Prius HV versus Prius PHV

Kompas.com - 08/02/2011, 08:21 WIB

DETROIT, KOMPAS.com - Awal tahun depan, Toyota  menambah varian baru Prius yang sudah gencar diperkenalkan sejak 2009,  yaitu versi Plug-in  atau plug-in hybrida vehicle (PHV). Sudah banyak yang  tahu,  Prius PHV baterainya bisa diisi dengan mencolokkan stekernya ke  stop kontak listrik di rumah.

Versi sekarang (tentunya menjadi konvensional), yaitu hibrida non-plug-in disebut hybrid vehicle (VHV), baterainya tidak bisa disi dengan memanfaatkan energi listrik dari rumah. Jadi, di pasarkan nantinya akan terjadi pertarungan antara Prius PHV dengan Prius HV.

Baterai
Perbedaan utama Prius PHV dengan HV adalah baterai. Prius HV menggunakan baterai Nicke Metal Hydride (NiMH) sedangkan PHV, lithium-ion (li-on). Harga dan ukuran baterai berbeda. Begitu juga cara penanganannya. NiMH lebih murah sampai 75 persen dibandingkan li-ion yang berukuran besar.

Prius PHV menggunakan tiga paket baterai li-ion. Akibatnya, bobot mobil ini mencapai 1.520 kg atau 136 kg lebih berat dari HV hanya 1.384 kg.  

Baterai ditempatkan di bawah jok belakang dan ban serep (masing-masing 1,75 kWh)  yang bertugas Prius menjadi “mobil listrik murni”. Dua baterai tersebut ditugaskan memasok energi untuk motor listrik secara berurutan sampai habis 80 persen.

Setelah itu, PHV bekerja sebagai HV dan dibantu oleh baterai ketiga (Toyota justru menyebutkanya baterai ketiga). Baterai terakhir ini tugasnya menyimpan listrik yang dihasilkan dari rem (regeneratif) dan selanjutnya digunakan memutar motor listrik saat mobil berakselerasi. Utamanya  ketika mobil digerakkan oleh mesin bensin.

Karena  baterai lithium-ion bisa diisi oleh listrik rumah, berarti  biaya bensin untuk Prius PHV betrkurang. Berdasarkan perhitungan Toyota, kerja maksimum Prius PHV pada mode EV per tahun sekitar 5.600 – 6.400 km. Jarak segitu, setara dengan menghabiskan bensin 265 – 303 liter pada Prius  HV atau yang masih menggunakan baterai NiMH.

Kesimpulannya, penghematan (pengurangan biaya beli bensin) setahun, menurut Automotive Engineering International (AEI) yang diberi kesempatan mengetes Prius PHV bulan lalu, hanya 110 dolar AS. Itu belum belum termasuk biaya listrik.  

Pertanyaannya, apakah dengan nilai tambah tersebut, konsumen mau bekorban membeli Prius PHV dengan harga jauh lebih mahal? Berdasarkan analisi tersebut, AEI berkesimpulan, konsumen  akan tetap memilih Prius Gen-3 konvensional yang dijual mulai dari 22.800 dolar dan  termahal 28.070 dolar AS.  

Faktor lain,  baterai NiMh Prius yang dibuat oleh Panasonic, total produksinya sudah mencapai 2 juta unit. Faktor ini pula  pula yang menyebabkan Prius bisa bersaing dengan produk hibrida Honda dan Volkswagen TDi.

Tes
Sekarang ini, Toyota lagi mengetes 500 unit Prius PHV di Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Salah satunya  dicoba oleh AEI. Dijelaskan, untuk mesin dan motor listrik tidak berbeda dengan Prius Gen-3  konvensional, baik mesin bensin 1,8 liter maupun motor listrik. 

Pada mode EV (baterai terisi penuh), Prius PHV hanya bisa dikendarai untuk menempuh jarak 19 – 21 km (klaim Toyota 23,4 km) dengan pemanas dimatikan. Kalau pemanas dihidupkan pada  20 derajat celcius, jarak tempuh hanya 18,3 km (suhu di luar minus 6 derajat celcius). 

Di jalan tol, mode EV bisa dikebut 100 km. Di atas 100 km/jam, Prius kembali ke kondisi HV.  Hal yang sama juga terjadi bila energi baterai habis. Sementara itu, klaim Toyota, konsumsi bensin Prius PHV hanya  30,6 km/liter. Waktu yang dibutuhkanmengisi baterai tergantung tegangan: 100 volt, 180 menit dan 200 volt,  hanya 100 menit.

Tambahan lain, untuk mendinginkan baterai Prius PHV digunakan tiga kipas  yang dikontrol melalui 42 sensor untuk memantau suhu sel baterai. Tambahan tersebut jelas menyebabkan membuat harganya makin mahal. Alhasil, agar konsumen tidak bingung, Toyota menawarkan dua pilihan: Prius dengan paket HV berbaterai NiMH atau PHV dengan lithium-ion.

Karena HV masih kompetitif, Toyota juga sudah siap memasarkan versi minivan, disusul sub-kompak –prototipenya dipamerkan awal bulan lalu di Detroit Auto Show 2011 – yaitu  Prius C.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau