Prostitusi

Hah, Bisnis Esek-esek Diminati Remaja?

Kompas.com - 23/01/2011, 12:40 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Sosiolog Universitas Sumatera Utara Prof Dr Badaruddin mengatakan, banyaknya remaja di daerah ini yang terjun dalam bisnis prostitusi, perlu diselamatkan karena mereka adalah aset bangsa dan negara.

"Kita harus ikut menyelamatkan para pelajar yang melakukan perbuatan tidak terpuji, melanggar norma agama dan hukum itu," katanya di Medan, Minggu (23/1/2011) ketika diminta komentar tentang banyaknya anak-anak mengalami eksploitasi seksual.

Sebelumnya, di Sumatera Utara ini, berdasarkan hasil survei ditemukan sebanyak 2.000 anak-anak yang mengalami eksploitasi seksual sejak 2008 hingga 2010.

"Jumlah anak-anak yang terjun dalam bisnis pelacuran itu, semakin lama terus mengalami peningkatan," kata Direktur Pusat Studi Hukum Anak dan Keluarga (PuSHAK) Ahmad Sofian di Medan.

Bahkan, yang terjun dalam praktik pelacuran itu, 30 persen di antaranya pelajar SLTP dan 45 persen SLTA.

Badaruddin mengatakan, jika problem eksploitasi anak ini tidak secepatnya diatasi oleh pemerintah, maka dikhawatirkan para remaja dan pelajar tersebut akan semakin banyak terjerumus nantinya dalam bisnis seks yang memalukan tersebut.

Seolah-olah kelihatannya seperti dibiarkan, sehingga para remaja itu tidak ada rasa takut lagi melakukan hal-hal yang tabu dan belum sepantasnya mereka lakukan.

Bahkan, kata guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara itu, dikhawatirkan bahaya penyakit HIV/AIDS juga akan tertular bagi kalangan generasi muda. Ini perlu diwaspadai.

Apalagi, pelajar dan generasi muda itu merupakan aset bangsa dan negara, perlu dijaga dari kehancuran masa depan mereka yang masih panjang.

"Ini adalah tidak terlepas dari tanggung jawab moral guru di sekolah dan para orang tua untuk tetap memberikan pembinaan dan pengawasan terhadap remaja dan pelajar tersebut," kata Badaruddin.

Para orang tua juga perlu menghilangkan pola hidup yang mewah, berlebihan dan hura-hura, mengingat situasi ekonomi yang semakin sulit saat ini.

Dengan melalui pola hidup yang seperti ini membuat anak-anak menirunya, sehingga pelajar itu dapat saja melakukan hal-hal yang tidak terpuji, bila permintaan mereka misalnya membeli telepon selular yang canggih atau pakaian yang mewah dan lainnya tidak dipenuhi.

Apalagi, dalam usia yang masih remaja itu, mereka sangat mudah terpengaruh dan tidak memikirkan hal yang baik dan buruk, yang penting keingian mereka bisa tercapai. Ini perlu menjadi perhatian serius bagi orang tua.

Hal-hal yang seperti ini sering terjadi, melanda para pelajar SLTP dan SLTA melakukan hubungan terlarang, dan akhirnya masa depan generasi muda itu akan hancur dan suram.

"Kepedulian pemerintah perlu untuk menyelamatkan anak-anak dan generasi muda yang terjun dalam bisnis prostitusi yang sangat membahayakan itu," kata Dekan FISIP USU itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau