Koordinasi Tim Masih Rapuh

Kompas.com - 06/02/2011, 03:36 WIB

Jakarta, Kompas - Pelatih tim nasional Alfred Riedl menilai banyak pelajaran bisa dipetik dari uji coba tim pra-olimpiade melawan Pelita Jaya U-21 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang berakhir 1-1, Sabtu (5/2). Sejumlah kesalahan dilakukan pemain sehingga permainan tim belum padu.

”Saya belum puas dengan penampilan para pemain. Permainan mereka kurang bertenaga. Kondisi fisik mereka tidak terlalu bagus. Namun, para pemain sudah bekerja keras,” ujar Riedl.

Mengenai penampilan barisan penyerang yang sering membuang kesempatan memanfaatkan peluang mencetak gol, Riedl menilai selama laga memang banyak kesalahan individu yang menyebabkan kerja sama kurang padu. Para pemain masih lebih banyak bermain individu, terutama saat menyerang. Akibatnya, banyak peluang mencetak gol yang terbuang. ”Banyak kesalahan individu untuk diperbaiki. Mereka belum bermain sebagai sebuah tim, harus dibenahi,” ujar Riedl.

Perbaikan penampilan tim diperlukan untuk menghadapi timnas U-23 Hongkong pada Rabu, 9 Februari. Tim dijadwalkan terbang ke Hongkong pada Selasa.

Riedl yang menerapkan formasi 4-4-2 menurunkan duet penyerang Yongki Aribowo dan Titus Bonai sepanjang pertandingan. Di belakang kedua bomber muda itu ada gelandang David Laly dan Hendro Siswanto. Sayap kanan diisi Engelbert Sani dan di kiri ada Aris Alfiansyah. Riedl tidak memasang sayap kiri Oktovianus Maniani yang cedera hamstring. Barisan pertahanan dijaga bek tengah Gunawan dan Septia Hadi. Pemain keturunan Indonesia-Belanda, Diego Michiels, dipasang di bek kanan dan Achmad Farisi di bek kiri.

Serangan timnas lebih dominan dari sayap kanan melalui kerja sama Diego dan Engelberth. Keduanya bagus dalam penempatan posisi saat menerima bola dan memiliki kecepatan menembus pertahanan. Namun, serangan yang dibangun selalu patah saat mendekati kotak penalti.

Tim pra-olimpiade tertinggal lebih dulu pada menit ke-41 melalui kerja sama apik pemain Pelita Jaya. Penyerang Pelita, Makdis Alfarizi, lolos dari jebakan offside saat menerima umpan dari lapangan tengah. Pemain tengah Pelita itu menusuk sisi kanan kotak penalti melewati dua pemain timnas. Ia menembakkan bola ke sudut kiri gawang menjauhi kiper Kurnia Meiga yang bergerak ke kanan.

Tiga menit kemudian, Hendro Siswanto menyamakan kedudukan memanfaatkan back pass dari sektor kiri. Pemain Persela Lamongan itu berdiri bebas di depan kotak penalti dan leluasa melepaskan tendangan keras yang menjebol gawang Pelita.

Berkabung

Dalam pertandingan ini, para pemain timnas mengenakan pita hitam di lengan kiri sebagai tanda bela sungkawa atas meninggalnya Manajer Tim Nasional U-23 Adjie Massaid. Adjie meninggal pada Sabtu dini hari di Rumah Sakit Fatmawati dengan indikasi serangan jantung. Adjie dimakamkan di Pemakaman Jeruk Purut pada Sabtu sore.

”Saya pribadi terkejut dengan berita itu. Kami semua berbela sungkawa, tetapi hal itu tidak memengaruhi penampilan tim,” ujar Riedl.

Laga uji coba pertama ini disaksikan oleh ratusan masyarakat penggemar sepak bola. Mereka masuk melalui pintu merah di sisi selatan stadion. Sejumlah penggemar sepak bola itu duduk di kursi tribune timur. Ada pula yang duduk-duduk di rumput sisi luar lintasan atletik yang mengelilingi lapangan dan di kaki obor utama.

Penonton semakin ramai dan sempat memancing emosi Riedl karena beberapa orang menonton di tepi lapangan. Pelatih asal Austria itu lalu mengomel dan meminta staf Badan Tim Nasional untuk menertibkan penonton. (ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau