Saat itu, Kapal Motor (KM) Marina Nusantara tengah dalam pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Semua penumpang dapat dievakuasi menggunakan tiga kapal. Akan tetapi, hingga Senin siang, semua kendaraan yang diangkut dalam kapal itu belum dikeluarkan.
Kondisi kapal juga masih kandas di daerah Pulau Kaget, perairan Sungai Barito. Rencananya, Senin malam kapal baru ditarik menuju Pelabuhan Trisakti.
Kepala Cabang Pelayaran PT Prima Vista Banjarmasin Faiq Luqman Elhakim membantah tudingan bahwa kapalnya sudah tua dan tidak layak berlayar. Menurut dia, kapal yang bertolak dari Tanjung Perak, Sabtu malam, itu dibuat pada 1990-an. Jumlah penumpang dan muatan kapal saat itu juga kurang dari kapasitas maksimum 1.250 penumpang dengan jumlah kendaraan 32 unit.
”Kemungkinan karena cuaca. Dalam perjalanan dari Surabaya, ketinggian gelombang mencapai 3,5 meter hingga 4 meter,” ujar Luqman. Untuk mengetahui penyebab pasti, menurut Luqman, pihaknya tengah melakukan penyelidikan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kebocoran pada lambung kiri baru diketahui saat kapal memasuki wilayah muara Sungai Barito. Saat itu, nakhoda, Solikin, melapor kepada syahbandar setelah terlebih dahulu mengandaskan kapal ke daerah yang lebih dangkal.
Sementara itu, pencarian lima penumpang kapal tradisional asal Pulau Tanakeke di perairan Takalar, Sulawesi Selatan, belum membuahkan hasil. Tim penyelamat terkendala cuaca buruk dan ketinggian gelombang laut yang mencapai lebih dari 3 meter.
Kapal tradisional berpenumpang 13 orang tersebut tenggelam setelah dihantam gelombang
Lima penumpang hingga kini belum ditemukan, yakni Baso Daeng Gasing (40), Sendong (50), Daeng Sayu (50), Daeng Bollo (45), dan Cenrang (35). Adapun delapan penumpang lain berhasil diselamatkan nelayan yang melintas di lokasi kejadian.
Di Pelabuhan Gresik, Jawa Timur, kapal-kapal tujuan Bawean yang tertahan sejak 1 Februari lalu juga belum bisa diberangkatkan. Akibatnya, tidak hanya penumpang yang harus tertahan, tetapi pasokan bahan makanan dan sayuran juga tak bisa diseberangkan.
Terkait dengan cuaca itu, nelayan di sejumlah daerah terpaksa mengurangi frekuensi melaut.