Marina Nusantara Dihantam Ombak

Kompas.com - 08/02/2011, 03:30 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS - Gelombang setinggi 3,5 meter-4 meter di Laut Jawa diduga menjadi pemicu bocornya KM Marina Nusantara. Kapal roro yang mengangkut 219 penumpang dan 30 kendaraan itu diketahui bocor setelah berada di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, Minggu (6/2) malam.

Saat itu, Kapal Motor (KM) Marina Nusantara tengah dalam pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Semua penumpang dapat dievakuasi menggunakan tiga kapal. Akan tetapi, hingga Senin siang, semua kendaraan yang diangkut dalam kapal itu belum dikeluarkan.

Kondisi kapal juga masih kandas di daerah Pulau Kaget, perairan Sungai Barito. Rencananya, Senin malam kapal baru ditarik menuju Pelabuhan Trisakti.

Kepala Cabang Pelayaran PT Prima Vista Banjarmasin Faiq Luqman Elhakim membantah tudingan bahwa kapalnya sudah tua dan tidak layak berlayar. Menurut dia, kapal yang bertolak dari Tanjung Perak, Sabtu malam, itu dibuat pada 1990-an. Jumlah penumpang dan muatan kapal saat itu juga kurang dari kapasitas maksimum 1.250 penumpang dengan jumlah kendaraan 32 unit.

”Kemungkinan karena cuaca. Dalam perjalanan dari Surabaya, ketinggian gelombang mencapai 3,5 meter hingga 4 meter,” ujar Luqman. Untuk mengetahui penyebab pasti, menurut Luqman, pihaknya tengah melakukan penyelidikan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kebocoran pada lambung kiri baru diketahui saat kapal memasuki wilayah muara Sungai Barito. Saat itu, nakhoda, Solikin, melapor kepada syahbandar setelah terlebih dahulu mengandaskan kapal ke daerah yang lebih dangkal.

Masih dicari

Sementara itu, pencarian lima penumpang kapal tradisional asal Pulau Tanakeke di perairan Takalar, Sulawesi Selatan, belum membuahkan hasil. Tim penyelamat terkendala cuaca buruk dan ketinggian gelombang laut yang mencapai lebih dari 3 meter.

Kapal tradisional berpenumpang 13 orang tersebut tenggelam setelah dihantam gelombang laut, 2,4 kilometer dari dermaga di Pantai Lamangkia, Kecamatan Mappakasunggu, sekitar 20 kilometer dari pusat kota Takalar, Sabtu.

Lima penumpang hingga kini belum ditemukan, yakni Baso Daeng Gasing (40), Sendong (50), Daeng Sayu (50), Daeng Bollo (45), dan Cenrang (35). Adapun delapan penumpang lain berhasil diselamatkan nelayan yang melintas di lokasi kejadian.

Di Pelabuhan Gresik, Jawa Timur, kapal-kapal tujuan Bawean yang tertahan sejak 1 Februari lalu juga belum bisa diberangkatkan. Akibatnya, tidak hanya penumpang yang harus tertahan, tetapi pasokan bahan makanan dan sayuran juga tak bisa diseberangkan.

Terkait dengan cuaca itu, nelayan di sejumlah daerah terpaksa mengurangi frekuensi melaut. (WER/RIZ/ACI/RAZ)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau