PSK Laporkan Mucikari ke Polisi

Kompas.com - 03/02/2011, 21:29 WIB

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com — Diana (27), wanita asal Palembang, Sumatera Selatan, penghuni Wisma Bina Ria, Parit Enam,  Pangkal Pinang, Bangka Belitung, melaporkan mucikarinya, Mami Rose, ke Kepolisian Sektor Bukit Intan, Rabu (2/2/2011). Ia mengaku telah dipukul oleh Mami Rose.

Permasalahan tersebut dipicu saat Diana mengambil air. Mami Rose kemudian memaksa dia supaya cepat mandi. Namun, Diana tidak mengindahkan permintaan sang mami. Akibatnya, sang mami marah dan membenturkan kepala Diana ke tembok.

"Tahu sendiri, kan, kami di Wisma biasanya mandi siang. Mami maksa saya mandi cepat. Saya waktu itu sedang menimba air di sumur, mami datang dan membenturkan kepala saya ke tembok," ujar Diana.

Kepada polisi, ia mengaku sebenarnya sudah tidak tahan lagi bekerja menjual diri di Parit Enam. Ia pun berencana hendak pulang. Namun, karena uang belum cukup, ia belum bisa pulang.

"Saya sudah tidak tahan lagi kerja beginian, Pak. Saya minta dipulangkan saja," kata Diana agar si mami bisa dipanggil polisi dan masalah tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak kepolisian kemudian mencari Mami Rose agar masalah tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau