Kejahatan

Cakung, dari "Mutilasi" Truk Peti Kemas hingga Mutilasi Anak Jalanan

Kompas.com - 18/01/2011, 04:01 WIB

Pergilah ke kawasan Cakung, Jakarta Timur. Anda akan percaya tentang ancaman kejahatan di Jakarta. Cakung merupakan belantara kejahatan jalanan dan menjadi kawasan paling rawan seantero Jakarta.

Secara sosiologis, tingkat kemiskinan dan mobilitas warga berpendidikan rendah di sana tinggi. Sekurangnya itulah potret kawasan ini selama tiga tahun terakhir.

Kasat Reserse Kriminal Polres Metro Jaktim Komisaris Dody Rahmawan mengakui hal itu. ”Cakung menjadi kawasan 'gula-gula', baik bagi kaum pendatang maupun warga pinggiran karena adanya kawasan industri di sana. Apalagi letaknya yang berbatasan dengan Jakarta Utara yang sebagian juga menjadi kawasan industri. Permukiman padat dan kumuh pun cepat berkembang karena urbanisasi dari kawasan Jawa Tengah, Jawa Timur, sampai Madura,” tuturnya.

Di tempat inilah Baekuni (50) alias Babeh alias Bungkik mencari mangsa anak-anak jalanan. Tujuh belas tahun ia menyodomi, membunuh, dan memutilasi sekurangnya 14 anak jalanan yang terserak dari kawasan Terminal Pulogadung hingga Cakung. Tikam-menikam di antara sesama warga miskin, peras-memeras, serta ancammengancam di kendaraan angkutan kota, bus, dan truk sering terjadi.

Truk gandeng dan peti kemas yang menjadi sasaran perampok bukan hanya dikuras muatannya, tetapi juga ”dimutilasi”. Truk dipereteli. Mesin dan ban dijual sebagai barang bekas, sementara kerangka dan badan truk dipotong-potong dan dijual sebagai ”besi tua”. Ludes. Tak sepotong barang rampokan yang tak terjual.

Terakhir, perampokan dan ”mutilasi” truk terjadi awal Desember 2010. Truk gandeng Nissan Diesel bernomor polisi AG 8654 UA dirampok. Muatan truk berupa 40 ton bijih plastik dijual ke penadah, sedangkan sebagian kerangka dan badan truk sudah dipotong-potong saat polisi membekuk para tersangka.

Pengungkapan bermula ketika Kamis (9/12/2010) pukul 20.30 kendaraan patroli polisi melintas di Jalan Irigasi Cakung Drain Kampung Baru RT 9 RW 9, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung. Polisi, yang mendapati tersangka Rokib Aryanto (40) dan Rachmad Hidayat (52) sedang ”memutilasi” truk gandeng, curiga dan menangkap kedua tersangka.

Setelah memeriksa kedua tersangka, polisi menangkap tersangka Gatot Wibowo (32) asal Nganjuk, Jawa Timur, di Parung, Bogor, Jawa Barat. Gatot adalah sopir truk yang bertugas mengantar bijih plastik dari Cilegon Banten, ke Solo, Jawa Tengah. Ia meminta temannya, Aliham (43), mencarikan pembeli bijih plastik.

Keduanya bertemu perantara, Martasa bin Gondang (47), yang siap mencarikan pembeli 40 ton bijih plastik seharga Rp 360 juta. Saat menunggu pembayaran, Gatot terpikir menjual truk. Aliham lantas menghubungi Martasa untuk kembali mencari pembeli.

Martasa setuju dengan harga ”mutilasi” truk senilai Rp 20 juta. Setelah sepakat, Martasa menjual truk kepada Samsul senilai Rp 40 juta. Bijih plastik ditawarkan Martasa kepada Ucok dan Yokie Mauladi yang kemudian ditawarkan kepada Yokie Mauladi (46) dan PT Butir Mas Raya masing-masing tiga ton.

Pelarian

Cakung bukan cuma dikenal memiliki banyak tempat kejadian perkara kasus kejahatan jalanan, tetapi juga menjadi tempat pelarian penjahat. Kasus terakhir terjadi Selasa (21/12) tahun lalu. Hari itu terjadi dua kasus penembakan. Korban kasus pertama adalah Firdaus Firmansyah (33) yang mengaku pengojek. Korban kasus kedua adalah Marvin (27) dan Yogi Eko Prabowo (20).

Awalnya ketiga korban menipu polisi. Setelah terungkap, ternyata ketiganya adalah penjahat. Marvin dan Yogi adalah tersangka penjambret yang ditembak polisi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat (Jakpus), sedangkan Firdaus adalah tersangka pengedar narkoba yang juga ditembak polisi. Kedua kasus kembali dilimpahkan ke Polres Metro Bekasi Kota dan Polsek Cempaka Putih, Jakpus.

Menurut Dody, Firdaus dan Yogi adalah residivis, sementara Marvin adalah ”pemain” baru. Yogi dan Marvin diburu polisi setelah menjambret telepon seluler dan dompet korban, Siti Hanifah, Selasa (21/12).

Ia menjelaskan, Yogi adalah residivis yang baru bulan lalu ke luar dari LP Cipinang, Jaktim, dalam kasus serupa. ”Dia spesialis jambret di kawasan Cempaka Putih, Jakpus. Sudah beberapa kali dia masuk penjara dalam kasus serupa,” ucap Dodi. Saat peristiwa terjadi, Yogi membawa kawannya, Marvin. ”Marvin 'pemain baru' yang diajak Yogi menjambret,” ujarnya.

Tentang Firdaus, Dodi menjelaskan, menjelang ditembak, Firdaus sedang menjual ganja satu kilogram kepada polisi yang menyamar sebagai pembeli. Saat bungkusan dibuka polisi, ternyata isinya cuma batu bata, sementara Firdaus lari.

Tingginya angka kejahatan di Cakung patut jadi kajian Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman. Penambahan jumlah polsek dan polres di kawasan perbatasan dan beberapa kawasan paling rawan di Jakarta yang sudah berlangsung lama patut dipertimbangkan. (WINDORO ADI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau