Associate Director Procon Utami Prastiana seusai konferensi pers bertema Prediksi Pasar Properti 2011-2012 dan Review Pasar Properti 2010, Selasa (18/1) di Jakarta, mengatakan, pasar utama properti (60 persen) di Indonesia adalah kelas menengah hingga menengah bawah.
Mereka membeli properti jenis rumah tinggal (landed house) dengan kisaran harga Rp 200 juta per unit hingga maksimal Rp 700 juta. Dari 60 persen pangsa pasar yang dikuasai kelompok masyarakat itu, sekitar 60 persennya dibeli untuk investasi sementara 40 persennya dijadikan rumah tinggal sendiri.
Dampak inflasi, terutama kenaikan harga BBM dan folatilitas harga pangan, akan sangat memengaruhi daya beli mereka. Utami optimistis, secara umum pasar properti di Jakarta dan Indonesia tetap akan bertumbuh tahun 2011 meski pertumbuhannya tidak setinggi 2010.
Perekonomian makro akan terus terakselerasi seiring pemulihan ekonomi global dengan pertumbuhan 6 persen hingga 6,5 persen pada 2011 dan 6,1 persen sampai 6,6 persen tahun 2012.
Meskipun begitu, sektor properti juga perlu mewaspadai ketidakpastian pemulihan ekonomi global, kenaikan harga komoditas global, dan derasnya arus modal masuk yang dapat memicu tidak stabilnya nilai tukar rupiah.
Utami mengatakan, secara umum, pertumbuhan properti masih akan terkonsentrasi di Jakarta. Di luar Jakarta, seperti di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, properti tetap tumbuh.
Luke S Rowe, Technical Advisor Commercial Leasing Procon mengatakan, tahun 2010, pasokan perkantoran di kawasan pusat bisnis Jakarta (CBD) tumbuh 5 persen dan mencapai 4,24 juta meter persegi.
Adapun penyerapan tahun 2010 tumbuh 6 persen atau ada penambahan penyerapan ruang kantor 210.000 meter persegi. Di luar CBD, pasokan tumbuh 3,2 persen. Tahun 2011-2012, pasokan perkantoran di CBD hanya akan tumbuh 4,4 persen lebih rendah 0,6 persen dari 2010. Adapun permintaan hanya akan tumbuh 5 persen. Sebaliknya di luar CBD, akan tumbuh 3,6 persen.
Head of Retail Leasing Procon Wendy Haryanto menambahkan, pasokan ritel di Jakarta tahun 2010 tumbuh 5,7 persen mencapai 3,63 juta meter persegi.
Adapun pasar kondominium tahun 2011-2012 diprediksi akan tumbuh 7 persen dan pasokan apartemen sewa tahun ini diperkirakan 4.790 unit.
Sementara itu, pasar rumah hunian melalui kredit pemilikan rumah akan terdorong bila ada kemudahan mekanisme KPR dan suku bunga bank yang rendah.
Terkait harga apartemen di Jakarta, Luke menambahkan, masih ada potensi pertumbuhan harga. Harga apartemen yang tertinggi sekarang, belum menyamai harga saat sebelum krisis 1998 yang mencapai 3.500 dollar AS per meter persegi. Di masa datang, masih ada kemungkinan naik dan akan menembus menjadi 4.000 dollar AS/meter persegi.