Revolusi nil

Ribuan Demonstran Tetap Bertahan

Kompas.com - 08/02/2011, 03:28 WIB

Musthafa Abd Rahman

Kairo, Kompas - Ribuan demonstran antipemerintah tetap bertahan di Alun-alun Tahrir di pusat kota Kairo meski kehidupan warga di ibu kota Mesir itu berangsur-angsur pulih, Senin (7/2).

Alun-alun pun berubah menjadi seperti bumi perkemahan ketika sekitar 2.000 demonstran memutuskan menginap di situ dengan mendirikan tenda atau tidur di tempat terbuka sambil membungkus badan dengan selimut wol tebal.

Sebagian dari mereka sengaja tidur di depan roda tank dan kendaraan lapis baja tentara untuk mencegah kendaraan tersebut bergerak mengusir mereka. Para pemrotes bertekad akan tetap bertahan di Alun-alun Tahrir sampai Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri.

Gerakan prodemokrasi yang dijuluki ”Revolusi (Sungai) Nil” itu juga menolak mengakui dialog antara Wakil Presiden Omar Suleiman dan para tokoh oposisi, termasuk perwakilan Ikhwanul Muslimin, sehari sebelumnya. ”Saya menolak dialog. Kami tidak mengakui pemerintahan saat ini. Mubarak harus pergi. Penganiaya itu harus minggat. Kami tak akan putus asa. Kami akan tetap di sini sampai dia pergi,” kata Sayyed Abdel-Hadi (28), seorang akuntan.

Pemrotes lain juga tak mengakui peran Wakil Presiden Suleiman. ”Kami tak ingin Sulei- man, (karena) ia simbol Mubarak. Kalau ia yang jadi presiden, kami akan menggelar revolusi lagi. Sudah 30 tahun kami hidup dalam kehinaan dan ketidak- adilan,” tutur Osama Gamal (22), seorang guru.

Sebagian pemrotes itu juga masih memblokade jalan masuk menuju kompleks Mugamma el-Tahrir, kompleks pusat administrasi pemerintahan Mesir, yang berisi 14 kantor departemen.

Para pegawai negeri dan warga yang membutuhkan layanan administrasi antre di depan pintu masuk yang diblokade para pemrotes. ”Para pemrotes itu menghalangi kami masuk. Pegawai lain ada yang datang lebih pagi, tetapi akhirnya pulang,” kata Kamal, seorang pegawai negeri.

Untuk menunjukkan revolusi ini tidak dikendalikan kelompok Islam Ikhwanul Muslimin, para demonstran sengaja memilih orang-orang tak berjanggut untuk menjaga semua pintu masuk menuju kompleks Mugamma. ”Saya butuh 10 orang tak berjanggut untuk berjaga di sini,” ujar seorang koordinator lapangan pemrotes.

Meski berada di tengah revolusi, suasana di Alun-alun Tahrir sudah tidak mencekam seperti pekan lalu saat terjadi bentrokan berdarah antara kelompok pro dan anti-Mubarak. Kini suasana di Tahrir bahkan seperti pasar malam, lengkap dengan orang bermain musik, membaca puisi, dan para pedagang asongan menjajakan berbagai macam barang, mulai dari kurma, teh panas, jus buah, keripik kentang, sampai kaus kaki.

Sesekali terdengar seseorang meneriakkan slogan anti-Mubarak, yang lalu diikuti semua orang sambil bertepuk tangan.

Para demonstran juga masih bertahan, meski dengan jumlah lebih sedikit, di kota Alexandria dan Suez. Mereka merencanakan aksi protes besar-besaran lagi pada Selasa ini dan Jumat nanti.

Mulai normal

Di luar kawasan Alun-alun Tahrir, kehidupan ekonomi di Kairo mulai berangsur pulih. Penduduk ibu kota Mesir itu mulai berangkat ke tempat kerja masing-masing. Bank dan pusat-pusat pertokoan mulai beroperasi.

Kemacetan kendaraan di jalan-jalan di Kairo sudah terasa. Penduduk terlihat antre panjang di ATM bank-bank untuk mengambil gaji setelah selama sepekan bank tutup.

Juru bicara bursa efek di Kairo, Hisham Turk, mengatakan, bursa saham di kota itu akan mulai buka hari Minggu mendatang. ”Bursa yang ditutup karena perkembangan situasi akan dibuka kembali pada 13 Februari dengan syarat situasi makin stabil sampai hari itu. Sistem perbankan juga diharapkan sudah berjalan dengan kapasitas penuh pada hari itu sehingga pembukaan (bursa) akan stabil,” papar Turk.

Meski demikian, kondisi keamanan belum stabil di beberapa titik. Di kawasan kelas menengah Shubra, Kairo, misalnya, warga masih melarang wartawan asing masuk. Warga tampak berjaga-jaga sambil membawa senjata tajam dan pentungan, menangkap setiap wartawan asing yang ketahuan dan menyerahkan mereka kepada tentara.

Para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir juga melaporkan berbagai insiden keamanan. Para mahasiswa itu ditangkap dan ditahan pihak militer Mesir tanpa sebab jelas. ”Militer mendatangi kami di rumah kami. Mereka satu kompi dengan para pemimpin mereka. Semua membawa senjata laras panjang lengkap,” tutur seorang mahasiswa yang enggan disebut namanya karena khawatir keselamatannya terancam.

Beberapa mahasiswa yang tinggal di kawasan Demerdesh, Kairo, terpaksa mengungsi setelah hampir setiap malam mendengar bunyi tembakan. ”Bahkan dua hari setelah hari Jumat, pagi-pagi, ditemukan dua orang tewas tertembak di depan Masjid Syekh Qeshyik,” tulis mahasiswa itu dalam surat elektronik.(Reuters/AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau