JAKARTA, KOMPAS.com - Saat hari kedua ketegangan politik di Mesir, Rabu ( 26/1/2011 ), Tauhid Rambe (30) sempat berkata bohong dalam perbincangan dengan ibunya melalui sambungan telepon soal keadaan dirinya di sana.
"Sebelum saluran komunikasi diputus rezim Mubarak hari Kamis (27/1/2011), saya dan ibu masih bisa kontak. Saya sempat berbohong ke ibu ketika itu," ujar Tauhid, Kamis ( 3/2/2011 ) di Jakarta.
Mahasiswa Universitas Al Azhar Fakultas Syariah Islamiyah Tingkat 3 ini ditelepon oleh ibunya tentang kabar di Kairo pada Rabu jam 18.00 waktu setempat. "Saya jawab, 'Alhamdulillah aman-aman saja'. Ibu bilang, syukurlah aman," tutur Tauhid.
Padahal, kata dia, situasi di Mesir pada Rabu sore itu cukup memanas. Apalagi, jam malam diberlakukan mulai jam 16.00 waktu Kairo. "Kalau ke bawah itu kita harus menunjukkan paspor," ucap pria asli Padangsidempuan, Sumatera Utara itu.
Tauhid bersama lima rekan mahasiswa Al Azhar lainnya tinggal di sebuah apartemen dekat kampus. Di bawahnya, ada pasar yang tengah dijaga ketat oleh aparat keamanan.
Tauhid memaparkan, keadaan di pasar tampak rusuh dan tegang. Ada pemeriksaan ke orang-orang yang berjenggot dan memakai jubah. "Apakah kamu anggota Ikhwanul Muslimin?" tanya salah satu polisi.
Saat ini, masih ada 3 orang WNI bertahan di apartemennya. Mereka adalah Fikri Habibi (Banten), Mirwan Nasution (Sibuhuan, Sumut) dan Filhanudin Hasibuan (Padangsidempuan, Sumut). "Ada satu lagi, namanya Bakri Husaini (Jambi). Dia langsung keluar dari Mesir karena jauh-jauh hari memang berencana berangkat dari Kairo tanggal 1 Februari lalu," kata Tauhid.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang