Tunisia

Gonjang-ganjing Ambruknya Ben Ali

Kompas.com - 19/01/2011, 03:18 WIB

Pentas politik Tunisia masih gonjang-ganjing dengan ambruknya begitu cepat rezim Zine al-Abidine Ben Ali. Persoalan yang dihadapi Tunisia saat ini adalah mereka tidak memiliki partai atau figur oposisi kuat yang siap menjadi alternatif bagi rakyat Tunisia. Rezim Ben Ali selama ini rupanya berhasil menindas partai atau tokoh yang berpotensi menjadi penantangnya.

Suatu hal yang terjadi saat ini adalah kebingungan dan anarkisme pasca-ambruknya dengan sangat cepat rezim Ben Ali itu.

Ketua parlemen yang juga presiden ad interim, Fouad Mebazza, berjanji akan menyelenggarakan pemilu dalam kurun waktu 60 hari. Terlalu singkat, sulit bagi partai atau tokoh mempersiapkan diri.

Akan tetapi, dipastikan partai-partai oposisi akan menuntut amandemen butir 40 konstitusi Tunisia sehingga membuka peluang bagi tokoh-tokoh Tunisia untuk mencalonkan diri sebagai presiden dengan sistem persaingan terbuka pada pemilu mendatang.

Ada beberapa skenario untuk Tunisia saat ini. Pertama, militer berspekulasi mengambil alih kekuasaan sementara dengan membentuk pemerintahan junta militer dalam upaya mengembalikan keamanan.

Skenario pertama itu dianggap masih jauh dari kemungkinan meskipun militer Tunisia secara de facto kini mengontrol negara. Tidak hanya bukan tradisi militer Tunisia ikut campur dalam urusan politik, tetapi tindakan militer berspekulasi mengambil alih kekuasaan juga akan dinilai bertentangan dengan aspirasi rakyat yang telah berkorban dengan darah dan air mata. Citra militer Tunisia yang kini menjulang tentu tidak mau dianjlokkan begitu saja hanya karena nafsu kekuasaan sejenak.

Sebelum ini, Tunisia dua kali memiliki pengalaman menghadapi kerusuhan besar. Pertama, kerusuhan 26 Januari 1978. Kedua, kerusuhan 3 Januari 1984 yang dikenal dengan ”intifadah roti”. Militer Tunisia berandil besar mengatasi dua kerusuhan tersebut, tetapi tidak tergoda untuk mengambil peran dalam politik.

Kedua, membentuk pemerintahan koalisi sipil terbatas hingga digelar pemilu dalam waktu 60 hari. Pemerintahan koalisi terbatas hanya melibatkan partai-partai yang memiliki kursi di parlemen sesuai dengan hasil pemilu 2009.

Partai yang memiliki kursi di parlemen hanya ada empat, yaitu Perkumpulan Konstitusional Demokrasi (RCD) yang berkuasa sebelum ini, Partai Persatuan Rakyat (PPU) pimpinan Mohamed Mouchiha, Unionist Democratic Union (UDU) pimpinan Ahmed Linoubli, dan Gerakan Pembaruan (ME) pimpinan Ahmed Ibrahim.

Ketiga, membentuk pemerintahan koalisi luas dengan melibatkan semua kekuatan politik, tanpa melihat kepemilikan kursi di parlemen. Kekuatan politik yang bisa dilibatkan di antaranya adalah kekuatan politik Islam (Gerakan Al Nahdah) pimpinan Rashid Ghannouchi, Partai Sosial Liberal (SLP), dan Gerakan Sosial Demokrat (MSD).

Atmosfer politik di Tunisia sementara ini mengarah membentuk pemerintahan koalisi sipil, tetapi belum jelas apakah koalisi terbatas atau luas.

Kemudian siapa pula yang akan memimpin pemerintahan koalisi itu? Tokoh-tokoh terbaik Tunisia memang berada di partai yang berkuasa sebelum ini, yakni RCD. Karena itu, masih disebut-sebut nama-nama pejabat atau mantan pejabat yang notabene anggota RCD untuk memimpin pemerintahan koalisi mendatang.

Di antara tokoh tersebut adalah Perdana Menteri Mohammed Ghannouchi, mantan Menteri Urusan Luar Negeri Kamel Marjan, dan mantan Menteri Dalam Negeri Ahmed Fariah.

Ghannouchi dikenal dekat dengan negara Teluk dan berjasa menarik investasi Teluk ke Tunisia. Ia dikenal bersih meskipun terlibat lama dalam pemerintahan Ben Ali.

Marjan dikenal dekat dengan AS, tetapi kelemahannya adalah masih punya hubungan keluarga dengan Ben Ali. Adapun Fariah punya pengalaman luas dan dikenal bersih.

Namun, disebut pula tokoh oposisi Najib Chebbi untuk memimpin pemerintahan koalisi mendatang. Beberapa hari mendatang, mungkin bisa lebih jelas format pemerintahan koalisi yang akan dibentuk. (Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas di Kairo, Mesir)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau