JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengetahui soal beredarnya 10 seri buku mengenai dirinya yang beredar di sejumlah sekolah menengah pertama di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pengadaan buku yang diedarkan kepada siswa SMP yang akan menjadi pemilih muda pada Pemilu 2014 tersebut menggunakan uang negara.
"Bapak Presiden sesungguhnya masih belum mengetahui ada peredaran buku Bapak di beberapa sekolah di daerah," ujar Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/1/2011).
Namun, ketika ditanya lebih rinci, Julian mengatakan, Kementerian Pendidikan Nasional akan menjelaskannya. Sebelumnya, sejumlah pengamat pendidikan mengaku khawatir dengan penerbitan 10 seri buku tentang SBY.
Doni Koesoema A, misalnya, mengaku prihatin akan hal ini. Alih-alih menyediakan buku bermutu, dana rakyat dinilai tidak seharusnya dipakai untuk promosi politik "gratis" bagi pemilih muda. Alasan penerbitan buku tersebut juga mengecilkan arti buku-buku pendidikan lain, seperti ensiklopedia, kamus pengetahuan, seri-seri ilmu pengetahuan dan sastra, yang lebih dibutuhkan untuk mengembangkan wawasan siswa.
"Kehadiran buku-buku SBY juga melecehkan lembaga pendidikan karena tidak lagi menganggap lembaga pendidikan sebagai ruang penting bagi pembentukan generasi bangsa yang cerdas, terbuka, dan berhak memperoleh semua informasi penting yang relevan dengan tahap perkembangan pendidikannya. Pengetahuan anak-anak dibatasi dan diarahkan pada gambaran figur tertentu," kata Doni dalam tulisannya yang dimuat harian Kompas edisi Jumat (28/1/2011).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang