Imlek dan Tekad Bersama
Perayaan Imlek 2011 berlangsung meriah, terbuka, dan penuh kegairahan. Imlek telah terintegrasi dalam agenda nasional sebagai hari libur.
Dengan perayaan Imlek, peta kusam yang bernuansa diskriminatif terasa semakin jauh disingkirkan dan dicampakkan. Seiring dengan itu, masyarakat keturunan Tionghoa semakin leluasa mengekspresikan diri dalam bidang sosial, kebudayaan, dan politik.
Kiprah masyarakat keturunan tidak lagi sebatas bidang ekonomi, berdagang, tetapi juga mulai merambah bidang lain. Perkembangan ini tidak hanya memberikan kehormatan dan kepercayaan, tetapi sekaligus memperteguh posisi masyarakat keturunan Tionghoa sebagai warga negara yang penuh. Bukan hanya hak yang penuh, melainkan juga penuh kewajiban dan tanggung jawabnya.
Melalui perayaan Imlek, kiprah masyarakat keturunan Tionghoa memperteguh amanat konstitusi yang menekankan Bhinneka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia bersifat majemuk dalam latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama, tetapi satu sebagai negara-bangsa.
Kebinekaan merupakan keniscayaan alamiah, tetapi yang paling dibutuhkan sebenarnya tekad hidup bersama sebagai satu bangsa, seperti dikatakan filsuf Perancis, Ernest Renan. Semua elemen bangsa, termasuk masyarakat keturunan Tionghoa, harus terpanggil untuk memiliki tekad hidup bersama dengan sesama warga negara.
Segala bentuk eksklusivisme dalam bidang ekonomi dan politik harus diakhiri. Juga perlu diakhiri praktik bisnis dan perilaku kekuasaan masa lalu yang sarat korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hadirnya budaya baru yang menekankan kesamaan hak dan kewajiban sangatlah mendesak.
Kiranya tidak ada lagi keluhan tentang perlakuan diskriminatif sebagai sisa-sisa dan warisan ketentuan masa lalu. Perlakuan diskriminatif perlu diganti dengan mendorong rasa setia kawan, solidaritas, dan tekad hidup bersama. Tekad hidup bersama tidak pertama-tama diperlukan waktu senang atau ketika merayakan kegembiraan, tetapi terutama ketika menghadapi kesulitan.
Kiranya perlu dikutip pandangan Ernest Renan yang menyatakan, kesan-kesan paling kuat dalam hidup berbangsa bukanlah dalam kesenangan dan kemenangan, melainkan pada saat menghadapi kesulitan. Sebab, kesulitan menuntut pengorbanan dan kerja sama.
Bangsa-negara Indonesia sedang menghadapi berbagai persoalan, seperti kemiskinan dan kesenjangan sosial, yang menuntut kerja sama dan solidaritas. Perayaan Imlek 2011 diharapkan akan menggerakkan masyarakat keturunan Tionghoa dan elemen bangsa lain untuk bersama-sama mengatasi berbagai persoalan bangsa dalam bidang ekonomi, politik, keamanan, dan budaya.
Kekompakan dan sinergi semua elemen bangsa tidak hanya dibutuhkan untuk mengatasi persoalan domestik, tetapi juga sangat diperlukan untuk menghadapi kompetisi global yang begitu keras dan rumit.
***
Adu Kuat Mubarak dan Rakyat
Perkembangan terakhir di Mesir semakin memprihatinkan. Ke mana krisis politik itu akan bermuara, tetaplah menjadi pertanyaan besar.
Kalau berita yang disiarkan oleh jaringan televisi internasional dan diberitakan oleh kantor-kantor berita benar, sungguh perkembangan krisis politik di negeri Firaun itu semakin buruk. Jaringan televisi internasional dan kantor-kantor berita memberitakan, terjadi bentrokan antara kelompok yang pro dan anti terhadap pemerintah. Bentrokan di Lapangan Pembebasan itu menelan lima korban jiwa dan melukai ratusan orang lainnya.
Selama ini, Lapangan Pembebasan menjadi pusat pergerakan, pusat perlawanan terhadap pemerintahan Presiden Hosni Mubarak. Tuntutan mereka yang diteriakkan sejak akhir bulan lalu sangat jelas: mereka menuntut agar Mubarak yang sudah berkuasa hampir 30 tahun mengundurkan diri.
Selama sepekan, nyaris gerakan rakyat yang menuntut pembaruan itu tidak mendapatkan perlawanan, kecuali dari polisi. Bentrokan antara polisi dan rakyat juga menewaskan sekitar 300 orang. Sementara tentara lebih mengambil sikap akomodatif.
Akan tetapi, kemarin, aksi rakyat yang cenderung damai itu diserang oleh kelompok yang mengatasnamakan propemerintah sehingga bentrokan antara yang pro dan anti terhadap pemerintah pun pecah. Siapa kelompok propemerintah itu? Menurut berita yang tersiar, mereka yang tertangkap massa antipemerintah memiliki identitas diri yang berhubungan dengan polisi.
Kalau berita itu benar, sungguh ini sebuah kesalahan fatal. Tindakan penyerangan terhadap massa antipemerintah, apalagi dilakukan oleh ”polisi”, hanya akan memperbesar semangat perjuangan rakyat, memperteguh tekad mereka untuk melawan pemerintah dan menuntut mundurnya Mubarak.
Cara-cara seperti itu tidak akan membantu penyelesaian krisis. Yang terjadi justru sebaliknya, antipati dan kebencian terhadap polisi dan juga rezim yang berkuasa akan meningkat.
Apabila bentrokan antara yang pro dan anti terhadap pemerintah terus berlanjut, bukan mustahil militer yang selama ini menahan diri akan tergoda untuk turun menyelesaikan masalah. Saat ini militer masih ”diam”. Mereka tidak ingin terlihat prorakyat dan juga tidak ingin menentang pemerintah. Namun, sampai kapan sikap itu akan dipertahankan jika situasi di lapangan semakin buruk.
Kita melihat situasi memang bertambah kritis. Pidato Mubarak, yang menyatakan akan segera mengadakan pemilu dan tidak akan mencalonkan diri lagi, tidak diterima rakyat dan kelompok oposisi. Tuntutan mereka tetap sama, Mubarak segera turun. Kini terjadi adu ketahanan antara pemerintah—Mubarak—dan rakyat.