10 Penyebab "Ngompol" di Usia Dewasa

Kompas.com - 18/01/2011, 15:06 WIB

KOMPAS.com — Pernahkah Anda tergesa-gesa ke toilet karena pipis tidak bisa ditahan? Atau mungkin Anda sering berkemih tanpa sadar dan mengalami urine keluar sedikit saat batuk atau bersin? Jika iya, Anda mengalami inkontinensia atau mengompol.

Inkontinensia adalah ketidakmampuan menahan urine dalam kandung kemih sehingga keluar begitu saja di luar kendali. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Ada beberapa penyebab umum terjadinya inkontinensia.

1. Persalinan

Melahirkan, terutama melalui proses normal, merupakan penyebab umum terjadinya inkontinensia stres. Keadaan ini sering terkait dengan lemahnya jaringan penunjang pelvis. Ini juga dapat mengakibatkan turunnya kandungan dan jaringan vagina.

Kabar baiknya, kondisi ini bisa diperbaiki dengan melakukan latihan khusus pengencangan daerah panggul dan melatih kandung kemih. Operasi ringan juga bisa mengencangkan jaringan dasar pelvis yang sudah melemah.

2. Kehamilan

Inkontinensia selama kehamilan merupakan bentuk lain dari inkontinensia stres. Biasanya kondisi ini disebabkan karena pembesaran rahim yang mendesak struktur kandung kemih. Perubahan hormonal juga bisa meningkatkan pengeluaran urine. Mengompol pada masa kehamilan ini bisa dicegah dengan latihan kegel.

3. Histerektomi

Operasi pengangkatan rahim (histerektomi) dan sejenisnya bisa menyebabkan terganggunya otot kandung kemih karena otot dan jaringan rahim berdekatan dengan kandung kemih.

4. Penuaan

Bertambahnya usia membuat risiko mengompol di usia lanjut lebih besar, bukan cuma pada pria, melainkan juga pada wanita. Penyebabnya adalah melemahnya kekuatan otot pada uretra. Beberapa penyakit kerusakan otak, seperti stroke dan demensia, juga akan menyebabkan terganggunya sinyal ke bagian kandung kemih.

5. Operasi prostat

Selain penuaan, penyebab inkontinensia pada pria adalah operasi kanker prostat. Prosedur ini juga bisa menyebabkan efek samping berupa gangguan ereksi. Itu sebabnya banyak dokter memilih untuk "menunggu" perkembangan tumor karena tumor ini biasanya berkembang sangat lambat.

6. Pembesaran prostat

Pembesaran kelenjar prostat bisa menyebabkan gangguan dan pembesaran otot kandung kemih akan menyebabkan fungsi kandung kemih tidak stabil.

7. Diabetes

Diabetes yang menahun serta tidak dikendalikan bisa menyebabkan komplikasi neuropati atau rusaknya pembuluh saraf besar dan kecil. Kerusakan ini juga termasuk pada saraf di bagian kandung kemih sehingga kandung kemih yang sudah penuh tidak bisa dirasakan.

8. Obesitas

Berat badan berlebihan bisa mendesak kandung kemih dan struktur pelvis. Namun, hal ini lebih sering dialami kaum wanita karena perbedaan anatomi saluran kemih.

9. Ketergantungan obat

Penelitian tahun 2009 menemukan orang yang mengonsumsi obat ketamine selama dua tahun lebih berisiko tinggi mengalami inkontinensia. Hal yang sama juga dialami oleh para pengguna narkotika.

10. Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih bisa disebabkan hubungan seksual, tetapi juga bisa disebabkan infeksi virus mengingat pada wanita letak uretra berdekatan dengan vagina. Salah satu gejala penyakit ini adalah sering berkemih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau