Laju Inflasi Bakal Tekan Properti

Kompas.com - 19/01/2011, 03:27 WIB

Jakarta, Kompas - Inflasi karena dampak folatilitas harga pangan serta kenaikan harga bahan bakar minyak diperkirakan bakal menekan pertumbuhan sektor properti tahun 2011. Meskipun begitu, selagi besaran inflasi masih satu digit, dampaknya terhadap properti tak begitu signifikan.

Associate Director Procon Utami Prastiana seusai konferensi pers bertema Prediksi Pasar Properti 2011-2012 dan Review Pasar Properti 2010, Selasa (18/1) di Jakarta, mengatakan, pasar utama properti (60 persen) di Indonesia adalah kelas menengah hingga menengah bawah.

Mereka membeli properti jenis rumah tinggal (landed house) dengan kisaran harga Rp 200 juta per unit hingga maksimal Rp 700 juta. Dari 60 persen pangsa pasar yang dikuasai kelompok masyarakat itu, sekitar 60 persennya dibeli untuk investasi sementara 40 persennya dijadikan rumah tinggal sendiri.

Dampak inflasi, terutama kenaikan harga BBM dan folatilitas harga pangan, akan sangat memengaruhi daya beli mereka. Utami optimistis, secara umum pasar properti di Jakarta dan Indonesia tetap akan bertumbuh tahun 2011 meski pertumbuhannya tidak setinggi 2010.

Perekonomian makro akan terus terakselerasi seiring pemulihan ekonomi global dengan pertumbuhan 6 persen hingga 6,5 persen pada 2011 dan 6,1 persen sampai 6,6 persen tahun 2012.

Meskipun begitu, sektor properti juga perlu mewaspadai ketidakpastian pemulihan ekonomi global, kenaikan harga komoditas global, dan derasnya arus modal masuk yang dapat memicu tidak stabilnya nilai tukar rupiah.

Utami mengatakan, secara umum, pertumbuhan properti masih akan terkonsentrasi di Jakarta. Di luar Jakarta, seperti di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, properti tetap tumbuh.

Luke S Rowe, Technical Advisor Commercial Leasing Procon mengatakan, tahun 2010, pasokan perkantoran di kawasan pusat bisnis Jakarta (CBD) tumbuh 5 persen dan mencapai 4,24 juta meter persegi.

Adapun penyerapan tahun 2010 tumbuh 6 persen atau ada penambahan penyerapan ruang kantor 210.000 meter persegi. Di luar CBD, pasokan tumbuh 3,2 persen. Tahun 2011-2012, pasokan perkantoran di CBD hanya akan tumbuh 4,4 persen lebih rendah 0,6 persen dari 2010. Adapun permintaan hanya akan tumbuh 5 persen. Sebaliknya di luar CBD, akan tumbuh 3,6 persen.

Ritel turun

Head of Retail Leasing Procon Wendy Haryanto menambahkan, pasokan ritel di Jakarta tahun 2010 tumbuh 5,7 persen mencapai 3,63 juta meter persegi.

Adapun pasar kondominium tahun 2011-2012 diprediksi akan tumbuh 7 persen dan pasokan apartemen sewa tahun ini diperkirakan 4.790 unit.

Sementara itu, pasar rumah hunian melalui kredit pemilikan rumah akan terdorong bila ada kemudahan mekanisme KPR dan suku bunga bank yang rendah.

Terkait harga apartemen di Jakarta, Luke menambahkan, masih ada potensi pertumbuhan harga. Harga apartemen yang tertinggi sekarang, belum menyamai harga saat sebelum krisis 1998 yang mencapai 3.500 dollar AS per meter persegi. Di masa datang, masih ada kemungkinan naik dan akan menembus menjadi 4.000 dollar AS/meter persegi. (MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau