Bakar diri

Lagi, Dua Orang Membakar Diri

Kompas.com - 18/01/2011, 22:45 WIB

KAIRO, KOMPAS.com - Dua orang membakar diri di Mesir pada Selasa, sehingga tercatat 10 kejadian serupa di negara Arab, termasuk seorang warga Tunisia yang telah memicu tindakan revolusioner tersebut.

Pejabat keamanan Mesir mengatakan seorang lelaki pengangguran berusia 25 tahun yang menderita penyakit jiwa menyulutkan diri di utara kota Alexandria pada Selasa, menyebabkan luka bakar tingkat tiga.

Lelaki lain membakar diri di luar kantor pemerintah Mesir di Kairo, menurut laporan pejabat pada Selasa pagi. Ia hanya menderita luka ringan dan dibawa ke rumah sakit.

Kedua insiden tersebut sama dengan kejadian di Kairo Senin saat seorang pria menyiram tubuhnya dengan bensin lalu membakar diri di tengah jalan ramai, di depan Balai Rakyat.

Ia sedang dirawat di rumah sakit namun diperkirakan akan keluar dalam satu atau dua hari, kata beberapa pejabat.

Polisi Mesir Selasa (18/1/2011) mengatakan, mereka juga menahan seorang yang sedang membawa jerigen berisi bensin di dekat gedung parlemen di Kairo karena dikira akan membakar diri.

Protes membara itu bermula di Tunisia pada 17 Desember lalu saat Mohamed Bouazizi, 26 tahun, membakar diri.

Kematiannya memulai pergolakan dalam negeri dan menyebabkan pengusiran Presiden Zine El Abidine Ben Ali dari Tunisia setelah 23 tahun berkuasa.

Sejak itu, ada sembilan insiden lain, yang diperkirakan sebagai usaha peniruan bunuh diri.

Lima insiden unjuk rasa berapi setelah itu terjadi di Aljazair yang juga menjadi lokasi protes berdarah karena meningkatnya harga dasar ditambah dengan masalah pengangguran.

Lelaki pengangguran berusia 36 tahun yang membakar diri di wilayah El Oued, dekat perbatasan Aljazair dan Tunisia, merupakan kasus terakhir yang terjadi di negara utara Afrika, menurut laporan surat kabar Aljazair.

Usaha peniruan lain juga terjadi di Mauritania, saat seorang lelaki membakar diri di luar kantor kepresidenan di ibu kota Nouakchott.

Pengusiran orang nomer satu Tunisia, Ben Ali, telah membuat tidak nyaman banyak negara di Timur Tengah karena situasi yang terjadi, bersamaan dengan sejumlah kelompok oposisi yang berusaha mengambil kesempatan akan pergolakan negara itu.

Tetapi Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Abul Gheit pada Ahad telah menganggap remeh ketakutan akan perlawanan gaya Tunisia itu kepada negara Arab lainnya, dengan menyatakan tidak masuk akal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau