Nilai ekspor furnitur dan produk kerajinan 2010 mencapai 2,703 miliar dollar AS.
Nilai ekspor 2010 didominasi oleh produk furnitur kayu, yakni 58,1 persen. Adapun nilai ekspor furnitur rotan menyumbang 6,8 persen, furnitur plastik 3,93 persen, furnitur bambu 2,8 persen, furnitur baja 0,5 persen, dan jenis furnitur lain 27,86 persen.
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengingatkan agar mencermati nilai ekspor furnitur rotan, yang terus menurun dari tahun ke tahun.
”Tahun 2008, ekspor furnitur rotan 239 juta dollar AS, tahun 2009 menjadi 167,75 juta dollar AS, dan 2010 anjlok menjadi 137,95 juta dollar AS,” ujar Ambar dalam ”Overview Tahun 2010 dan Strategi Tahun 2011” di Jakarta, Selasa (11/1).
Menurut Ambar, ujung tombak bagi industri furnitur adalah pemasaran. Namun, hingga kini pemerintah belum memiliki program pemasaran internasional yang kuat.
”Vietnam, Thailand, dan China bisa maju, mengapa kita yang kaya sumber bahan baku tidak bisa bersaing?” tanya Ambar.
Ia menegaskan, selama ekonomi biaya tinggi belum dihilangkan, produk furnitur Indonesia akan sulit bersaing di pasar internasional. ”Belum lagi, suku bunga kredit perbankan masih 12-15 persen. Strategi ke depan swasta dan pemerintah harus bersatu, tidak boleh saling menyalahkan,” ujar Ambar.
Guna membangkitkan kinerja ekspor furnitur dan produk kerajinan, menurut Deputi Pemasaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Neddy Rafinaldy, salah satu program yang dijalankan oleh Kementerian Koperasi dan UKM adalah melakukan pelatihan
produk ramah lingkungan. Hal ini dimaksudkan agar furnitur dan produk kerajinan Indonesia dapat menembus pasar ekspor.
Ambar mengingatkan agar penurunan ekspor furnitur rotan serius ditangani. Tahun 2010, ekspor produk rotan turun 17,76 persen dibandingkan 2009.
Penurunan itu, antara lain, karena adanya persaingan dengan produk rotan sintetik. Hal ini juga dialami oleh produk furnitur rotan negara-negara ASEAN lainnya, seperti terungkap dalam ASEAN Furniture Industries Council (AFIC) Working Committee Meeting yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, Desember 2010.
”Di semua negara ASEAN, furnitur rotan memang sedang digilas oleh produk yang serupa, yaitu rotan plastik,” ujar Ambar.
Furnitur rotan awalnya dikenalkan oleh Perancis, Jerman, dan Belanda. ”Ketika kebijakan rotan dibikin sistem buka-tutup, mereka, khususnya Jerman, kesulitan bahan baku,” katanya.
Jerman kemudian mengembangkan rotan plastik, untuk membuat industri furniturnya bertahan. Sejak itu, furnitur rotan tergusur.
”Kejayaan rotan perlu dibangkitkan kembali dengan kampanye kembali ke bahan baku alami,” kata Ambar.
Sekitar 85 persen rotan yang beredar di pasar dunia dari hutan-hutan di Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga harus memperketat ekspor rotan mentah. ”Harus dibuat kebijakan wajib pasok buat industri rotan dalam negeri dan dilaksanakan dengan konsisten,” ujar Ambar.
Ekspor rotan, lanjut Ambar, seharusnya diizinkan hanya untuk jenis rotan yang tidak dipakai di dalam negeri. Untuk pengawasannya, Asmindo bisa dilibatkan karena tidak semua petugas Bea dan Cukai tahu jenis-jenis rotan.