JAKARTA, KOMPAS.com — Pencegahan bencana banjir di Jakarta dan pengurangan dampaknya membutuhkan peran serta dan perubahan paradigma masyarakat. Persoalan banjir bukan hanya tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melainkan juga tanggung jawab masyarakat.
Kepala Bidang Edukasi Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Jo Kumala Dewi, menyebutkan dua hal penting dalam peran masyarakat untuk mengurangi dampak banjir, yakni terkait pendidikan lingkungan dan paradigma soal sampah. "Kalau masalah sampah, bagaimana mengubah paradigma warga," kata Jo, Selasa (8/2/2011), dalam sebuah diskusi di Jakarta Media Center.
Selama ini, menurut Jo, warga melihat tumpukan sampah sebagai suatu hal yang menjijikan meski sampah tersebut juga berasal dari dirinya. Padahal, sampah tidak hanya tumpukan yang tak bermanfaat melainkan bisa diolah dengan cara reduce, reuse, recycle (3R). "Sampah juga bisa bernilai ekonomi bila kita melakukan 3R dan bisa mengurangi beban volume sampah tinggi yang berujung pada banjir," tutur Jo.
Selain itu, kata Jo, masalah pendidikan lingkungan hidup ini masih perlu juga perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku warga. "Pendidikan lingkungan memerlukan agen-agen perubahan yang terbentuk melalui komunikasi jaringan. Ini bisa memberi pendidikan lingkungan kepada masyarakat dengan peningkatan pengetahuan, sehingga terjadi perubahan perilaku lewat komunikasi yang efektif dan efisien," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang