Cat Berbasis Air yang Ramah Lingkungan

Kompas.com - 11/02/2011, 03:11 WIB

Membaca Tanda- tanda

Kita saksikan udara
abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pagi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan…

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

(Cuplikan puisi Taufiq Ismail, 1982)

Cuplikan puisi Taufiq Ismail yang dibuat pada tahun 1982 itu sangat relevan untuk menggambarkan keadaan Bumi pada saat ini yang suhunya semakin panas (global warming). Puisi Taufiq Ismail yang dibacakan oleh Happy Salma di Training Center PT Honda Prospect Motor, Jakarta, Selasa (8/2), pada acara peluncuran penggunaan water based paint (cat berbasis air) dalam perbaikan body & paint di bengkel resmi Honda. Dari 86 dealer Honda di Indonesia, 39 dealer di antaranya memiliki fasilitas body & paint.

Cat berbasis air itu adalah material cat yang lebih ramah lingkungan karena menggunakan kandungan tiner (thinner) yang lebih sedikit dibandingkan dengan cat konvensional yang sepenuhnya menggunakan kandungan bahan dasar tiner. Material pelarut cat yang digunakan dalam cat berbasis air itu adalah air yang telah dimurnikan (dipisahkan dari mineral-mineral yang terkandung di dalamnya) sebanyak 70 persen.

Keuntungan yang didapat dari penggunaan cat berbasis air adalah kandungan senyawa organik yang cepat menguap (VOC) yang

jauh lebih rendah sehingga lebih aman bagi manusia dan lebih ramah untuk lingkungan. VOC merupakan salah satu bahan kimia yang dikhawatirkan menjadi pengganggu kehidupan manusia.

Perusahaan-perusahaan otomotif dunia sudah membaca tanda-tanda yang terjadi di alam. Itu sebabnya, sejak beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan itu berlomba-lomba membuat mobil-mobil yang ramah terhadap lingkungan.

Emisi (gas sisa pembakaran) yang dihasilkan mobil-mobil keluaran terbaru semakin lama semakin rendah kadar polusinya. Bahan-bahan mentah dan bahan-bahan baku yang digunakan untuk membuat mobil pun semakin banyak yang dapat didaur ulang (recycle) sehingga ramah terhadap lingkungan.

Bukan itu saja, perusahaan-perusahaan otomotif dunia pun berlomba-lomba membuat mobil yang ramah lingkungan. Mulai dari mobil hibrida, yang menggabungkan mesin konvensional dan motor listrik, mobil fuel cell (mobil listrik yang menggunakan hidrogen), dan mobil yang menggunakan bahan bakar alternatif.

Komitmen terhadap lingkungan juga diperlihatkan oleh perusahaan-perusahaan otomotif dunia dengan menjadikan air limbah yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatan mobil itu ramah terhadap lingkungan. Melalui suatu proses tertentu, air limbah pabrik aman digunakan untuk mengisi kolam ikan dan untuk menyiram tanaman. Dengan demikian, pabrik pembuat mobil itu dapat dikategorikan sebagai pabrik yang hijau atau ramah terhadap lingkungan di sekitarnya. Tidak hanya di negara asalnya, tetapi juga di negara-negara di mana perusahaan-perusahaan mobil itu mempunyai pabrik, termasuk di Indonesia.

Sejalan dengan itu, PT Honda Prospect Motor sebagai agen tunggal pemegang merek mobil Honda di Indonesia menggunakan cat berbasis air untuk perbaikan body & paint di bengkel-bengkel resminya. Pada saat ini, penggunaan cat berbasis air baru digunakan di bengkel-bengkel resmi Honda. Dalam tahap selanjutnya, cat berbasis air juga akan digunakan PT Honda Prospect Motor di pabriknya di wilayah Karawang.

Menjawab pertanyaan, Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor, mengatakan, sengaja bengkel-bengkel resmi mobil Honda yang didahulukan, mengingat di bengkel pengerjaan pengecatan dilakukan oleh manusia. Pabrik bisa menyusul, mengingat pengerjaan pengecatan dilakukan oleh robot. Dan, sisa-sisa VOC diproses dulu sehingga limbahnya ramah bagi lingkungan.

Kualitas cat berbasis air sama dengan kualitas cat berbasis tiner. Dan, proses pengeringan cat berbasis air berlangsung lebih cepat.

Program cat berbasis air merupakan bagian dari konsep dealer hijau (green dealer) yang telah diterapkan lebih dulu. Di dealer mobil Honda, digunakan pengumpul oli (oil trap) sehingga oli bekas, baik dari mesin maupun dari persneling dan garden, tidak terbuang atau disalurkan ke selokan.

”Eco driving”

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah sumbangan kita sebagai pengguna mobil terhadap lingkungan? Ada dua hal yang dapat dilakukan, yakni, pertama, menyetel mesin mobil secara periodik (misalnya setiap 5.000 kilometer) sehingga pembakaran di dalam mesin berlangsung efektif. Dengan berlangsungnya pembakaran secara efektif, emisi yang dikeluarkan lewat knalpot lebih bersih, sekaligus penggunaan bensin juga lebih efisien.

Kedua, mengendarai mobil secara ekonomis, yakni pergantian gigi persneling dilakukan ketika jarum pada tachometer menunjukkan angka putaran mesin 2.000-2.500 putaran mesin per menit (rpm) untuk mobil bermesin bensin, atau 1.500-1.800 rpm untuk mobil bermesin diesel.

Upayakan agar mobil melaju dengan kecepatan yang konstan. Misalnya, dengan melakukan akselerasi (menaikkan kecepatan) atau deselerasi (menurunkan kecepatan) secara halus. Untuk itu, pengendara harus fokus dan melihat jauh ke depan selama berkendara sehingga akselerasi dan deselerasi berlangsung halus.

Jika kita melakukan kedua hal di atas secara konsisten, maka itu berarti kita sebagai pengguna mobil menyumbang sesuatu terhadap lingkungan. (JL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau