Tunisia rusuh

Lima WNI Berhasil Diamankan Dari Konflik

Kompas.com - 17/01/2011, 22:04 WIB

LONDON, KOMPAS.com - KBRI Tunisia kembali berhasil mengamankan lima WNI yang berada di titik rawan pergolakan di negara itu.

Penyelamatan lima WNI itu, harus melalui perjalanan dengan melintasi kerumunan massa yang sedang melakukan penjarahan dan pembakaran toko, supermarket dan showroom mobil mewah di daerah Chartage, Tunis.

"Mobil KBRI pun sempat diberhentikan oleh massa sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya staf KBRI dapat mengamankan lima orang tersebut pada pukul 23.59 pada 16 Januari," ujar Sekretaris III Pensosbud KBRI Tunisia, Sugiri Suparwan.

Berbagai info dan banyak saksi mata menyatakan, kerusuhan di sini disebabkan oleh orang-orang yang sengaja dikirim oleh polisi. Masyarakat mengadakan ronda menjaga kampung dan kompleks perumahan.

Militer menyediakan hotline untuk pengaduan jika ada masyarakat melihat perusuh. Di berbagai tempat militer berpatroli termasuk dengan helikopter dan di beberapa tempat, mereka harus turun dari helikopter untuk intervensi karena ada pengaduan.

Sedianya pada hari Minggu, KBRI Tunisia merencanakan mengamankan delapan WNI yang berada di titik rawan, namun mengalami kesulitan untuk mengamankan dua TKI yang bekerja di Istana Kepresidenan, karena tidak diberi akses masuk.

Dalam tiga hari terkahir, KBRI Tunisia sudah mencoba memasuki istana namun selalu gagal. Pada Minggu pukul satu siang, staf KBRI Tunisia yang hendak menjemput dua TKI tersebut ditodong senjata.

Menurut Sugiri Suparwan, staf KBRI Tunisia pun menyaksikan mobil lain yang berusaha masuk ditembak bannya oleh petugas keamanan istana.

"KBRI Tunisia akan terus mengupayakan pengamanan mereka melalui jalur diplomatik dan melalui koordinasi dengan aparat keamanan setempat," ujarnya.

Adapun satu WNI lainnya yang berada di titik rawan di luar Istana belum sempat dievakuasi karena jalur masuk menuju rumah yang bersangkutan telah dipenuhi kerumunan massa yang melakukan pembakaran dan penjarahan yang sangat membahayakan keselamatan staf KBRI.

Selain itu, terdapat juga satu WNI yang datang ke Wisma Duta karena sudah merasa tidak aman di tempat tinggalnya. Keseluruhan Jumlah WNI yang dapat diamankan pada Minggu sebanyak enam orang.

Jumlah WNI di Tunisia sesuai lapor diri sebanyak 109 orang, sedangkan WNI baru melapor saat terjadi krisis keamanan dengan angka terus berubah adalah 10 orang yang total keseluruhan ada 119 orang WNI di Tunisia.

Keberadaan mereka sebanyak 33 orang berada di Wisma Duta yang menjadi posko 1 yang terdiri dari Dubes RI, istri dan staf sebanyak 8 orang, masyarakat Indonesia 25 orang.

Sementara di Kantor KBRI Tunisia yang menjadi posko 2 terdapat 21 orang yang terdiri dari delapan staf KBRI, 10 mahasiswa dan tiga orang TKI.

Sedangkan di rumah Home Staff yang berada dekat Kantor KBRI yang menjadi posko 3, terdapat 17 orang yang terdiri dari 14 orang Staf KBRI dan tiga masyarakat Indonesia.

Selain itu, di rumah sakit terdapat satu orang dan 47 orang lainnya berada di rumah masing-masing yaitu 20 orang Staf KBRI dan keluarga, lima orang mahasiswa dan 11 orang WNI menikah dengan orang asing dan 11 TKI.

Dari 47 orang WNI yang berada di rumah masing-masing, tiga orang berada di titik rawan. KBRI Tunis terus mengupayakan pengamanan mereka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau