KOMPAS.com - Hosni Mubarak seyogianya mengumumkan pengunduran diri pada Kamis malam lalu. Militer Mesir mengharapkan hal itu juga. Pemimpin baru partai berkuasa, Partai Demokratik Nasional (NDP), sudah memohon bertemu Mubarak agar melakukan itu. Semua yakin hal tersebut akan dilakukan, tapi Mubarak mendadak berubah.
Para penasihat utama dan anggota keluarga Mubarak, termasuk putranya, Gamal Mubarak, sebagai pihak yang paling berpengaruh, tetap meyakinkan Mubarak untuk bertahan dan keadaan bisa diatasi.
Akibatnya, siaran televisi yang diperkirakan akan menayangkan pengumuman pengunduran diri berbalik dengan tayangan televisi berisi keinginan bertahan. Ini kemudian berubah menjadi suatu hal memalukan.
Sikap bertahan Mubarak menaikkan gairah demonstran untuk melanjutkan protes. Sejumlah tentara ikut bergabung dengan pemrotes.
Hari Jumat, pihak militer mulai mengambil sikap lebih tegas, menurut sejumlah sumber anonim yang bertutur kepada kantor berita Associated Press soal detik-detik terakhir Mubarak di Istana Presiden di daerah elite Distrik Heliopolis.
Sumber-sumber itu adalah para editor dan petinggi media pemerintah yang memang amat dekat dengan Mubarak, para pensiunan jenderal, para pejabat tinggi, anggota senior NDP, dan para analis yang paham terhadap mekanisme di lingkaran dalam Mubarak. Sumber-sumber tersebut meminta namanya benar-benar dirahasiakan karena sangat berbahaya bagi keamanan mereka.
Mereka menggambarkan Mubarak sebenarnya sudah tak ingin dan tak mampu lagi bertahan. Bahkan Mubarak yakin hanya kepergiannya yang bisa menyelamatkan negara dari kekacauan akibat aksi protes yang dimulai pada 25 Januari lalu.
Seorang pejabat senior pemerintah mengatakan, Mubarak terkecoh oleh sistem yang berlaku di sekitarnya. Sistem ini membuat Mubarak, yang sedang limbung, semakin tak bisa menilai secara saksama soal perkembangan terkini di negaranya.
”Mubarak memang selama ini tidak pernah menghiraukan pandangan orang lain selain dari Gamal. Ia benar-benar terisolasi. Akibatnya, setiap tindakan Mubarak selalu memperlihatkan keterlambatan.”
Mubarak, misalnya, menunjuk Omar Suleiman sebagai wakil presiden baru dengan tujuan bahwa ia menghentikan aksi protes, yang menggelinding seperti bola salju.
Ada dua opini yang berkembang di lingkaran dalam sebelum Mubarak mundur dengan pergi ke Sharm al-Sheikh. Satu kelompok bergulat untuk memikirkan bagaimana mengakhiri aksi demonstrasi karena keadaan sudah genting. Kubu ini dihadapkan pada keinginan orang-orang terdekat Mubarak, termasuk Gamal, yang tetap menghalangi Mubarak untuk memahami keadaan telah benar-benar genting.
Pada Kamis (10/2/2011), hampir setiap orang di Mesir sudah yakin Mubarak segera mundur, termasuk pihak militer. Stasiun televisi sudah menuliskan pesan bahwa tuntutan demonstran akan dipenuhi segera dalam hitungan jam.
Hossam Badrawi, petinggi NDP, bertemu Mubarak pada hari Kamis itu. Kemudian, kepada pers, ia mengatakan pemimpin Mesir itu segera memenuhi tuntutan para demonstran.
Mubarak tak juga melakukannya. Badrawi yang ditunjuk sebagai ketua baru NDP beberapa hari sebelumnya memilih mundur. Ini adalah sebuah protes terhadap perubahan sikap Mubarak.
Isu kudeta
Tak lama setelah itu, Badan Agung Angkatan Bersenjata kini menguasai sementara pemerintahan Mesir, bertemu tanpa kehadiran pemimpin tertinggi mereka, yakni Mubarak. Dewan ini mengeluarkan pernyataan tentang hak-hak sah para pemrotes. Mereka menyebut-nyebut ”Komunike Nomor 1”. Ini adalah sebuah istilah di dunia Arab yang mengindikasikan potensi kudeta.
Saat dewan bertemu, Menteri Penerangan Anas al-Fiqqi berada di studio televisi bersama Gamal. Mereka menemani Mubarak yang tampil di televisi Jumat lalu hanya untuk menyatakan keinginan bertahan sampai September.
Sebelum Mubarak tampil, televisi pemerintah sudah pula mengutip Al-Fiqqi bahwa Mubarak tak akan mundur. Pada hari Sabtu Al-Fiqqi mundur setelah Mubarak benar-benar mundur pada hari Jumat.
Pengunduran diri Mubarak didorong keberanian pemrotes untuk mendekat, hanya tinggal beberapa meter dari pagar Istana Presiden. Hal ini amat dimungkinkan karena pihak militer memang sengaja membiarkan demonstran melakukan itu. Di Alun-alun Tahrir, demonstran terus berunjuk rasa.
Militer juga mengizinkan pemrotes mengepung stasiun televisi dan radio di Kairo. Saat demonstran mendekat, saat itu pulalah Mubarak dan keluarganya terbang ke Sharm al-Sheikh. Ini mengubah selamanya sejarah Mesir. (AP/MON)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang