Terlalu Reaktif Urus Gaji Naik

Kompas.com - 28/01/2011, 03:43 WIB

Jakarta, kompas - Rencana kenaikan gaji pejabat negara, termasuk gaji Presiden, dinilai terlalu reaktif. Pemerintah seharusnya mendahulukan menangani program pengentasan rakyat dari kemiskinan daripada mengusulkan kenaikan gaji pejabat.

Pendapat itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Pramono Anung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/1). ”Saya lihat rencana kenaikan gaji ini over reaktif terhadap apa yang disampaikan Presiden,” katanya.

Usulan kenaikan gaji pejabat negara yang disampaikan Menteri Keuangan Agus Martowardojo itu justru merugikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebab, menurut Pramono, hal itu memperkuat anggapan Presiden mengeluhkan gajinya yang tujuh tahun tidak naik.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu berpandangan, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan kenaikan gaji pejabat negara, termasuk Presiden. Pasalnya, selain gaji, Presiden memiliki dana taktis yang jumlahnya cukup besar sehingga dapat melakukan apa saja dengan menggunakan dana sebesar Rp 2 miliar per bulan.

Seharusnya pemerintah lebih memikirkan mempersempit kesenjangan ekonomi masyarakat dengan memperbaiki perekonomian masyarakat miskin. Bukan sebaliknya, menambah pendapatan pejabat negara dengan tingkat ekonomi relatif baik.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan, sebenarnya Presiden sudah meminta evaluasi gaji pada tahun 2006. Tidak ada kenaikan gaji kepala negara mengakibatkan gaji pejabat di bawahnya, seperti menteri dan direktur jenderal, tidak bisa dinaikkan.

Soal dana taktis bulanan sebesar Rp 2 miliar untuk Presiden dan dana Rp 1 miliar untuk Wakil Presiden, menurut Kalla, tidak bisa digunakan untuk kepentingan pribadi. Dana taktis itu hanya boleh digunakan untuk keperluan lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan kepentingan pribadi kepala negara, seperti sumbangan sosial, menutupi kekurangan dana staf, dan semacamnya.

Di Bogor, mantan Presiden yang juga Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri tidak sependapat dengan rencana pemerintah menaikkan gaji Presiden maupun sejumlah pejabat eksekutif di pemerintahan. Selain karena masyarakat tengah menghadapi kesulitan akan kenaikan harga bahan pokok, gaji dan fasilitas yang diterima Presiden sudah berlebih.

”Kalau masalah gaji eksekutif, saya merasakan sendiri, seorang Presiden dan Wapres diberi banyak fasilitas dari negara. Sejak kecil saya jadi anak Presiden, saya pernah jadi Wapres, dan terakhir jadi Presiden. Hak-hak yang diberikan kepada Presiden dan Wapres itu sudah baik dan berlebih,” kata Megawati, Kamis.

Wakil Ketua DPD PDI-P Daerah Istimewa Yogyakarta Eko Suwanto mengatakan, rencana pemerintah menaikkan gaji pejabat, termasuk gaji Presiden, dinilai telah melukai perasaan korban Merapi di Sleman, Yogyakarta.

Hal itu disebabkan rencana kenaikan gaji tersebut bergulir justru pada saat korban Merapi masih berkutat dengan kesulitan menghadapi bencana ikutan lahar dingin.

”Jangan ngurus naik gaji saja Pak Presiden, bencana di Merapi belum selesai,” kata Eko di sela-sela Rapat Koordinasi Bidang dan Pelantikan Departemen Pendidikan, Keagamaan, dan Kebudayaan di Kantor DPP PDI-P, Jakarta.

Menurut Eko, sekitar 150.000 korban letusan Gunung Merapi yang dulu mengungsi saat ini masih menghadapi kesulitan keuangan untuk memperbaiki kembali rumah mereka yang rusak. Belum lagi rumah mereka selesai diperbaiki, sebagian dari rumah itu makin rusak diterjang lahar dingin.

Selain itu, 13 sekolah yang rusak di Sleman belum juga diperbaiki. Akibatnya, sedikitnya 3.000 siswa SD dan SMP tidak dapat belajar di sekolah.

”Sedikitnya diperlukan Rp 8,84 miliar untuk memperbaiki sekolah yang rusak. Pemerintah pusat harus turun tangan mengatasi persoalan ini. Tidak mungkin mengandalkan pemerintah daerah karena kemampuan APBD terbatas. Apalagi daerah sudah habis-habisan menangani bencana sejak Merapi meletus,” katanya.

Secara terpisah, Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat mengatakan, Wapres Boediono tidak pernah membahas kenaikan gaji dirinya ataupun gaji pejabat tinggi lainnya. ”Wapres tak pernah membahasnya,” katanya.

(NTA/WHY/HAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau