Lahar sampai 5 Tahun

Kompas.com - 24/01/2011, 04:19 WIB

Jakarta, Kompas - Badan Nasional Penanggulangan Bencana membuat kalkulasi lahar dingin dampak letusan Gunung Merapi. Diperkirakan masih terdapat 90 persen dari 140 juta meter kubik material lahar dingin yang baru akan habis tiga tahun sampai lima tahun ke depan.

”Material lahar dingin itu akan habis tiga tahun sampai lima tahun ke depan dengan asumsi tanpa siklus letusan Gunung Merapi empat tahunan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (23/1) siang, ketika dihubungi sedang memantau aliran banjir lahar dingin di Kali Putih, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.

Sutopo mengatakan, banjir lahar dingin pada Minggu kemarin membuat jalur Yogyakarta-Magelang terputus untuk ke sembilan kalinya. Perjalanan warga dialihkan melalui jalur Purworejo. Badan jalan yang diterjang banjir lahar dingin pun bertambah parah. Saat ini diperkirakan kerusakan badan jalan yang tergerus sudah mencapai separuhnya sehingga membutuhkan penanggulangan dengan segera.

Diperkirakan 60 persen material vulkanik akan terus mengalir ke arah barat dan barat daya (Magelang). Sebanyak 40 persen lainnya akan mengalir ke arah selatan—daerah Sleman dan Klaten).

Saat ini dengan dua jalur tersebut baru mengalir 10 persen dari kawasan puncak Merapi. Namun, daya rusaknya sudah terlampau tinggi.

Menurut Sutopo, aliran lahar dingin yang membuat jalur utama Yogyakarta-Magelang terputus adalah jalur sungai purba Kali Putih. Pada sekitar tahun 1930, Pemerintah Hindia Belanda membelokkan aliran sungai purba Kali Putih itu menjadi satu dengan Kali Druju di dekatnya.

”Lahar dingin akhirnya menerabas aliran semula yang sekarang justru dijadikan permukiman oleh banyak penduduk,” kata Sutopo.

Peta risiko baru

Dampak banjir lahar dingin dari Merapi hingga sekarang, menurut Sutopo, telah menghancurkan 29 jembatan. Jembatan darurat sebagian kecil sudah diupayakan.

”Selain tuntutan jembatan darurat Bailey agar segera dipermanenkan, peta risiko yang baru perlu segera disusun,” kata Sutopo.

Berdasarkan pemantauan BNPB, aliran lahar dingin menjangkau 300 meter di sebelah kiri dan kanan sungai yang berhulu di Merapi. Menurut Sutopo, terdapat 15 sungai yang harus segera dimasukkan ke dalam peta risiko.

”Kerusakan infrastruktur jembatan akibat perkiraan volume material vulkanik yang menjadi lahar dingin itu jauh di bawah kenyataan sekarang,” kata Sutopo menambahkan.

Asumsi pembangunan jembatan yang digunakan yaitu setiap letusan Merapi akan menimbulkan material lahar dingin 1,4 juta meter kubik. Pada kenyataannya, sekarang mencapai 100 kali lipatnya.

”Curah hujan ekstrem sekarang juga makin meningkatkan risiko bencana,” kata Sutopo.

Menurut Kepala Subbidang Cuaca Ekstrem pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudiyanto, puncak musim hujan terjadi pada akhir Januari hingga memasuki Februari 2011. Hal ini amat bergantung pada kondisi belahan bumi selatan khatulistiwa.

”Sekarang masih dipantau keadaan tekanan udara rendah di sekitar perairan utara Australia. Jika terjadi siklon, berpotensi mendatangkan hujan deras secara ekstrem,” katanya. (NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau