Aryo Wisanggeni
Di tengah kekacaubalauan negeri ini, masih banyak orang yang saling merangkul, berbagi kasih tanpa membedakan latar belakang apa pun.
Marilah kita ke Sanggar Akar di bilangan Kalimalang, Jakarta Timur. Di tempat itu anak-anak jalanan mengasah kepekaan rasa lewat kesenian teater, musik, membaca, diskusi, dan kegiatan lain. Kamis (10/2) lalu, mereka tengah berlatih teater dengan siswa-siswa Sekolah Pelita Harapan Lippo Karawaci. Mereka tengah membaca naskah ”The Prince and The Pauper” karya Mark Twain yang berkisah tentang persahabatan anak raja dan anak kaum papa.
Hari itu Leman (14), yang bergabung dengan Sanggar Akar sejak tahun 2008, seperti segan berakting. Soal nyali, Leman pasti punya. Ia dulu menyabung nyawa mencuri besi tua di Plumpang, juga mengamen di jalanan. Leman juga pernah naik panggung Taman Ismail Marzuki dalam pentas ”Nyanyian Negeri Pelangi.” Namun kali ini saat harus berhadapan dengan teman-teman barunya, ia merasa grogi.
”The King didn't even provide us any jobs! Curse that King Henry! Give me a job and I won’t be in the street begging!" ucap Leman lirih, membaca naskah drama.
Sang putra mahkota, Prince Edward, dikisahkan sedang bersembunyi menguping omongan rakyatnya terkejut.
Kekikukan membaca naskah ”The Prince & The Pauper” bukan hanya dialami Leman. ”Saya juga
Namun Leman, Nuryadi, dan anak-anak Sanggar Anak Akar lainnya akhirnya tertawa bersama para siswa Sekolah Pelita Harapan, menikmati kekikukan mereka bersama-sama. Keceriaan mereka merobek berbagai sekat yang memilah dunia mereka. Antara dunia siswa Sekolah Pelita Harapan yang ”serba nyaman” dan dunia siswa Sekolah Otonom Anak Akar yang ”serba keras”.
”Awalnya kami berjarak dengan anak-anak sekolah yang mengunjungi Sekolah Otonomi Sanggar Anak Akar. Kami merasa mereka orang kaya, punya apa saja, sementara kami orang miskin, tak berpunya,” kata Andri (20), yang sejak 1989 tinggal di Sanggar Anak Akar karena lari dari rumah orangtua.
Cara pandang semacam itu berubah ketika mereka berkomunikasi sebagai manusia, tanpa membawa atribut sosial ekonomi atau lainnya.
”Ternyata mereka iri dengan kehidupan kami yang bebas, kreatif. Kami iri kepada mereka, mereka iri kepada kami, kami dan mereka, kami semua ternyata sama saja,” kata Andri melanjutkan.
Sanggar Anak Akar berdiri atas dasar keyakinan bahwa setiap anak berhak memiliki akses untuk tumbuh dan menjadi manusia yang utuh. Sebagian besar anak yang tinggal di Sanggar Anak Akar adalah anak pemulung, anak jalanan, anak yang lari dari orangtuanya, dan anak-anak yang tidak diketahui asal-usulnya.
”Ada banyak kebijakan makro yang bisa memarjinalkan anak seperti penggusuran, pelarangan becak. Realita ini membuat anak berada di jalanan dan mengalami kehidupan yang keras. Di sanggar Anak Akar, kami mengajak anak hidup bersama, membangun kesepakatan hidup bersama,” kata Susilo Adinegoro, Ketua Yayasan Anak Akar.
Motivasi serupa juga mendasari pengabdian Ketua Yayasan Chairun Nissa, Lies Haryoso (71), selama 40 tahun mengurusi anak-anak yatim piatu dan lansia. Ia yakin anak-anak di mana pun ingin memiliki dan dicintai orangtua. Alhasil, saat ini ada 60 anak putra dan putri yang ditampungnya di panti asuhan, dan sekitar 50 anak di luar panti yang mendapat santunan. Selain itu, Lies juga memberikan antaran makanan setiap hari kepada sekitar 230 orang lanjut usia.
Seperti juga di Sanggar Anak Akar, panti-panti asuhan milik Lies secara kontinu mengajarkan bagaimana hidup bersama. Mereka bukan saja harus berbagi, melainkan juga harus toleran terhadap perbedaan. Dan ia sendiri memberi contoh konkret soal itu—bukan berwacana.
”Panti yang saya asuh memang dikhususkan bagi mereka yang beragama Islam. Tapi kalau saya menemukan anak yatim yang non-Muslim segera saya salurkan pada panti asuhan Nasrani,” kata Lies yang adalah ibu dari Iwan Fals.
”Sesama pengelola panti asuhan kami kompak. Kami kerap pergi bersama-sama. Kalau mereka memiliki kelebihan beras, sementara kita sedang tak punya, biasanya mereka akan bawakan pada kami. Kalau sampai tidak rukun antarsesama panti, ya, susahlah,” kata Lies.
Bagi anak-anak di Sanggar Akar, ketidakrukunan akibat sentimen agama tak pelak menimbulkan pertanyaan kritis, mengapa agama sampai menimbulkan konflik. ”Akhirnya kami menyepakati untuk belajar bersama soal itu, dengan mempelajari sejarah agama di Indonesia. Setiap anak mendapat tugas untuk mencari sejarah agama yang ada di Indonesia dan kemudian mempresentasikannya,” kata Susilo.
Ruang tumbuh dan kesempatan merasa berharga sebagai manusia juga ditumbuhkan oleh Precious One atau P-One yang menampung orang-orang berkebutuhan khusus, para tunarungu. Di ruang aktivitas di bilangan Sunter Garden, Jakarta Utara, para tunarungu mendapat kesempatan bekerja membuat kerajinan seperti tas, tutup galon, tempat tisu, alat peraga pelajaran dan lainnya. Hasil kerja mereka bisa membantu ekonomi para tunarungu yang susah mendapat pekerjaan di negeri ini.
Mereka yang bergabung dengan P-One datang dari berbagai latar belakang. P-One memang membuka tangan lebar-lebar untuk menerima orang dengan kebutuhan khusus, siapa pun mereka.
Ulfa (27), seorang tunarungu, merasa senang mendapat kesempatan berkarya di P-One karena ia bisa membantu ekonomi keluarga. ”Kalau terkumpul modal, aku ingin buka usaha jahitan. Aku ingin membahagiakan orangtua,” kata Ulfa yang ditemui di P-One, Jumat (11/2) siang.
Siti Maspupa (23) merasa senang karena dengan berkarya ia mendapat banyak sahabat, selain juga bisa membantu biaya listrik dan berbagai keperluan hidup orangtuanya yang tidak bekerja.
Precious One yang berdiri tahun 2004 itu melatih dan menciptakan lapangan kerja bagi para tunarungu. Mereka juga memberi kesempatan kepada para pemilik bidang usaha lain guna memberi kesempatan bagi orang-orang berkebutuhan khusus untuk bekerja.
”Tujuan kami adalah memberi kesempatan mereka (orang berkebutuhan khusus) supaya mereka merasa berharga dalam hidup. Mereka dilahirkan sebagai pribadi yang berharga,” kata Ratnawati Sutedjo (37), pengasuh P-One.
Merasa dihargai sebagai manusia seharusnya dirasakan setiap warga di negeri yang katanya merdeka dan beradab ini.